Sebut LGBT Penyakit Gangguan Jiwa, Dwi Estiningsih Banjir Hujatan

Sebut LGBT Penyakit Gangguan Jiwa, Dwi Estiningsih Banjir Hujatan

Dwi Estiningsih membuat geger dengan mengatakan kalau LGBT penyakit gangguan jiwa yang menular.

Disebut Penyakit Gangguan Jiwa Menular, Netizen Minta Kader Dwi Estiningsih Pelajari LGBT

Konten.co.id – Film “Kucumbu Tubuh Indahku” mendulang banyak nominasi di Malam Anugerah Piala Citra 2019 digelar di Grand Studio Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Minggu (8/12).

Sebelumnya film tersebut banyak menuai kontroversi di masyarakat, karena menampilkan isu mengenai lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) yang dinilai mengkhawatirkan bisa merusak moral bangsa.

Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dwi Estiningsih pun mengomentari hal ini. Lewat cuitannya di akun twitternya, ia mengatakan kalau ia memiliki sumber jurnal kajian ilmiah terkait LGBT.

“Mohon maaf, bukan maksud sy tdk memberi sumber/ jurnal kajian ilmiah tentang #LGBT Anda-anda para pembela #LGBT tdk terima klo sy rangkumkan (simpulkan)? Sy khawatir anda tdk mau baca. Baca pun, anda apa paham? Maaf-maaf cakap, bukan meremehkan. Tapi anda sok-sokan Ilmiah.”

Pertama kajian dari Grant JM, Mottet LA, Tanis J, et al. (2011) Injustice at Every Turn: A Report of the National Transgender Discrimination Survey. Washington, DC: National Center for Transgender Equality and National Gay and Lesbian Task Force menyatakan 93,8% LGBT mempunyai setidaknya satu gangguan kepribadian.

Yang paling umum adalah borderline, obsesif kompulsif dan gangguan kepribadian menghindar.

Lalu dari Mustanski, Brian S. dkk. 2010. Mental Health Disorders, Psychological Distress, and Suicidality in a Diverse Sample of Lesbian, Gay, Bisexual,and Transgender Youths. Am J Public Health. 100:2426–2432. doi:10.2105/AJPH.2009.178319.

Katanya, Pada LGBT 17% conduct disorder, 15% depresi berat, 9% PTSD, 31% percobaan bunuh diri.

Lalu dari Walls, N. Eugene dkk. 2010. Correlates of Cutting Behavior among Sexual Minority Youths and Young Adults. Social Work Research.Volume 34, Number 4 December 2010.

Mayoritas responden LGBT 59% mengalami episode depresi, dengan 22,3% pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Dikatakannya, penelitian diatas dilakukan di negara-negara barat. Dimana LGBT telah mendapatkan legalisasi hukum.

“Kalau gangguan jiwa alasannya karena perilaku diskriminasi, itu omong kosong! #DaruratHIVDaruratLGBT,”

Ia pun menaruh curiga, kalau orang yang mengatakan LGBT bukan penyakit jiwa menular tidak bisa mencari kajian ilmiah.

Ia menambahkan kajian dari Kuyper, L., & Vanwesenbeeck, I. (2011). Examining sexual health differences between lesbian, gay, bisexual, and heterosexual adults: The role of sociodemographics, sexual behavior characteristics, and minority stress. Journal of Sex Research, 48(2-3), 263–274.

Dalam kajian tersebut menyebutkan LGBT mempunyai kesehatan seksual yang lebih rendah dibandingkan populasi non LGBT.

“14,3% – 26% LGBT mengalami disfungsi seksual,” cuitnya.

Lalu kajian dari Davis & Schlesinger. Substance use by same sex attracted young people: Prevalence, perceptions and homophobia. Drug Alcohol Rev. 2015 Jul;34(4):358-65. doi: 10.1111/dar.12158. Epub 2014 Jun 3.

Dikatakannya, pada LGBT, penggunaan Alcohol and Drug (AOD) lebih tinggi dibandingkan non LGBT.

“Sayang sekali ya… Wahai pendukung LGBT. Yg saya sampaikan ada kajian Ilmiahnya *sombong pada orang sombong adalah sedekah,”

Lalu ada kajian dari Hampton, Melvin C & Halkitis, Perry N. 2010.Coping, Drug Use, and Religiosity/ Spirituality in Relation to HIV Serostatus among Gay and Bisexual Men.AIDS Education and Prevention, 22(5), 417–429, 2010

Dalam kajiannya menyebutkan penggunaan obat-obatan terlarang pada LGBT mulai terbanyak: Shabu-shabu 56% Mariyuana 44,7% Viagra 26,8% Kokain 22,3%.

Terakhir ada kajian dari Hafeez, H., Zeshan, M., & Naveed, Sadiq. 2017. Health Care Disparities Among Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender Youth. Cureus.Vol 9 (4). DOI: 10.7759/cureus,1184

Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika menyebutkan tahun 2014 terjadi peningkatan diagnosis baru HIV Aids pada gay dan laki2 biseks sebesar 83%.

“Pemerintah Amerika aja kepayahan, disini malah ada partai yg kampanye LGBT.”

Ditambahkannya, terjadi peningkatan pada sexually transmitted diseases (STDs) atau penyakit seksual menular seperti syphilis, HIV, dan Hepatitis pada pria yang melakukan hubungan dengan pria.

“Cukup contoh kajian Ilmiahnya. Masih ada ratusan kajian Ilmiah #LGBT yg berhubungan dengan Miras, HIV, Narkoba, dll. Para pendukung LGBT, kalian sok tau, malas baca, malas belajar, silakan minggiiiirrrr *sombong pada orang sombong adalah sedekah,” cuitnya.

“Wahai para pelaku #LGBT, pasti anda yang paling memahami diri sendiri, bahwa perilaku menyimpang anda merupakan manifestasi (perwujudan) dari gangguan jiwa yang nyata ataupun tersembunyi. Kembalilah wahai saudaraku, masih ada harapan. Semoga Allah memudahkan. end.”

Hal ini pun mendapat hujatan dari netizen. Banyak yang tidak setuju dengan ucapannya. Netizen menilai LGBT bukanlah penyakit gangguan kejiwaan yang menular.

“Mohon maaf kalau membuat anda tersinggung bu, saya bukan sok-sok an ilmiah tapi dari thread Ibu sendiri sudah sangat menyesatkan informasi yg sebenarnya, ibu terlalu yakin bahwa LGBT itu gangguan jiwa yang menular padahal info seperti itu tidak valid bu,” cuit @ sovia_smith.

Ia mengatakan HIV/Aids itu juga banyak diderita oleh heterosexual. “tapi dalam tweet, anda tuliskan bahwa penyakit seperti itu hanya diperoleh dan ditularkan oleh LGBT, mohon maaf, itu juga informasi sesat.”

Sementara akun @ jsamodra mencuitkan, “Ini namanya metode “cherrypicking” data. Hanya mengambil sepotong-potong informasi dari jurnal ilmiah dengan mengabaikan kesimpulan utama dari penelitian tsb. Mohon izin bu, daripada asal comot informasi-informasi tsb, sebaiknya ibu lgsg penelitian aja bu”

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *