Jokowi tak Berdaya, Waketum Gerindra Mendesak Perjanjian dengan China Dibuka ke Publik

Jokowi tak Berdaya, Waketum Gerindra Mendesak Perjanjian dengan China Dibuka ke Publik

Jokowi tak berdaya oleh gempuran tenaga kerja asing dari China.

Konten.co.id – Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China terus berdatangan ke Indonesia meski kerap mendapatkan penolakan. Herannya lagi, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) seolah tak berdaya melihat gejolak yang sedang terjadi.

Hal tersebut menimbulkan kecurigaan, Jokowi terikat oleh perjanjian investasi dengan China. Oleh sebab itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono mendesak agar perjanjian investasi dengan China dibuka ke publik.

“Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) jadi persoalan. Perpres yang memudahkan TKA masuk ke dalam negeri itu sebagai ancaman bagi masyarakat usia produktif di Indonesia,” kata Ferry Juliantono, Senin (4/5/2020).

Ia melanjutkan, Perpres 20 tahun 2018 mengancam buruh atau pekerja di Indonesia. Pasalnya menurut dia, pengangguran di negeri ini sangatlah banyak.

“Alih-alih mencarikan pekerjaan buat mereka, pemerintah malah mempermudah akses bagi para pekerja asing,” ucapnya.

Parahnya lagi, kata dia, TKA yang notabene pekerja kasar dari Tiongkok tersebut malah diupah dengan angka jauh di atas rata-rata pekerja domestik. Padahal secara hitung-hitungan ekonomi, angka itu sangat tidak masuk akal karena merugikan perusahaan yang mempekerjakan mereka.

“Ini motifnya mungkin bukan motif ekonomi. Kita lihat saja waktu itu ada beberapa pekerja Tiongkok yang masuk ke areal terlarang di Halim Perdanakusuma (Pangkalan Udara),” jelasnya.

Namun saat itu aparat maupun pemerintah seakan tidak mau ambil pusing. Menurut dia, Presiden Jokowi harus buka-bukaan terkait isi perjanjian bilateral pemerintah RI-Tiongkok.

“Sampai sekarang kita belum tahu apa isinya. Lebih baik dibuka saja ke publik,” imbuhnya. (*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *