Sepenggal Kisah Haru Susi Pudjiastuti Saksi Dua Tsunami

Sepenggal Kisah Haru Susi Pudjiastuti Saksi Dua Tsunami

Mantan menteri Susi Pudjiastuti jadi perhatian netizen karena kisah harunya.

Kisah Haru Susi Pudjiastuti Jadi Saksi Tsunami Aceh dan Pangandaran

Konten.co.id – Mantan menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kini jadi sorotan. Kali ini bukan karena twitt war dengan akun propaganda, atau soal ekspor benih lobster.

Tapi karena cuitannya tentang peristiwa tsunami Aceh 26 Desember 2004. Karena dinilai memiliki sebuah kisah yang sangat mengharukan.

“Hari ini 26 Desember 2019; Mengenang 15 tahun yg lalu Tsunami Aceh Terjadi; banyak duka, lara, kehilangan yg tak mungkin bisa dikembalikan. Namun Masyarakat Aceh tetap maju meneruskan membangun Aceh yg lebih baik. Semoga Tuhan selalu menjaga, melindungi kita. Amin YRA”

Cuitan ini pun mendapat respon dari netizen. Banyak yang bersimpati dengan cuitan Susi. “ In memoriam sy salah satu (alhamdulillah) korban selamat Gempa Tsunami Aceh 2004 luka itu masih ada, dan tetap ada :)” cuit @putriraaam.

“ratunya pantai selatan mungkin nyi roro kidul tapi ratunya laut indonesia ya bu
@susipudjiastuti” cuit @maraputanamema.

Sementara akun @RubyAhmad18 mencuitkan kalau Susi Air adalah yang pertama kali ngotot datang ke Aceh memberikan bantuan. “Dan Susi air yg pertama kali ke Meulaboh ..saya relawan waktu itu”

Lalu ada apa dengan Susi dan tsunami khususnya di Aceh?

Siapa sangka sosok wanita lulusan SMP ini pernah menerjang dua tsunami. Yaitu di Aceh dan Pangandaran.

Saat tsunami Aceh dan pantai barat Sumatera pada 2004 silam, Susi menjadi orang pertama yang berhasil mendarat di Aceh yang terisolasi untuk menyalurkan bantuan.

Setelah terjadi tsunami 26 Desember 2004, bantuan kemanusiaan mengalir deras. Baik dari dalam maupun luar negeri.

Namun bantuan tersebut tak bisa masuk ke Aceh. Semua menumpuk di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Amuk tsunami telah memporak-porandakan akses darat, sehingga bantuan tak bisa disalurkan.

Karena banyak daerah terisolasi, Susi berinisiatif mngirimkan bantuan melalui pesawat udara. Bersama suaminya, Christiant, Susi terbang menggunakan Cessna Caravan.

Satu-satunya pesawat yang dia operasikan melalui bendera PT ASI Pudjiastuti. Daerah pertama yang dituju oleh ibu tiga anak ini adalah Pulau Simeuleu, yang merupakan pulau terdekat dari pusat bencana.

Namun, ia tidak bisa langsung masuk ke pulau itu, karena masih dinyatakan tertutup pada Senin itu. Pesawatnya baru bisa mendarat di Pulau Simeuleu pada hari ke dua. Susi menjadi orang pertama yang berhasil mendarat di Aceh.

Ada sebuah kisah lucu saat menyalurkan bantuan tsunami yang menajdi inspirasinya membangun Susi Air.

Saat berada di Bandara Sultan Iskandar Muda, dia melihat seorang pria relawan dari Eropa mondar-mandir di apron bandara, sambil memanggil-mangil nama Susi. ” Susi…! Susi, where are you?”

Merasa namanya dipanggil, Susi datang menghampiri pria itu. ” Anda mencari Susi? Saya ini, Susi!” tutur dia.

Tetapi, pria itu malah menggelengkan kepala dan mengatakan mencari Susi Air. ” Maaf, bukan. Bukan kamu. Saya mencari Susi, Susi Air. Di mana perwakilan kantornya di sini?”

Susi pun tersenyum. ” Tidak ada Susi Air, Sir! Apalagi kantornya! Yang ada cuma Susi, ya, saya ini!”

Pria itu akhirnya paham, Susi itulah yang memiliki pesawat Cesssna untuk mengantarkan bantuan. “Oke, oke! Kamu, Susi punya Cessna? Good! Bisa bantu drop logistik kami?”

“Boleh saja, nanti setelah pesawat saya itu balik lagi ke bandara ini. Tetapi, Anda harus ganti minyaknya (bahan bakar), ya,” jawab Susi. “Ya, ya, tentu. Kami bayar, kami sewa,” jawab relawan Eropa itu.

Dilansir dari merdeka.com, Susi juga menyebut, tanpa ikut serta dalam penanganan tsunami Aceh 2004, dia tidak akan siap menghadapi bencana kampungnya sendiri yaitu di Pangandaran ketika dilanda tsunami 2006 lalu.

“Apa yang harus disiapkan, apa yang harus dilakukan. Saya belajar dari tsunami Aceh, untuk melakukan hal lebih baik dua tahun kemudian.”

Susi kembali mengingat, ketika bencana di Pangandaran sedikit sekali bantuan datang. Pasalnya, tsunami Pangandaran tidak dinyatakan pemerintah sebagai bencana nasional.

“Ada ratusan korban. Banyak yang perlu diamputasi namun rumah sakit penuh karena terbatas. Mereka tidak bisa dibawa, kami sedih sekali, sangat banyak keterbatasan, karena tidak masuk sebagai bencana nasional,” kenangnya.

Oleh karenanya dia kembali menajdi orang yang pertama menyalurkan bantuan. Kisah harunya kini menjadi sebuah kenangan. (*)

Penulis : Ade Indra

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *