Patih Danurejo IV Racun Sultan Hamengkubuwana IV?

Patih Danurejo IV Racun Sultan Hamengkubuwana IV?

6 Desember 1823 adalah hari meninggalnya Sultan Hamengkubuwana IV, diduga karena diracun sepulang dari perjalanannya dari luar Keraton.

Benarkah Penyebab Kematian Sultan HB IV, Karena Diracun Sang Patih Danurejo?

Konten.co.id – Suasana duka menyelimuti istana Kesultanan Yogyakarta, isak tangis menetes pada setiap penjuru keraton. Sang Sultan Hamengkubuwana (HB) III meninggal dunia, kabar duka itu menyebar dengan perlahan ke pelosok negeri.

Semestara putra mahkota sang raja, ialah Sri Sultan Hamengku Buwono IV dengan nama lengkap Gusti Raden Mas Ibnu Jarot. Ia lalu diangkat menjadi raja HB IV.

Usianya yang masih muda, umurnya saat itu 10 tahun. Karena usianya yang masih sangat muda, ia didampingi oleh wali raja. Wali raja itu dinobatkan pada Pangeran Notokusumo yang telah bergelar Paku Alam I, saat itulah memegang kendali pemerintahan Kesultanan Yogyakarta.

Namun pemerintahan Sultan Hamengkubuwana IV yang dipegang Paku Alam I tidak berjalan lama, di usianya 19 tahun, tepat tanggal 6 Desember 1823 sang Sultan HB IV tewas saat dirinya sedang bertamasya, ada isu bahwa tewasnya HB IV karena diracun.

Patih Danureja IV

Radèn Adipati Danurejo IV saat itu yang menjadi patih kesultanan, banyak manuver yang dilakukannya yang disebut sering merugikan kesultanan.

Saat Sultan HB IV berusia 16 tahun, Paku Alam I meletakan jabatan walinya, karena sang Sultan telah cukup umur untuk memegang kendali kerajaan. Hal itulah yang membuat girang Patih Danureja IV. Kini ia bisa lebih leluasa di kerajaan.

Patih Danureja IV dinilai sebagai orang yang tunduk pada Belanda, ia banyak membuat kebijakan yang menyenangkan Belanda, seperti kenaikan pajak tanah, yang membuat rakyat menderita. Diketahui ia juga menempatkan sanak keluarganya pada posisi penting di kerajaan.

Selain sebagai pembantu asing, Patih Danureja IV juga dikenal sebagai orang yang sering berseberangan dengan Pangeran Diponogoro.

Kebijakan-kebijakan salah dari Danureja IV di kesultanan sering kali membuatnya merasa terkucilkan, bahkan penguhuni pemerintahan sering membuatnya kecil, bahkan tanpa adanya Pangeran Diponogoro, Danureja IV bukanlah siapa-siapa.

Pangeran Diponogoro sering pasang badan apabila sang patih berbuat kesalahan, namun sikap ikhlas Pangeran Diponogoro bukan membuatnya lunak, tapi malah menjadikan Patih Danureja IV mempunyai rasa dengki dan iri.

Danurejo IV terobsesi untuk membuktikan bahwa dirinya tidak seperti apa yang dipikirkan orang. Dia yakin dia bisa, mampu, dan hebat meskipun tanpa campur tangan Sang Pangeran. Saat masa Kesultanan HB IV lah, Sang Patih mulai memperlihatkan kedurjanaannya.

Perseteruan Pangeran Diponogoro dan Patih Danurejo IV

Catatan Babad Kedung Kebo menuliskan sebuah peristiwa hubungan Danurejo IV dengan sang Pangeran. Pada tahun 1822, Pangeran memanggil Danurejo IV dalam sebuah penghadapan, berkaitan dengan berbagai laporan miring atas kesewenang-wenangannya menindas rakyat.

Selaku wali sultan yang masih bocah, Diponegoro menginterogasinya di paseban, di depan banyak pemangku pejabat dan anggota keluarga sultan. Pangeran pernah membahas suatu kebijakan bersama ayahnya, sultan Hamengkubuwono III berkaitan dengan penunjukan petugas resmi polisi pedesaan atau gunung dan peran mereka atas masyarakat pedesaan. Tanpa berkonsultasi terlebih dahulu, Danurejo IV menunjuk 50 lebih petugas resmi yang digaji langsung dari uang pajak kerajaan dengan tugas khusus mengumpulkan pajak rumah tangga yang sekaligus petugas penegak hukum.

Pangeran menjadi murka ketika Danurejo IV terus saja mengelak dengan berbagai dalih, dan terjadilah sebuah peristiwa heboh ini. Pangeran yang amat disegani semua kalangan itu mendadak berdiri, melepaskan selop alas kakinya dan dengan langkah murka medekati Danurejo IV dan memukulkan selop tersebut ke kepala dan wajah sang patih yang duduk menyembah.

Penghinaan itu takkan pernah dilupakan oleh Danureja IV sepanjang hidupnya, walaupun sesungguhnya dia sangat pantas menerimanya.

Sejak saat itu dan banyak konflik lainnya dengan Pangeran Diponogoro, Patih Danurejo namppaknya banyak menyimpan dendam.

Kematian Sultan Hamengkubuwana (HB) IV

Hari ini 197 tahun silam, 6 Desember 1822, Sultan HB IV meninggal dunia setelah kembali ke keraton sepulang ia bertamasya. Diungkap Sejawaran, Profesor FIB-UI dan Fellow Emeritus, Trinity College, Oxpord, Peter Carey dalam bukunya Kuasa Ramalan : Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855.

“… wafatnya Hamengkubuwono IV pada 3.30 sore. Cara wafatnya menjadi asal-usul nama julukan baginya, Sultan seda besiyar (sultan yang wafat tatkala keluar pesiar)” (cat. kaki 174, hlm. 590).

Kematian HB IV digambarkan sangat mengerikan : “… tampaknya ia mendadak kena serangan penyakit ketika sedang makan—dan tubuhnya langsung membengkak, suatu pertanda … bahwa ia telah diracuni” (hlm. 591).

Pendapat Dipanegara soal pembunuhan Sultan tercatat percakapan antara dirinya dengan Kapten J.J. Roeps, tentara yang mengawalnya ketika dibuang dari Magelang ke Batavia. Percakapan ini tersimpan dalam koleksi pribadi Cornets de Groot dan dikutip Peter Carey dalam bukunya.

“Ketika [HB IV] wafat tubuhnya membengkak mengerikan,” tutur Dipanegara.

“Kalau begitu ia pastilah diracuni,” timpal Roeps.

Tanpa ada sedikit pun perubahan perasaan, Dipanegara melanjutkan dengan nada yang sama, “Ia menerima nasi dan makanan Jawa dari Patih [Danureja IV] dan hanya sejam kemudian ia wafat” (cat. kaki 175, hlm. 591). Atau mungkinkah Patih Danureja IV berada di balik tewasnya Sultan HB IV?

Memang belum ada bukti kuat yang ditemukan terkait kemungkinan tersebut. Namun, kabar bahwa Sultan HB IV meninggal lantaran diracun disebarluaskan orang-orang Patih Danureja IV yang menuduh pelakunya adalah orang suruhan Dipanegara.

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *