Praktek Budaya Tahunan di Watu Pinawetengah Minahasa

Praktek Budaya Tahunan di Watu Pinawetengah Minahasa

1000 tahun sebelum masehi para terdahulu Minahasa berserta 9 suku berkumpul di tempat ini, kini setiap tanggal 3 Januari tempat ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, ormas adat, budayawan dan sejarawan.

Jangan Terlewat! Praktek Budaya Setiap 3 Januari di Watu Pinawetengan Minahasa

Konten.co.id – Setiap tanggal 3 Januari masyarakat adat Minahasa rutin menggelar praktek adat Watu Pinawetengah (batu pinabetengan). Tujuan utama praktek adat ini adalah sebagai bentuk syukur kepada Opo Wananatas atau Sang Pencipta dan bentuk penghormatan terhadap para leluhur Minahasa.

Lokasi watu pinabetengan berada di desa Pinabetengan, kecamatatan Tompaso, kabupaten Minahasa. Area watu pinawetangan juga menjadi daerah yang disakralkan dan dihormati masyarakat Minahasa.

Menurut kepercayaan masyarakat Minahasa, tempat tersebut menjadi tempat para leluhur dari 9 etnis Minahasa untuk berkumpul dan berunding.

Pada mulanya sebelum disebut sebagai Minahasa, wilayah ini dikenal dengan nama tanah Malesung. Masyarakat Malesung memiliki pemukiman yang terpencar-pencar dengan hidup berkelompok, kondisi yang terpencar itulah yang menyebabkan masyarakat Melesung kesulitan dalam berkomunikasi dengan kelompok lainnya.

Kondisi tersebut menyebabkan kelompok tidak bisa mempertahankan diri dari serangan dari luar karena berada terpencar dan tidak bersatu.

Kondisi pertentangan lahan pertanian dan berburu pun menjadi permasalahan, kelompok lain yang memasuki wilayah tidak serta merta bisa berburu di area wilayah lain, sehingga masing-masing mempertahankan wilayahnya kelompoknya sendiri.

Melihat kondisi permasalahan yang sering terjadi itu, maka leluhur atau para tonaas tanah malesung memutuskan untuk mencari suatu tempat untuk pertemyan antara pemimpin suku, hal tersebut dilakukan untuk mengatasi masalah apapun yang terjadi di tanah Malesung.

Watu Pinawetengan

Kemudian ditemukanlah satu tempat yang lokasinya disebuah bukit bernama Tonderukan, bukit itu berdasarkan cerita rakyat disebut dengan Watu Rerumeran ne Empung atau batu-batu tempat para leluhur. Dilokasi itu terdapat sebuah batu besar yang kemudian batu tersebut dijadikan tempat berkumpul.

Di batu itu para pemimpin sub etnis Tou Malesung berikrar untuk menjadi satu atau menjadi satu Tou Minahasa, Mina berarti “menjadi” Esa berarti “satu” sehingga berlakulah kata Minahasa.

Ari Ratumbanua seorang penjaga Watu Pinawetengan mengatakan terbentuknya Minahasa adalah 1000 tahun sebelum masehi, yang mana terjadi pembagian sembilan subetnis Minahasa yang meliputi suku Tontembuan, Tombulu, Tonsea, Tolowur, Tonsawang, Pasan, Ponosakan, Bantik dan Siao. Maka tak aneh jika namanya berubah menjadi Watu Pinawetangan yang memiliki arti Batu Tempat Pembagian.

Selain membagi wilayah, para tetua suku-suku tersebut juga menjadikan tempat ini untuk berunding mengenai semua masalah yang dihadapi. Batu besar itu juga dikatakan sebagai pondasi berdirinya subentis yang ada di Minahasa.

Praktek Adat

Setiap tanggal 3 Januari berbagai elemen masyarakat Minahasa Antusias mengikuti acara itu, bahkan menjadi wisata tahunan bagi para pelancong untuk menyaksikan praktek adat di Watu Pinawetengan.

Setiap tahunnya praktek adat dihadiri oleh berbagai ormas adat, budayawan dan sejarawan. Sesuai makna tempatnya, lokasi ini dalam sejarahnya sebagai tempat leluhur Minahasa bersatu, demikian juga setiap tahunnya lokasi ini masih didatangi berbagai elemen masyarakat yang ada di tanah Minahasa yang peduli dengan budayanya.

Dalam batu itu terdapat goresan-goresan yang membentuk motif yang dipercayai sebagai hasil dari perundingan suku-suku itu.

Motifnya ada yang berbentuk gambar manusia, gambar seperti alat kemaluan laki-laki dan perempuan, motif daun dan kumpulan garis yang tak beraturan tanpa makna. Namun hingga kini arti goresan-goresan itu masih sulit diartikan oleh para arkeolog. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar pun bentuk batu ini seperti orang yang tengah bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pernah Hilang

Bencana alam di masa lalu pernah menghilangkan batu ini, terkubur dalam tanah, namun pada akhirnya, batu ini ditemukan kembali oleh Johhan G.F. Riedel, seorang penulis buku “Inilah Pintu Gerbang Pengetahuwan Itu, (1874)”

Dengan bantuan masyarakat setempat Riedel akhirnya menemukan batu itu dan pada tahun 1888 dilakukanlah penggalian. Riedel dan rekannya J.A.T Schwartz sebelumnya melakukan analisa tentang lokasi batu itu, dan ternyata analisanya berhasil.

Tidak jauh dari batu utama, juga terdapat juga dua batu yang memiliki nama, yakni watu Kopero dan watu Siou Kurur. Keduanya dikenal sebagai nama salah satu dari leluhur-leluhur Minahasa

Saat ini wisatawan dapat mengunjungi lokasi wati pinawetengan kapan pun, tentunya dengan aturan yang telah ditetapkan salah satu contohnya adalah melepas alas kaki sebelum masuk ke area watu. Tempat itu kini menjadi cagar budaya kebanggan rakyat Minahasa, selain tanggal 3 Januari, lokasi ini juga menggelar upacara adat tahunan yang dilaksanakan setiap tanggal 7 Juli.

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Berita Pilihan :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *