Peringatan HBN dan Berontaknya Presiden yang Tak Dianggap

Peringatan HBN dan Berontaknya Presiden yang Tak Dianggap

Dengan kesedihan dan kesusahan yang mendalam, kita terpaksa mengibarkan bendera menentang Kepala Negara kita sendiri. Kita telah bicara dan bicara. Sekarang tiba saatnya untuk bertindak! – Syafruddin Prawiranegara, 15 Februari 1958.

Hari Bela Negara dan Berontaknya Presiden yang Dilupakan, Syafruddin Prawinegara

Konten.co.id – 19 Desember setiap tahunnya, Indonesia memperingati hari Bela Negara Nasional (HBN). Peringatan tersebut jatuh karena tepat 19 Desember 1948 Belanda melancarkan agresi militer II.

Dalam peristiwa Agresi Militer Belanda II itu, Belanda berhasil menarik Presiden Soekarno melalui beberapa kabinetnya yang saat itu berada di Yogyakarta.

Sebelum di tawan Presiden Soekarno memberikan mandat kepada Menteri Kemakmuran yaitu Syafruddin Prawiranegara yang saat itu berada di Kota Bukittinggi untuk mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia atau PDRRI.

Diberikannya tugas kepada Syafruddin Prawiranegara, Soekarno memerintahkan untuk menyiapkan cabinet baru untuk menerima alih pemerontah pusat di Yogyakarta. Tanggal 21 Desember 1948 –13 Juli 1949. Saat itulah Pemerintah Darurat Republik Indonesia dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara.

Kepemimpinan Syafruddin Prawiranegara maupun jajaran menterinya seringkali dikejar pasukan Belanda. Penyebab dengan hancurnya pemerintahan darurat ini dianggap sebagai Indonesia sudah hilang. Jadi tidak jarang Syafruddin Prawiranegara ikut para menterinya harus tidur di hutan, demi menghindari kejaran Belanda.

Keuntungan adanya PDRRI ini tentu membuat Indonesia masih dianggap eksis di kalangan internasional. Belanda kerap mengejek Indonesia dengan Pemerintah Rimba karena presiden dan kabinetnya kerap bersembunyi di hutan.

Namun nama Syafrudin Prawinegara tidak pernah ada dalam jajaran nama presiden Indonesia dari masa ke masa. Syafruddin kerap disebut sebagai presiden yang tak dianggap. Citranya turun setelah dianggap memberontak terhadap Pemerintah Indonesia satu dekade setelah mempertahankan Indonesia di hutan.

Syafruddin Berontak

Diteampat yang sama saat Syafruddin mendeklarasikan PDRI di Bukittinggi, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) mendirikan kabinet tandingan Soekarno. PRRI berdiri karena kecewa terhadap pemerintahan RI dan menuntut otonomi daerah yang lebih luas.

“Dengan kesedihan dan kesusahan yang mendalam, kita terpaksa mengibarkan bendera menentang Kepala Negara kita sendiri. Kita telah bicara dan bicara. Sekarang tiba saatnya untuk bertindak!” seru Syafruddin Prawiranegara dalam pidatonya, seperti dikutip dari buku Bung Karno Menggugat (2006) karya Baskara T. Wardaya (hlm. 113).

Merespon beridirinya PRRI Soekarno bersikap keras, operasi militer pun dilancarkan untuk menumpas gerakan ini.
Mei 1961, gerakan yang diserbut pemberontak itu akhirnya lenyap, para petinggi nya ditangkap, namun Presiden Soekarno memilih untuk mengampuni, termasuk Syafruddin Prawiranegara.

Setelah peristiwa itu, Syafruddin meninggalkan dunia politik dan memilih berjalan di jalan dakwah, ia menjadi pengurus Yayasan Pesantren Islam dan Ketua Korps Mubalig Indonesia (KMI).

Setelah orde lama tumbang, Syafruddin kerap bermasalah dengan orde baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Ceramah-ceramahnya banyak dipermasalahkan karena banyak menyinggung dan melawan kebijakan orde baru.

Syafruddin Prawiranegara menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta tanggal 15 Februari 1989, Meskipun sempat dicap sebagai pemberontak, dan melawan kebijakan Orde Baru, pemerintah RI tetap memberinya gelar pahlawan nasional pada 7 November 2011.

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *