Kerap Menebar Penyakit, Kampret Diburu Ilmuwan Dunia

Kerap Menebar Penyakit, Kampret Diburu Ilmuwan Dunia

Ilmuwan dunia memburu kampret untuk diteliti karena kerap menebar inang penyakit.

Kerap Menebar Inang Penyakit, Kampret Diburu Ilmuwan Dunia untuk Diteliti

Konten.co.id – Kampret atau kelelawar kerap dikaitkan dengan penyebaran wabah penyakit. Belakangan ini, inang virus corona pun disebarkan hewan malam hari ini.

Itu sebabnya, para ilmuan di dunia memburu kampret untuk diteliti musabab penyebaran virus melalui kampret.

Dilansir dari cnbc.com, Ilmuwan yang bergabung dalam NGO asal Amerika Ecohealth Alliance membentuk tim kecil yang diutus untuk memburu hewan tersebut, sampai ke gua-gua yang berada di China untuk mendeteksi kemungkinan adanya virus baru dan antisipasi pandemi. 

Melansir CNN Internasional, tim kecil yang dibentuk ini menggunakan APD lengkap atau hazmat , masker, dan sarung tangan. Mereka harus kontak dan mendapatkan liur serta air seni si kampret, yang kemungkinan membawa virus mematikan.

Di kepala tim pemburu kampret, masing-masing memiliki alat pencahayaan. Mereka menunggu matahari terbenam untuk masuk gua yang berada di Yunan, China. Begitu matahari terbit dan kelelawar kembali ke sarang mereka, tim pemburu langsung beraksi. 

Di dalam gue, mereka sudah memasang jaring untuk menangkap kelelawar. Binatang yang terperangkap kemudian akan dibius, untuk diambil sample darahnya dari sayap mereka. “Kami juga bawa alat untuk swab oral dan kotoran mereka, serta mengkoleksi liur juga,” ujar salah satu ilmuwan di Ecohealth Science Peter Daszak, seperti dikutip dari CNN Internasional, Selasa (28/4/2020). 

Peter sendiri memang pemburu virus, selama 10 tahun ini ia telah mengunjungi 20 negara untuk mencegah pandemi berikutnya. Belakangan, pemburuannya fokus ke gua-gua kelelawar untuk meneliti pathogen baru khususnya jenis virus corona. 

“Kami telah memiliki sample 15 ribu kelelawar, dan mengarah ke identifikasi 500 jenis baru virus corona,” kata dia. 

Salah satu virus yang ia temukan di China pada 2013, menurutnya persis seperti covid-19 dan bisa jadi memang asal mulanya. 

Para peneliti ini memulai proyek mereka sejak wabah SARS melanda dunia pada 2003 lalu. Namun saat itu riset soal corona tidak menarik perhatian. 

“Itu belum jadi cabang penelitian yang seksi,” ujar virologist Wang Linfa dari Duke-NUS di Singapura, yang mengembangkan alat penelitian untuk analisa sample kelelawar dari Ecohealth Alliance. 

Sampai saat ini , tim telah mendeteksi setidaknya 5 virus corona yang bisa menjangkiti manusia termasuk covid-19. Peter Daszak memprediksi ada sekitar 15 ribu virus corona, namun baru beberapa ratus yang diketahui. Lembaganya memang fokus penilitian di China, terutama di kawasan Yunnan yang terkenal dengan populasi kelelawar yang besar. 

“Kami memang awalnya menargetkan China karena ini tempat bermulanya SARS,” jelas Peter. “Lalu kami menyadari bahwa saat inu ada ratusan virus corona yang berbahaya jadi kami mulai berpencar untuk menemukan mereka,” jelasnya. 

Saat ini, tim pemburu virus pada kelelawar meneliti leih di 31 negara. Salah satu tim yang juga berkontribusi adalah dari Smithsoinia Institution yang fokus di Kenya dan Myanmar. “Sejauh ini kami sudah temukan 6 virus corona di Myanmar,” kata anggota tim, Suzay Murray. (*)

Berita Pilihan :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *