Seventeen dan Ingatan Tsunami Banten Setahun yang Lalu

Seventeen dan Ingatan Tsunami Banten Setahun yang Lalu

Mas jangan tarik badan saya, tarik mejanya! kalo tarik badan saya kita mati! Kita mati!” Teriak Ifan saat dirinya terombang ambing ditengah lautan.

Seventeen : Ingatan Tsunami Banten Setahun yang Lalu

Konten.co.id – Setahun berlalu peristiwa tsunami yang menerjang Banten dan pesisir Lampung, Sabtu 22 Desember 2018 banyak menyisakan perasaan pilu di hati masyarakat Indonesia. Sedikitnya 430 orang tewas dan 2.202 terluka dan 156 orang hilang akibat peristiwa itu.

Badan Meteorologi , Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa tsunami tersebut disebabkan oleh letusan Gunung Anak Kratakau di Selat Sunda. BMKG memverifikasi bahwa terjangan tsunami terjadi sekitar pukul 21.30 WIB.

Sebelumnya, sore itu 22 Desember langit di pantai Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang Banten nampak begitu khas dan cerah. Beberapa orang terlihat sedang mempersiapkan panggung untuk penampilan Band Seventeen di malam harinya.

Sembari menunggu perfomnya, crew Seventeen menikmati indahnya pantai dan eloknya langit sore itu. Beberapa peserta Empyotee Gathering PLN yang mengundang Seventeen pun terlihat sibuk dengan keasyikannya menikmati pantai.

Malam yang ditunggu-tunggu pun tiba, panggung sudah siap untuk menggelar live musik. Pembawa acara begitu bersemangat pada malam itu, semua orang terlihat bahagia.

“Kita sambut Seventeen!” Ucap sang pembawa acara. Riuh tepuk tangan peserta Gathering pun menyelimuti setiap sudut pelaksanaan acara.

Mereka pun langsung naik ke atas panggung, Awal Purbani alias Bani, segera meraih bassnya, Herman pun dengan bersemangat mengalungkan gitarnya, Andi dengan tenang bersiap tampil mulau duduk menguasi drum, sementara Ifan sang vokalis, menyapa penonton yang hadir.

Satu lagu berhasil mereka bawakan, beberapa orang mulai mendekati dan berdiri di depan panggung, Seventeen masih memainkan musiknya untuk masuk ke lagu yang kedua.

“We are Seventeen! Seventeen!” Teriak Ifan, ia pun membelakangi penonton untuk mempersiapkan lagu keduanya. Beberapa detik setelah dirinya membalikan badan, panggung ambruk tersapu tsunami, sontak Ifan dan teman-temannya tergulung dengan segala material yang ada dipanggung.

Ifan tidak mengerti apa yang terjadi padanya, ia terbanting-banting digulung air, terlilit kabel dan dihantaman besi panggung. Ia kesulitan mencari jalan keluar, sebuah tali melilit tubuhnya, namun ia berhasil naik ke atas permukaan air.

Ketika ia berhasil timbul diatas air, terdengar teriakan “tsunami! Tsunami!”. Dirinya yang sudah jauh terseret dari bibir pantai. Namun tiba-tiba air kembali menarik dirinya ke arah laut. Ia pun mencoba mencari perlindungan dengan berpegangan pada apapun yang bisa ia pegang, namun usahanya itu tidak membuahkan hasil, ia semakin jauh terlempar ke laut.

Dua Jam Bertahan Hidup di Tengah Laut

Ratusan orang pun ikut terseret dengan Ifan, mereka yang mencoba menyelamatkan diri saling tarik menarik dalam kepanikan. Beberapa korban mencoba meraih tubuh Ifan dari dalam air, beberapa orang lain menarik rambutnya. Mereka saling timbul lalu tenggelam lagi.

Ifan lalu meraih meja makan yang ikut tersapu tsunami, ia pun aman dipermukaan air dengan berpegangan pada meja makan, namun saat dirinya sudah aman, ada seorang laki-laki yang menarik tubuh Ifan dengan niat meminta perlindungan.

“Mas jangan tarik badan saya, tarik mejanya!, kalo tarik badan saya kita mati! Kita mati!” Teriak Ifan pada laki-laki itu.

Laki-laki itu pun lalu meraih meja yang dipegang Ifan, namun meja itu hanya cukup mengapungkan satu orang, kemudian datang orang berbeda dengan niat meraih meja yang sama, dan mereka tenggelam kembali.

Tenggelamnya Ifan untuk yang kesekian kalinya cukup membuatnya tidak berharap lagi untuk hidup. Ia ingat dengan kematiannya. “Ya Allah inilah akhirnya..” tubuh Ifan tak sanggup lagi menahan derasnya gelombang laut yang teramat ektrem.

Dengan segala kesadarannya, hatinya mengucap kalimat syahadat, dengan nafas yang tertahan di dalam air, hatinya berucap “Ashadualla ilaa haillallah..”

Sebuah Kotak

Tiba-tiba tangannya kembali meraih sebuah alat, kali ini sebuah kotak sound. Ia pun kemudian meraihnya dan kembali berada dipermukaan laut. Ifan dengan sekuat tenaga menghirup udara. Terdengar beberapa orang teriak minta tolong, menangis dan takbir.

Lima orang yang memengang kotak tersebut, ifan salah satunya. Kemudian suasana menjadi hening, perlahan-lahan mereka berenang ke arah pantai dengan bantuan sebuah kotak.

Namun tenaga mereka tidak lagi kuat untuk menuju bibir pantai, seorang diantara mereka maraih material lain untuk mengurangi beban pada kotak. Disekeliling Ifan pun terlihat banyak orang yang sedang menyelamatkan dirinya masing-masing dengan pegangannya sendiri.

Setelah dua jam terombang-ambing dilaut, seorang-seorang mereka mengembuskan nafas terakhirnya, diduga karena kelelahan dan tak sanggup lagi bernafas dengan gelombang air yang deras.

Ifan menyaksikan satu persatu korban meninggal dunia. Bulan dan bintang dengan langit cerah saat itu menjadi saksi perjuangan ratusan jiwa untuk bertahan hidup.

Perlahan-lahan Ifan dan dua orang yang bersama-sama memegangi kotak, akhirnya tiba di bibir pantai. Ia kemudian dilarikan ke klinik untuk diberi pertolongan medis.

Sesampainya di klinik, Ifan merasa sehat dan ia merasa tidak layak berada di klinik tersebut, ia memutuskan pergi ke rumah warga dengan maksud mandi. Di rumah warga itu ia diberi baju dan sarung juga sendal jepit.

Disaat orang lain pergi menjauhi pantai, Ia lebih memilih untuk kembali ke bibir pantai, mencari teman-temannya yang entah dimana keberadaannya, mencari istri dan adiknya.

3 Hari Pencarian

Dini hari sekira pukul 01.00 WIB Ifan terus menyisir keberadaan teman-temannya, ia shock ketika mendapati temannya, Aa Jimmi dan Bani telah meninggal dunia.

Setelah kedua jenazahnya diamankan ia pun segera mencari teman yang lain dan istrinya. Hujan deras di dini hari itu, semakin membuat suasana hati Ifan tak menentu.

Kemudian, Herman sang gitaris dan Andi ditemukan pada Minggu 23 Desember 2019, Sore hari.

Setelah pencarian selama tiga hari dengan kesimpang isuran informasi keberadaan istrinya yang tak menentu, Ifan akhirnya menemukan sang istri. Namun istrinya Dylan Sahara yang ditemuinya itu sudah meninggal dunia.

Campur aduk perasaan Ifan, dielusnya sang istri. “Kamu cantik” Ucap Ifan.

Ifan pun segera mengabarkan pada unggahan video Instastorynya @ifanseventeen.
“Alhamdulillah kita sudah semobil lagi. Yuk pulang @dylan_sahara,” tulis Ifan di Insta Storynya, Senin malam.

“Pulang ya, sama-sama kita semobil lagi, bismillahirrahmanirrahim, Laa ilaaha illallah,” ujar Ifan lirih sambil mengelus keranda istrinya.

Minta tolong kirimin al-fatihah ya buat istriku @dylan_sahara InsyaAllah husnul khotimah. Allahumma amin,” tulisnya. (*)

Sementara itu di Lampung Selatan, Desa Kunjir, Way Muli, dan Canti, menjadi desa yang paling terdampak bencana. Dikutip dari Republika, salah satu kesaksian warga, bahwa di Way Muli, dalam waktu 4 menit, tsunami menghancurkan rumah-rumah yang ada. Gulungannya begitu tinggi, menggemuruh, dan terlihat ada kilat api. Desa yang semula memang padat penduduk dan rumah, menjadi rata dengan tanah

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *