Menilik Arti Lambang Kabupaten Garut Zaman Kolonial Hingga Masa Kini

Menilik Arti Lambang Kabupaten Garut Zaman Kolonial Hingga Masa Kini

Lambang Kabupaten Garut dari zaman kolonial hingga masa kini banyak perubahan dan ada sejarahnya.

Patut Diketahui, Arti Lambang Kabupaten Garut Dari Zaman Kolonial Hingga Masa Kini

Konten.co.id – Lambang di sebuah kota atau daerah memiliki banyak arti. Tidak hanya sebagai ciri khas, tapi juga sebagai tanda kebesaran dari daerah tersebut.

Dengan istilah lain, logo, merupakan suatu gambar atau sekadar sketsa dengan arti tertentu, dan mewakili suatu arti dari perusahaan, daerah, organisasi, produk, negara, lembaga, dan hal lainnya.

Sebagai contoh, Republik Indonesia punya lambang negara Burung Garuda. Tiap daerah tak ketinggalan juga punya lambangnya masing-masing, provinsi maupun kota atau kabupaten. Tak terkecuali kabupaten Garut.

Sebelumnya, kita lihat dulu lambang Kabupaten Garut masa kini. Entah siapa yang merancangnya, yang jelas, lambang kabupaten Garut ini dikukuhkan dalam Perda No. 9 tahun 1981.

Dalam Perda itu disebutkan, lambang daerah adalah suatu lukisan yang mempunyai bentuk tertentu dan terlukiskan nilai-nilai potensi alam wilayah kabupaten Garut.

Gambar dalam lambang daerah tersebut terdapat gunung berpuncak lima yang menandakan lima gunung di Garut yaitu gunung Talagabodas, Cakrabuana, Cikuray, Papandayan, dan Guntur.

Lalu ada sungai dalam 3 garis putih menandakan 3 sungai di Garut yaitu Cimanuk, Cikandang, dan Cilaki, 3 gelombang samudra Indonesia, dan buah jeruk yang dulu jadi andalan kota yang berjuluk Kota Intan ini.

Untuk pihan warna, biru menunjukkan laut dan hijau menggambarkan tanah yang subur. Semuanya terbingkai dalam sebuah perisai dan diberi pita merah dengan tulisan putih berbunyi: “Tata Tengtrem Kertaraharja”.

Masih agak kaku ya?

Tapi yang mau dibahas sekarang lambang kaboepaten Garut di masa kolonial. Seperti yang dilihat Konten.co.id di akun instagram potolawasofficial.

Dalam deretan lambang daerah yang diposting tersebut terlihat Kabupaten Garut punya logo yang cukup keren. Yaitu keris dan tanaman khas Garut. Yang menandakan kekuatan dan kebesaran Garut dengan potensi alamnya.

Tapi sebelum itu pun ada lambang yang dibuat oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dilansir dari naratasgaroet.net, ada bukti sejarah dari laporan hasil rapat Dewan Kabupaten atau Regentschap Raad Garoet.

Regentschap Raad ini serupa DPRD sekarang, hanya saja anggota-anggotanya ditunjuk berdasarkan perwakilan kelompok atau partai yang ada, yang tentu saja penunjukkannya sesuai dengan selera penguasa kolonial saat itu.

Di Kabupaten Garut sendiri, Regentschap Raad mulai dibentuk pada tahun 1926. Dulu, perangkat pemerintahan di daerah membuat asosiasi yang bernama perhimpunan Locale Belangen. Mereka punya orgaan berupa majalah Locale Belangen, yang memuat isu-isu pemerintahan lokal di daerah.

Namun, Locale Belangen dianggap kurang memperhatikan pemerintahan daerah yang diselenggarakan oleh orang pribumi, yaitu kaboepaten atau regentschap.

“Tjita-tjita perkoempoelan Locale Belangen antara lain djoega akan menoendjang dan memetingkan berkembangnja „perhatian keperloean sesoeatoe daerah oleh badan-badan jang berkoeasa dan berdiri sendiri dalam daerah itoe” (behartiging der plaatselijke belangen door ter plaatse aanwezige autonome lichamen). Tjita-tjita ini tak akan berlakoe dengan sempoerna, kalau keperloean raad-raad kaboepaten koerang diperhatikannja dari pada keperloean raad-raad gemeente.” Demikian ditulis dalam pengantar majalah Locale Belangen edisi lampiran “Rubreik Regentschappen” itu.

Maka dari itu, lahirnya edisi khusus yang membahas “raad-raad kaboepaten” ini disambut hangat.

“Dengan amat girang hati kita menerima chabar dari Commissie van Redactie tijdschrift Locale Belangen, menerangkan, bahwa molai tanggai 1 boelan November ini perhimpoenan kita LOCALE BELANGEN atas iniatiatiefnja Redactie aken mengeloearkan periodiek sendiri, jang seoleh-oleh bisa dianggep sebagai lampiran dari orgaan Locale Belangen, dan tjoema atau sebagian besar bergoena oentoek memoeat karangan perihal Regentschappen. Itoe periodiek hendak dikeloearkan dalem bahasa Melajoe, aken tetapi djikalau perloe karangan di dalem bahasa Ollanda aken diterimanja djoega.” Jadilah, pada Locale Belangen tertanggal 1 November 1930 No. 21 itu ditambahkan lampiran “Rubreik Regentschappen” edisi 1 November 1930 No.1.

Majalah Locale Belangen edisi itu memuat laporan hasil kegiatan Raad kaboepaten Garoet pada persidangan tertanggal 30 September 1930. Salah satunya, tentang “Menetapkan wapen boeat regentschap Garoet”. Disebutkan, atas permintaan Raad lid (ketua dewan), toean Helb, Regentschap Raad Garoet telah memajukan usulan rancangan lambang (ontwerp-wapen) Kabupaten Garut.

Regentschap Raad, dengan memperhatikan “kehendak” Gecommitteerde Raad, mengusulkan lambang kaboepaten itu harus memuat “beberapa hal-hal jang berhoeboengan dengan regentschap di ibaratkan pada gambarnja”.

Alhasil, rancangan lambang Kabupaten Garut usulan Raad ini punya banyak arti dari gambarmya.

“… kaoem bangsawan di ibaratkan dengan gambar harimau dan keris, jang dapat ditoeroen dari gambar2 wajang. Diatas gambar tadi adalah gambar mahkota sebagai ibarat pembesar kaboepaten. Distrikt 9 dari Regentschap di ibaratkan dengan 9 panah jang ditengkeram oleh kaki kiri dari harimau tadi; warna biroe dan poetih itoe diambilnja dari Perhimpoenan Adoe Koeda Haoer Panggoeng, sedang kalimat pada pita jang boenjinja „opes regum corda subditorum”.

Rancangan lambang kaboepaten yang telah disetujui oleh Raad kaboepaten Garoet ini akan dikirimkan kepada Hooge Raad van Adel di Negeri Belanda untuk mendapatkan persetujuan. Demikian tulis Locale Belangen…

Jika disusun secara sistematik, maka hal-hal yang disebut sebagai cerminan kondisi Kabupaten Garut saat itu adalah:

1. “Kaoem bangsawan”, digambarkan dengan harimau dan keris, yang diambil dari kisah dalam wayang.

Saat itu kalangan menak mempunyai status yang tinggi dalam strata sosial, dan kedudukan mereka sesuai dengan kepentingan politik kolonial.

2. “Pembesar kaboepaten”, disimbolkan dengan mahkota di atas harimau dan keris.

Mungkin “pembesar kaboepaten” ini maksudnya adalah kangdjeng boepati sendiri, jadi di atas kaoem bangsawan ada sosok boepati. Saat itu, yang menjadi bupati Garut adalah Adipati Moh. Moesa Soeria Kartalegawa.

3.“Distrikt 9 dari Regentschap”, digambarkan dalam bentuk 9 panah yang dicengkeram kaki kiri harimau.

Saat itu Kabupaten Garut Garoet terdiri dari 9 distrik, yaitu Garut, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk.

4.“Perhimpoenan Adoe Koeda Haoer Panggoeng”, dilambangkan dengan warna biru dan putih.

Tak usah heran jika adu kuda menjadi penting untuk disebut sebagai hal-hal yang berhubungan dengan regentschap! Ya, begitu pentingnya sehingga warna biru dan putih lambang Perhimpoenan Adoe Koeda Haoer Panggoeng (Wedloopsocieteit Haoer Panggoeng atau Raceclub Haoer Panggoeng) harus muncul dalam lambang Kabupaten.

5.Pita dengan kalimat: “opes regum corda subditorum”.

Kata-kata latin tersebut dalam bahasa Belanda, katanya, berarti “Op de liefde der onderdanen berust de macht der Regenten” yang dalam bahasa Melajoe artinya: “Kekoeasaan Boepati-boepati itoelah berdiri atas ketjintaan ra’ja”. Maksudnya, Bupati itu berkuasa karena memang sudah menjadi kehendak rakyat

Nah, bisa dibayangkan lambang kaboepaten Garoet yang disetujui Raad itu akan menjadi seperti apa hasilnya?

Tak ada tambahan informasi untuk lambang itu. Tapi ada sedikit keterangan bahwa literatur sumbernya adalah Rühl, 1933; Koffie Hag Albums, 1920s.

Jika memang benar logo itu merujuk pada Koffie Hag Albums tahun 1920an, maka berarti Regentschap Raad Garoet pada tanggal 30 September 1930 itu sedang memutuskan usulan perubahan lambang Kabupaten, yang lebih disesuaikan dengan “hal-hal jang berhoeboengan dengan regentschap”.

Dari lambang Garoet tahun 1920an ini, tampak memang ada beberapa simbol yang masih akan dipertahankan: mahkota, keris, dan pita bertuliskan: opus regum corda subditorum.

Tetapi tidak untuk singa, yang diusulkan diganti dengan harimau yang memang hewan endemik Jawa. yang kaki kirinya akan digambarkan sedang mencengkeram 9 anak panah. Tentu saja sangat kolonial.

Tapi setelah itu kembali diubah menjadi keris dan tanaman di Garut. Yang menandakan kekuatan dan kebesaran Garut dengan potensi alamnya.

Baru diganti seperti yang kini digunakan. Lalu apakah lambang Kabupaten Garut akan diganti lagi ke yang lebih modern, millenial dan luwes? Kita lihat saja nanti. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Pilihan :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Video

Berita pilihan