Sastrawan Indonesia Hampir Meraih Nobel Namun Digagalkan Orba

Sastrawan Indonesia Hampir Meraih Nobel Namun Digagalkan Orba

Pramoedya Ananta Toer sudah enam kali berturut-turut kmendapat nominasi sebagai peraih Nobel Sastra. Namun Nobel itu tidak pernah hinggap di tangannya diduga ada campur tangan Orba dalam kegagalan Pram mendapat Nobel.

Sastrawan Indonesia Hampir Mendapatkan Nobel, Namun Diduga Digagalkan Orba

Konten.co.id – Nobel adalah sebuah penghargaan yang sangat bergengsi bagi para intelek di dunia, penghargaan yang diselenggarakan tiap tahun itu menggunakan dana yang diwariskan seorang penemu dan industrialis asal Swedia, Alfred Nobel.

Ada beberapa kategori dalam penghargaan bergengsi itu yakni, Fisika, Kedokteran, Kimia, Perdamaian dan Literatur (Sastra).

Penghargaan Nobel pertama diselenggarakan pada 10 Desember 1901, yaitu di peringatan kematian Nobel yang kelima. Kemudian, kategori lain pun ditambahkan pada 1968, yakni hadiah Sveriges Riksbank dalam bidang ilmu ekonomi untuk mengenang Alfred Nobel, oleh Bank Swedia.

Tahun ini Komisi Nobel Norwegia mengumumkan pemenang Hadiah Nobel 2019, peraih kategori sasta didapatkan oleh Peter Handke dari Austria Dan, Nobel Sastra 2018 yang ditunda jatuh ke tangan penulis Polandia Olga Tokarczuk.

Para pemenang Nobel akan diundang dalam Upacara Penghargaan Hadiah Nobel 10 Desember 2019. Yang mana pada setiap tahunnya tanggal tersebut rutin menjadi tanggal pemberian penghargaan Nobel.

Sastrawan Indonesia Hampir Meraih Nobel Sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer hampir saja mendapatkan penghargaan bergengsi itu, ia menjadi satu-satunya penulis Indonesia yang karyanya pernah diusulkan untuk medapat Penghargaan Nobel.

Pengusulan karyanya itu didasarkan pada novel-novel yang dihasilkannya di Pulau Buru, pulau yang mana tempat dia dipenjara menjadi tahanan politik orde baru.

Karya tersebut dikenal sebagai tetralogi Buru : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Namun penghargaan Nobel Sastra itu tidak pernah hinggap di tangan Pram, diduga ada campur tangan pemerintah Indonesia yang mencegah Pram mendapatkan penghargaan itu. Dalam buku “Pram Melawan” Pram menjelaskan bahwa dubes Inggris waktu itu yang menggagalkannya meraih Nobel.

Berikut percakapan Pram dalam buku “Pram Melawan” penulis, P Hasudungan Sirait, Rin Hindryati P, Rheinhardt (November 2001 sampai 2002) :

Kita berbincang tentang Nobel ya Bung.

Masih berharap mendapat Nobel?

Saya enggak pernah mengharap. Saya nggak mengharapkan dari oranglain. Ini pelajaran dari pengalaman.

Bung sepakat bahwa hadiah Nobel Sastra itu merupakan puncak penghargaan tertinggi untuk sastra?

Ya puncaknya : Kalau Magsasay puncak untuk Asia.

Ada tidak pertimbangan politis dalam pemberian Nobel sastra?

Ah, itu selamanya ada. Kan bekas Duta Besar Inggirs berkoar-koar waktu dapat mengagalkan saya mendapat Nobel. “Saya yang mengagalkan dia (pram), saya yang bekerja.” Bangga dia. Nggak ingat saya namanya. Dubes yang dulu; kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Bangga dia memberitakan kepada masyarakat Indonesia sama pers.

Kalau didominasi biasanya tahu dari mana – dari panitia Nobel?

Dari pers aja, orang Indonesia dimintai pertimbangan dalam pencalonan itu Toety Herati. Dia yang cerita sama saya. Setiap saya dapat surat dari Swedia, siapa di Indonesia yang patut dapat Nobel, selamanya nama saya disebut.

Orang Indonesia sendiri yang paling mungkin dapat Nobel hanya dari sastra, kalau dari cabang lain sulit.

Tetapi saya tidak mengharapkan.

Dari Indonesia sendiri penghargaan untuk Bung sangat sedikit, padahal dari luar negeri banyak.

Indonesia kan nggak memberikan nilai budaya apa-apa pada bangsa lain, pada dunia. Gimana.. Nggak ada sesuatu yang diberikan. Korea masih menawarkan rumah pada orang yang digusurin.

Indonesia menawakan apa pada dunia?

Nggak ada. Hanya begini saja. Ya memang malu saya kalau ngomong. Harusnya ada nilai budaya yang diberikan kepada dunia.

Perasaan Bung bagaimana kalau mengingat hanya luar negeri yang memberi penghargaan?

Mereka yang menghargai; kan saya tidak mengharapkan. Saya engga mengarapkan dari orang lain.

Prihatin tidak melihat perlakuan pemerintah kita selama ini terhadap Bung?

Nggak, saya kasihan justru; kok begitu rendahnya. Ini aja orang pada bicara tentang sastra ga ada yang menyebut saya di pers. Nggak ada, sampai sekarang, ha.. ha.. ha..

Pengakuan Sang Adik

Adik Pramoedya, Soesilo Toer mengatakan bahwa ada dugaan campur tangan seorang sastrawan ternama di Indonesia yang turut mengagalkan Pram meraih Nobel.

Lantas mengapa Pram tak berhasil sekalipun mendapat Nobel Sastra?

“Nah ini kalau isunya, waktu Pram sudah diundang ke Stockholm. Rendra tahu, Rendra ada di Skotlandia apa Irlandia itu kan dekat. Di sana ada yang interview siapa sih Pram itu. Katanya interviewnya Pram itu adalah pengarang yang menindas kreativitas pengarang Indonesia yang lain,” ungkap Soes dilansir dari Kumparan.

Berikut Daftar Peraih Nobel 2019

1. Nobel Fisiologi atau Kedokteran

Hadiah nobel kedokteran tahun 2019 diberikan kepada William Kaelin Jr, Sir Peter Ratcliffe, dan Gregg Semenza. Ketiga tokoh tersebut mengungkap tentang bagaimana sel manusia beradaptasi terhadap perubahan tingkat oksigen di dalam tubuh.

2. Nobel Fisika Penghargaan

Dimenangkan oleh James Peebles, Michel Mayor, Didier Queloz. James Peeble memenangkan hadiah nobel karena penemuan teoritisnya akan kosmologi fisika. Sedangkan separuh hadiah lainnya diberikan kepada Michel Mayor dan Didier Queloz karena penemuannya akan sebuah eksoplanet yang mengorbit pada sebuah bintang tipe surya.

3. Nobel Kimia

Pemenang untuk Nobel Kimia adalah John B. Goodenough, M. Stanley Whittingham dan Akira Yoshino. Pemenang tersebut dipilih atas pengembangan baterai ion lithium yang dilakukan oleh ketiganya.

4. Nobel Literatur

Pemenang Nobel Literatur untuk tahun 2019 diberikan kepada Peter Handke. Ia memenangkan penghargaan ini atas karyanya yang berpengaruh, bahwa dengan kecerdikan linguistik, pengalaman manusia dari luar maupun secara spesifik telah dapat dieksplorasi.

Pemenang hadiah Nobel Literatur untuk tahun 2018 yang sempat ditunda diberikan kepada Olga Tokarczuk. Ia memenangkan penghargaan ini atas sebuah imajinasi naratif, bahwa dengan semangat ensiklopedis yang menggambarkan bahwa melampaui batas adalah sebuah bentuk kehidupan.

5. Nobel Perdamaian

pemenang Nobel Perdamaian dimenangkan oleh Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed. Ia dipandang sebagai pemimpin visioner dan reformis. Ahmed memenangkan hadiah Nobel Perdamaian karena jasanya atas upaya mengakhiri konflik panjang dengan tetangganya.

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *