Sejarah berulang di Tragedi Bintaro 2

Sejarah berulang di Tragedi Bintaro 2

Tragedi Bintaro 2 mengingatkan kembali Tragedi kecelakaan KA (Bintaro 1) pada 32 tahun silam, yang belum luput dari ingatan masyarakat tanah air.

Tragedi Bintaro 2, Mengulang Sejarah 32 Tahun Silam

Konten.co.id – Pagi itu Senin 9 Desember 2013 cuaca cerah menyelimuti kawasan Serpong dan sekitarnya, orang-orang berlalu lalang menjalani hari diawal minggu untuk kembali bekerja, kawasan Stasiun Serpong pun demikian padatnya.

Masinis Darman Prastyo dan Agus Suroto asistennya terlihat sibuk mempersiapkan keberangkatan KRL Commuter Line jurusan Serpong – Tanah Abang dengan nomor 1131. Kereta dijadwalkan berangkat pukul 11.01 WIB, namun asisten masinis mengabarkan bahwa ada kerusakan di bagian AC kereta, keberangkatan pun terpaksa diundur beberapa menit guna memperbaiki kerusakan tersebut.

Kerusakan mampu teratasi dengan baik, kereta siap untuk berangkat, masinis dan asistennya mulai fokus mempersiapkan laju kereta, pintu kereta serentak menutup rapat dirinya. Para penumpang mulai sibuk dengan dirinya sendiri, beberapa orang terlihat asyik memegangi ponselnya, beberapa orang lain terlihat menikmati musik dari Earphone yang dipasang di telinga mereka.

Penumpang perempuan mulai berjalan masuk ke gerbong paling depan yang dikhususkan untuk perempuan, beberapa perempuan yang tidak mendapat bagian di gerbong depan, mulai duduk di gerbong dua, tiga dan seterusnya.

Setiap pintu gerbong dijaga petugas yang berdiri setia sampai tujuan, sesekali ia menengok jendela kereta, seperti sedang mengingat masa lalu yang berlalu begitu saja, seperti kereta yang ditumpanginya yang mulai melaju perlahan-lahan lalu melesat dengan cepat.

Para penumpang yang sedang hanyut dalam lamunan tiba-tiba dikagetkan dengan pemberitahuan asisten masinis lewat pengeras suara. Asisten masinis memberitahukan penumpang untuk bersiap-siap bahwa kereta akan mengalami tabrakan.

Diantara penumpang ada yang panik dan mengeraskan pegangannya, penumpang lain terlihat acuh saat mendengarkan peringatan tabrakan itu.

Tabrakan pun terjadi, kereta berhenti secara tiba-tiba. Gerbong pertama yang khusus wanita dan gerbong ketiga anjlok terguling ke kanan rel, penumpang ikut terlempar. Api begitu cepat menjalar badan kereta terdepan, asap hitam pun membungbung ke langit.

Teriakan dan tanginas histeris terdengar keras, penumpang yang terlempar di gerbong lalu bangkit dan merengek lari ke gerbon lain, beberapa diantara mereka saling gencet, udara panas yang membuat mereka saling injak menyelamatkan diri.

Kereta Api dengan nomor 1131 yang mereka tumpangi itu menabrak Truk pengangkut BBM Pertamina. Truk itu menerobos palang pintu di perlintasan Pondok Betung, lalu kereta menghantam badan truk hingga terseret sekira 20 meter, ledakan demi ledakan dari tabrakan itu jelas terdengar.

Korban berjatuhan, 6 orang meninggal dunia salah satunya adalah Masinis Darman Prastyo (26) dan asistenya Agus Suroto (24) beserta seorang teknisi KA Sofian Hadi (20).

Ketiga korban lain adalah penumpang KA, yaitu Alrisha (16), Rosa Elizabeth Kesauliya (73), Betty, Ariyani (56).

Mistis Tragedi Bintaro

Peristiwa tabrakannya KA 1131 itu disebut sebagai Tragedi Bintaro 2, karena lokasi terjadinya tabrakan tidak jauh dari lokasi peristiwa tabrakan 2 kereta, Senin 19 Oktober 1987, Tragedi Bintaro 32 tahun yang lalu, dengan 136 korban jiwa dan ratusan lainnya luka-luka.

Dua tragedi berdarah itu banyak dikaitkan dengan hal mistis, banyak masyarakat yang mempercayai bahwa malam hari sebelum tragedi Bintaro 1 atau dua, ada penampakan anak kecil yang bermain-main melintasi rel.

“Saya nongkrong sampai jam 03.00 WIB dinihari. Penampakan anak-anak kecil bermain sudah jadi mitos di sini. Sudah biasa kalau besoknya mau ada kejadian. Ditongolin begituan mah dah sering,” kata Mahfud (45) dilansir dari Liputan6, Selasa (10/12/2013).

Peristiwa itu juga mengingatkan Mahfud pada tragedi 32 tahun silam, yang dikenal dengan Tragedi Bintaro, sebuah kecelakaan antar kereta yang merenggut ratusan jiwa. Sehari sebelum tragedi itu terjadi, ia juga melihat penampakan anak kecil yang bermain di rel.

“Sudah sering di sini kecelakaan. Mulai dari motor keserempet, Metro Mini lah. Nah yang terbesar kan Tragedi Bintaro I, kalau dulu jam 07.15 hari Senin pagi. Dan yang sekarang kan Senin juga, cuma siang jam 11.15 WIB,” ungkap Mahfud yang mengaku duduk di kelas 2 SMP saat Tragedi Bintaro I terjadi.

Namun kisah horor yang banyak beredar dimasyarakat terkait Tragedi Bintaro itu ditepis oleh Ketua Rt5 Rw9, Kelurahan Bintaro, Ramdani. Ia mengatakan kisah horor soal Bintaro adalah bohong dan hanya bumbu-bumbu warga sekitar.

“Kami yang warga asli sini belum pernah merasa ada unsur mistis di jalur kereta itu (perlintasan Tragedi Bintaro),” kata Ramdani dilansir dari Tempo, Minggu 3 November 2019.

Ia menjelaskan bahwa warga di sekitar lokasi setiap tahun rutin memperingati Tragedi Bintaro dengan menggelar doa. Warga, kata dia, marah jika ada orang luar datang ke lokasi itu hanya untuk mencari-cari kisah horor di perlintasan Tragedi Bintaro.

“Jangan datang ke lokasi Tragedi Bintaro untuk mencari tahu hal yang tidak ada kaitannya dengan sejarah. Itu (cerita honor) bohong semua,” ujarnya.

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *