Benarkah Indonesia Terjerumus ke Jurang Resesi, Begini Penjelasannya

Benarkah Indonesia Terjerumus ke Jurang Resesi, Begini Penjelasannya

Benarkah Indonesia masuk ke dalam jurang resesi, lalu bagaimana negara lain?

Liputan6.com – Wabah pandemi virus corona (Covid-19) telah berdampak banyak terhadap segala sendi kehidupan. Selain faktor kesehatan, penyebaran virus mematikan ini juga berpengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi global.

Berdasarkan catatan per 31 Juli 2020 lalu, tingkat kematian akibat corona mencapai 3,9 persen. Negara-negara seperti Inggris, Perancis dan Belanda bahkan melaporkan persentase kematian di atas 10 persen.

Berbagai negara besar juga telah terhantam resesi sepanjang semester pertama 2020 akibat pertumbuhan ekonomi minus dua kuartal beruntun. Termasuk Amerika Serikat (AS), Jerman, Perancis, Jepang, hingga negara tetangga Singapura.

Bagaimana dengan Indonesia?

Secara tingkat kematian, Indonesia juga berada di atas rata-rata presentase global, yakni 4,76 persen. Sepanjang semester I 2020, sebanyak 108.376 kasus positif Covid-19 dilaporkan, dengan 5.131 di antaranya meninggal dunia.

Merujuk pada catatan tersebut, Indonesia duduk di posisi 24 dengan tingkat kematian tertinggi di dunia. Satu-satunya negara Asia Pasifik yang peringkatnya lebih tinggi dari Indonesia adalah China, dengan 5,3 persen kematian.

Pada saat bersamaan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga ambruk hingga minus 5,32 persen di kuartal II 2020. Namun Indonesia belum terperangkap dalam lubang resesi, lantaran pertumbuhan ekonominya pada triwulan sebelumnya masih positif 2,97 persen.

Pencapaian Indonesia di sektor kesehatan dan ekonomi tersebut rupanya masih lebih baik dari banyak negara lain. Menurut laporan Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), hanya Taiwan saja yang sepanjang semester I lalu masih lebih baik dari Indonesia.

Jumlah total kasus positif di Taiwan hanya 476, atau 2 kasus per 100 ribu penduduk. Adapun jumlah penduduk Taiwan secara keseluruhan 23,6 juta jiwa.

Dari sisi ekonomi, pertumbuhan di Taiwan pun tercatat hanya minus 0,73 persen di kuartal II 2020. Itu pun negara pulau tersebut belum resesi, karena ekonominya masih tumbuh 1,59 persen pada kuartal pertama.

Tapi, Indonesia masih lebih baik ketimbang Filipina. Secara angka kasus positif saja, negara tersebut saat ini telah mencapai sekitar 252 ribu, lebih banyak dari Indonesia yang 210 ribu kasus.

Namun angka kematiannya masih lebih rendah dari Indonesia, yakni 4.108. Di sisi lain, Filipina pada kuartal II lalu juga pertumbuhan ekonominya terpuruk hingga minus di atas 15 persen.

Di samping Filipina, masih banyak negara lain yang telah jatuh resesi dengan pertumbuhan ekonomi minus lebih dari 10 persen. Ambil contoh Amerika Serikat, yang ekonominya negatif 32,9 persen di kuartal II, memburuk dari triwulan sebelumnya yang minus 5 persen.

Angka kematiannya pun jadi yang tertinggi di dunia, dimana 197.421 warganya meninggal dari total 6,63 juta kasus positif Covid-19.

Sementara Perancis, Inggris dan Italia mencatatkan tingkat kematian dan penurunan ekonomi yang lebih buruk. Secara angka kematian akibat corona, ketiga negara telah lebih dari 30 ribu kasus.

Untuk pertumbuhan ekonomi, Perancis pada kuartal kedua negatif 13,8 persen, atau lebih parah dibanding pada triwulan pertama uang minus 5,9 persen.

Inggris lebih parah, lantaran ekonominya tumbuh negatif 20,4 persen sepanjang kuartal II 2020. Sebelumnya, Inggris mengalami kontraksi 2,2 persen di kuartal I 2020.

Italia juga mengalami resesi. Pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi negara tersebut minus 17,3 persen. Sedangkan di kuartal pertama ekonominya juga tumbuh negatif 5,5 persen.

Pertumbuhan Ekonomi Dipatok 5 Persen di 2021

Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II/2020 minus 5,32 persen akibat perlambatan sejak adanya pandemi COVID-19.

Pemerintah menetapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen di 2021. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN), pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan berada pada kisaran 4,5 persen sampai 5,5 persen.

“Pertumbuhan ekonomi 4,5 – 5,5 persen tahun 2021 telah ditetapkan titiknya adalah di 5 persen,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, saat rapat bersama Badan Anggaran DPR RI, Jakarta, Jumat (11/9/2020).

Bendahara Negara ini mengatakan, keputusan yang diambil dalam kesepakatan Panja sangat tepat. Asumsi pertumbuhan ekonomi di titik 5 persen tersebut menggambarkan antara harapan namun juga kehati-hatian terhadap kondisi 2021.

“Diakui dengan adanya perkembangan Covid terutama akhir-akhir ini kita melihat eskalasi ketidakpastian meningkat untuk tahun 2020 dan masih akan berlangsung di 2021. Sehingga kita memang patut waspada namun tidak kehilangan fokus untuk optimis dalam hadapi masalah,” terang dia.

Sementara itu, inflasi dan nilai tukar Rupiah tidak mengalami perubahan dari RAPBN 2021 yang disampaikan sebelumnya. Di mana inflasi dipatok sebesar 3,0 persen dan Rupiah Rp14.600 per USD.

“inflasi 3 persen sesuai RUU yang disampaikan pak presiden. Nilai tukar Rupiah Rp14.600 masih sama yang disampaikan RUU APBN 2021,” jelas dia.

Tak hanya itu, tingkat suku bunga SBN 10 tahun, harga minyak mentah Indonesia, lifting minyak bumi juga tidak mengalami perubahan. Di mana masing-masing berada di posisi 7,29 untuk SBN, USD 45 per barel harga minyak mentah Indonesia, dan USD 705 per barel untuk lifting minyak bumi.

“Yang berubah adalah cost recovery yang menurun dari USD 8,5 miliar, menjadi USD 8 miliar. Turun USD 500 juta,” jelas dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu melanjutkan, untuk sasaran dan indikator pembangunan tidak banyak berubah dalam RAPBN 2021. Di mana tingkat pengangguran dalam rentang 7,7 – 9,1. Tingkat kemiskinan dalam 9,2 – 9,7, gini ratio indeksnya 0,377-0,379, dan IPM 72,78 – 72,95.

Sementara untuk dua sasaran pembangunan yang juga diminta oleh DPR, Banggar maupun di Komisi XI, yakni tentang nilai tukar petani 102 dan nilai tukar nelayan 104.

“Ini adalah yang jadi basis asumsi kita untuk menghitung dari apbn 2021 dan sekaligus ada beberapa target pembangunan,” tandas dia. (*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *