Mengenang Sastrawan Asep Sambodja, Puisi Adalah Tempat Pulangnya

Mengenang Sastrawan Asep Sambodja, Puisi Adalah Tempat Pulangnya

Semua penyair turun ke jalan, membela nasib sebuah sajak yang dikebiri, tapi sajak ini hanya ada di hati seorang gadis lugu yang menahan rintih di kamar tuannya – Asep S. Sambodja.

Mengenang Kepergian Sastrawan Asep Sambodja, Puisi Adalah Tempatnya Pulang

Konten.co.id – Laki-laki penyuka puisi itu adalah Asep S. Sambodja, ia adalah sastrawan Indonesia yang banyak menuliskan puisi-puisi penghanyut jiwa. Kegemarannya menulis puisi sudah ia geluti sejak lama. Asep menghembuskan nafas terakhirnya di Bandung pada Jumat 9 Desember 2010.

Lahir di Solo, Jawa Tengah, 15 September 1967 dan menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra jurusan Sastra Indonesia ( sekarang Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia tahun 1993.

Sajak-sajak dan puisinya banyak dimuat di beberapa media ternama di tanah air seperti, Harian Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Majalah Horison, dan Jurnal Puisi. Selain sebagai seorang pencipta puisi ia juga seorang dosen di Program Studi Indonesia FIB UI.

Jauh hari sebelum menjadi dosen, ia pernah menjadi wartawan di Tabloid Indonesia (1990-1994), Majalah Berita Mingguan Sinar (1995-1997), Majalah Ummat (1997-1998), Satunet.com (1999-2001) dan Majalah Fokus Indonesia (2002-2003)

Penyakit Kanker Usus yang dideritanya, merenggut keindahan dan kebrilianan proses berkaryanya.

Kali ini Konten.co.id menyajikan satu karya puisi Asep S. Sambodja, sebagai bentuk mengenang sosok sang penyair, dalam puisi ini Asep seolah-olah menggambarkan dirinya sendiri menjelang wafatnya.

Bahwa seorang Penyair akan dimakamkan pada puisi, puisi yang banyak diziarahi, puisi yang dibaca kembali, puisi yang abadi dalam kesunyian. Kita ingat seperti kata Pramoedya Ananta Toer bahwa : Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Kini dengan tulisan-tulisan Puisinya, Asep S. Sambodja telah membuktikan bahwa dirinya abadi dikenang setiap orang. Berikut adalah Puisi Asep S. Sambodja yang ia tulis di Citayam 25 Oktober 2009 silam :

Makam Penyair

Puisi adalah makam para penyair
setiap saat kita menziarahinya
menabur bunga-bunga makna
membaca ayat-ayat lama

Puisi adalah makam para penyair
namanya terpatri di batu nisan
abadi dalam kesunyian
jadi tempat terindah
para peziarah

Puisi adalah makam para penyair
Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra
dan siapa saja duduk di dalamnya
duduk seperti patung Ganeca
dan kita mempelajarinya
sampai habis kata
sampai habis nyawa

Citayam, 25 Oktober 2009
Asep Sambodja

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *