Pendakwah Hina Wapres, Islam Melarang Mencaci Pemimpin Bangsa

Pendakwah Hina Wapres, Islam Melarang Mencaci Pemimpin Bangsa

Terkait wapres dan Presiden yang dihina pendakwah menimbulkan pertanyaan apakah mereka tidak tahu kalau Islam melarang kita mencaci pemimpin bangsa.

Soal Pendakwah Hina Wapres, Tahukah Islam Larang Mencaci Pemimpin Bangsa?

Konten.co.id – Indonesia saat ini tengah dihebohkan dengan betbagai aksi negatif yang dilakukan para pendakwah.

Salah satunya adalah kabar seorang pendakwah yang mengajak koar mengajak jamaahnya menyiapkan pedang dan senjata untuk menggulingkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Dalam video berdurasi 33 detik itu, dengan nada lantang penceramah yang mengenakan pakaian serba putih dengan ikat kepala hijau mengajak melengserkan Jokowi.

“Ayolah kita bersatu bersama-sama. Saya sampaikan kepada Anda semuanya. Siapkan pedang-pedang kalian, siapkan senjata-senjata kalian. Siapkan senjata-senjata kalian,” katanya sambil menunjukkan jarinya ke arah jamaah.

Kemudian dalam video itu, penceramah itu melanjutkan. “Bersatu kita semua. Maka Insya Allah kita akan gulingkan Jokowi. Setuju atau tidak?,” ucapnya disambut teriakan setuju oleh jamaahnya.

Lalu yang baru saja terjadi adalah seorang pendakwah Habib Jafar Shodiq baru saja ditangkap karena dinilai telah menghina Wakil Presiden Ma’ruf Amin dengan sebutan babi.

Dalam video yang diunggah kanal YouTube Channel habib ja’far shodiq bin alattas pada 30 November 2019, Habib Jafar Shodiq mengisahkan seseorang yang berguru kepada Nabi Musa.

Namun setelah mendapat ilmu, murid itu justru menjual agama untuk kepentingan duniawi. Habib Jafar lantas mencontohkannya dengan ustaz zaman sekarang.

“Maka kalau ada zaman ustaz-ustaz sekarang andai kata ada ustaz-ustaz bayaran, ada ustaz-ustaz target yang di zaman Nabi Nuhammad SAW, hidup di zaman Nabi Musa AS sudah berubah menjadi seekor babi,” kata Habib Jafar.

“Berarti ustaz-ustaz bayaran apa? (dijawab jemaah: babi). Apa? (babi). Apa? (babi). Saya tanya Maruf Amin babi bukan? (babi). Babi bukan? (babi).” Tukasnya.

Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan di benak kita. Pantaskah seorang pendakwah mencaci pemerintah, khusunya pemimpin bangsanya sendiri?

Padahal kan didalam islam kita dilarang untuk mencaci pemimpin bangsa. Terus kenapa kyai atau yang ditanda kutipkan sebagai seorang pendakwah malah mencaci pemerintah?

Allah SWT berfirman dalam Alquran suarah Al-An’am ayat 129;

وَكَذلِكَ نُوَلِّيْ بَعْضَ الظَّالِمِيْنَ بَعْضًا بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Artinya; “ Demikianlah kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman/pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (QS. al-An’am : 129).

Dalam tafsir Ibnu Kastir disebutkan; Sa’id meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan takwil ayat ini, bahwa sesungguhnya Allah mempertemankan manusia berdasarkan amal perbuatan mereka.

Dengan kata lain, orang mukmin adalah teman orang mukmin lainnya di masa kapan pun dan di mana saja. Orang kafir adalah teman orang kafir, di mana saja dan kapan pun berada. Iman bukanlah hanya sekadar angan-angan, bukan pula sebagai perhiasan (melainkan harus disertai dengan amal perbuatan). Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Sedangkan Al-Imam Fakhruddinal-Razi dalam tafsirnya berkata:

اَلْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ: اْلآيَةُ تَدُلُّ عَلىَ أَنَّ الرَّعِيَّةَ مَتَى كَانُوْا ظَالِمِيْنَ، فَاللهُ تَعَالَى يُسَلِّطُ عَلَيْهِمْ ظَالِماً مِثْلَهُمْ، فَإِنْ أَرَادُوْا أَنْ يَتَخَلَّصُوْا مِنْ ذَلِكَ اْلأَمِيْرِ الظَّالِمِ فَلْيَتْرُكُوْا الظُّلْمَ. وَعَنْ مَالِكِ بْنِ دِيْنَارٍ: جَاءَ فِيْ بَعْضِ كُتُبِ اللهِ تَعَالَى: أَنَا اللهُ مَالِكُ الْمُلُوْكِ، قُلُوْبُ الْمُلُوْكِ وَنَوَاصِيْهَا بِيَدِيْ، فَمَنْ أَطَاعَنِيْ جَعَلْتُهُمْ عَلَيْهِ رَحْمَةً، وَمَنْ عَصَانِيْ جَعَلْتُهُمْ عَلَيْهِ نِقْمَةً، لاَ تَشْغَلُوْا أَنْفُسَكُمْ بِسَبِّ الْمُلُوْكِ، لَكِنْ تُوْبُوْا إِلَيَّ أُعَطِّفُهُمْ عَلَيْكُمْ .

“Masalah kedua; ayat di atas menunjukkan bahwa apabila rakyat melakukan kezaliman, maka Allah akan mengangkat seorang yang zalim seperti mereka sebagai penguasa. Sehingga apabila mereka ingin melepaskan diri dari pemimpin yang zalim tersebut, hendaknya mereka meninggalkan perbuatan zalim.

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar: “Dalam sebagian kitab-kitab Allah SWT, Allah berfirman: “Akulah Allah, Penguasa raja-raja di dunia. Hati dan ubun-ubun mereka berada dalam kekuasaan-Ku. Barangsiapa yang taat kepada-Ku, aku jadikan raja-raja itu sebagai rahmat baginya.

Dan barangsiapa yang durhaka kepada-Ku, aku jadikan raja-raja itu sebagai azab atas mereka. Janganlah kalian menyibukkan diri dengan memaki-maki para penguasa karena kezaliman mereka. Akan tetapi, bertaubatlah kalian kepada-Ku, maka akan Aku jadikan mereka mengasihi kalian.” (Al-Imam Fakhruddin al-Razi, al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib, juz 13, [Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, 2000], hlm. 159.

Dari ayat di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa kita harus meyakini bahwa pemimpin tersebut terpilih semata-mata takdir Allah SWT. Pemimpin zalim merupakan representasi masyarakatnya yang juga zalim.

Untuk itu haruslah kita juga bertaubat, karena dengan pemimpin zalim, kita juga rupanya zalim.

Lalu bagaimana dengan menghina atau mencaci pemimpin bangsa? Rasulullah SAW bersabda

مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللهُ. رواه الترمذي وقال: حديث حسن

“Barangsiapa yang menghina seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR al-Tirmidzi [2224], dan berkata: “Hadits hasan”).

Hadits ini memberikan pesan larangan menghina atau menghujat seorang pemimpin. Maksud pemimpin dalam hadits tersebut, adalah setiap orang yang memiliki kekuasaan dan tanggungjawab terhadap kaum Muslimin seperti khalifah, presiden, amir, gubernur, bupati dan seterusnya.

Allah SWT pun akan menghinakan orang yang menghina pemimpin bangsa. Karena ia telah berusaha menghina seseorang yang diberi kemuliaan oleh Allah SWT.

“Allah SWT juga akan menghina orang yang menghina seorang pemimpin di akhirat kelak karena telah durhaka kepada Allah. (Al-Imam Ibnu ‘Illan al-Shiddiqi, Dalil al-Falihin li-Thuruq Riyadh al-Shalihin, 3/124).

Abu Usman az-Zahid mengatakan:

“Nasihatilah para penguasa, perbanyakanlah doa untuk mereka agar mereka melakukan kebaikan dan kebenaran dalam beramal dan menjalankan hukum. Sesungguhnya jika mereka baik, maka akan baiklah rakyat. Hati-hatilah kamu! Jangan sampai kamu mendoakan keburukan atau melaknat mereka, kerana yang demikian hanya akan menambah kerosakan keadaan orang-orang Islam. Tetapi mintakanlah ampunan kepada Allah untuk penguasa (pemerintah dan pemimpin), semoga mereka meninggalkan perbuatan yang tidak baik, kemudian dihilangkanlah musibah dari kaum Muslimin”. (Al-Jamii Li Syu’abil Iman. 13/99. Al-Baihaqi. Cetakan Dar as-Salafiyah).

Dengan demikian, Islam mengajarkan untuk tetap bersikap santun dan taat terhadap pemimpin. Karena seorang pemimpin itu merupakan representasi dari rakyat atau masyarakat yang memilihnya.

Jika masyarakatnya baik maka kemungkinan besar pemimpinnya juga baik begitu juga sebaliknya. Karena itu, islam melarang untuk menghujat dan menghina pemimpin meski ia pemimpin yang zalim karena hal tersebut bisa mengindikasikan dirinya yang juga zalim.

Nah sekarang dimata anda sendiri bagaimana? Apakah pantas seorang pendakwah menghina atau mencaci pemimpin bangsa?. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *