Ferry Sonneville, Peran yang Menjawab Cita-Cita Soekarno

Ferry Sonneville, Peran yang Menjawab Cita-Cita Soekarno

Pembulu tangkis Indonesia Tan Joe Hok pernah mengatakan bahwa Ferry adalah sosok manusia bersahaja yang mampu bergaul secara global “ia berdarah Belanda, Cina dan Indonesia, tetapi nasionalismenya tak diragukan”.

Ferry Sonneville, Tiga Darah Campuran yang Bersatu dalam Satu Tubuh Nasionalisme

Konten.co.id – Namanya Ferry Sonneville atau bernama lengkap Ferdinand Alexander Sonneville, seorang laki-laki yang lahir di Jakarta 3 Januari 1931. Di masa mudanya ia rela mengorbankan kuliahnya di Amerika untuk membela tim Indonesia pada Piala Thomas pertama kali tahun 1958.

Pemberian vandel kepada tim Piala Thomas tahun 1964 –
Barisan dari kiri ke kanan adalah Ferry Sonneville, Tan Djoe Hok, Ang Tjin Siang, tidak diketahui, Tutang Djamaluddin, dan Tan King Gwan atau Liem Cheng Kiang (sumber : museummiliterku)

Perjuangannya yang tak kenal lelah dan fokus, mampu mempertahankan Piala Thomas tiga kali berturut-turut yakni tahun 1958, 1961 dan 1964. Kecintaannya pada raket mampu menanamkan pondasi kuat pada perkembangan bulu tangkis di Indonesia.

Rombongan Indonesia yang sampai di Wisma Indonesia, Tokyo dalam Piala Thomas 1964, dari kanan ke kiri: Siti Hadijah (istri Maladi), Maladi, Bambang Soegeng, tidak diketahui, Ferry Sonneville, Tan Djoe Hok, Eddy Jusuf, Liem Cheng Kiang, tidak diketahui . (sumber : museummiliter)

Selain juara Thomas Cup, kepiawaian nya yang kian moncer mampu menjuarai kompetisi penting seperti, juara Belanda Open (1995-1961), juara Glaslow (1957), juara Perancis Open (1959-1960), juara Kanada Open (1960), Runner Up All England (1959).

Tak hanya badminton yang ia tekuni, Ferry juga menjadi salah satu orang yang mempopulerkan bela diri judo dan jiu jitsu di Indonesia.

Tepatnya di tahun 1953 ia mendirikan Judo dan Jiu Jitsu Club Djakarta, dan dirinya menjadi ketua umum di klub tersebut.

Ferry pernah mengenyam pendidikan di Hogere Burger School, HBS Nassasau Boulevard Jakarta (1946-1951), Universitas Indonesia (1951), dan Erasmus University Belanda (1955-1963)

Kiprah Organisasi

Kiprahnya dalam dunia olahraga kian memuncak ketika ia banyak dipercaya untuk menahkodai organisasi-organisasi penting di Indonesia, seperti jabatannya sebagai Ketua Umum KONI pada tahun 1970. Ferry juga terlibat dalam pendirian Komite Olahraga Nasional (KONI).

Selain itu, beberapa jabatan yang pernah dipegangnya antara lain, Ketua Umum Real Estat Indonesia (1985-1988) anggota Pengurus Asian Games Federation Council (1970), Chief de Mission tim Indonesia ke Olympiade (1971) dan Munchen (1972), Ketua Umum PBSI (1981-1985), dan World President FIAC (1995).

Puncak tertinggi dalam dunia badminton yang pernah dijabatnya adalah pada tahun 1971, ia menjadi orang pertama Asia dan Indonesia yang mampu menjabat sebagai Ketua Badminton World Federation (BWF).

Badminton World Federation adalah organisasi internasional yang mengurusi badminton di seluruh dunia. Didirikan sejak tahun 1934, awalnya berpusat di Inggris, namun sekal Oktober 2005 kantor pusat BWF hijrah ke Malaysia. Ferry Sonneville menjabat sebagai Presiden BWF tahun 1971 hingga 1974.

Meninggal Dunia

Subuh hari 22 November 2003 langit Jakara begitu sendu mengiringi kepergian putra terbaik bangsa, Ferry Sonneville. Ia menutup mata pada usia 72 tahun di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC) Jakarta. Pahlawan tiga kali Thomas Cup itu meninggal karena komplikasi penyakit Leukimia atau kanker darah dan usus yang dideritanya sejak 2002.

Pemerintah Indonesia memberikan penghargaan atas semua karya dan jasa kepada bangsa dan negara dalam bentuk Anugrah Satya Lencana Kebudayaan (1961), Tanda Jasa Bintang RI Kelas II (1964).

Dari masyarakat internasional dia menerima ”Knighthood” dari Gereja Katolik Roma (1972) dan FIABCI Medal of Honour, Melbourne (1988).

Pembulu tangkis Indonesia Tan Joe Hok pernah mengatakan bahwa Ferry adalah sosok manusia bersahaja yang mampu bergaul secara global “ia berdarah Belanda, Cina dan Indonesia, tetapi nasionalismenya tak diragukan,” kata seorang yang mengalahkan Ferry Sonneville di partai final turnamen All England tahun 1959.

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Berita Pilihan :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Video

Berita pilihan