Melirik Nasib Animasi Indonesia dan Lahirnya Walt Disney

Melirik Nasib Animasi Indonesia dan Lahirnya Walt Disney

Walt Disney lahir sebagai animator ulung dunia dan menginspirasi banyak animator.

Walt Disney Lahir 5 Desember, Bagaimana Perkembangan Animasi Indonesia Masa Kini?

Konten.co.id – Siapa yang tahu animator ternama dunia Walt Disney? Mickey Mouse, Donald Duck, dan Snow White and The seven Dwarf adalah mahakaryanya yang sangat melegenda.

Walter Elias Disney lahir pada tanggal 5 Desember 1901 Chicago, illinois, Amerika Serikat dari pasangan Elias Disney dan Flora Call.

Walt Disney merintis karir di bidang kartun saat ia bekerja di perusahaan iklan di Kansas City pada tahun 1920. Lalu pada tahun 1922, ia bersama dengan animator Ub Iwerks mendirikan studio Laugh-O-grams Films dan memulai serangkaian proses produksi film kartun.

Pada tahun 1923, ia mulai memproduksi film pendek Alice’s in Cartoonland. Namun beberapa minggu setelah film ini selesai diproduksi, Disney mengajukan pailit dan meninggalkan Kansas City untuk bekerja di Hollywood

Di tempat ini, dia mengajak saudaranya, Roy untuk menggarap kisah Alice dengan nama lain yakni Alice Comedies. Usahanya pun berhasil. Dia dikontrak oleh distributor asal New York, M. J Wrinkler untuk film Alice Comedy pada 16 Oktober 1923.

Tanggal ini pun kini dikenal sebagai awal berdirinya sebuah perusahaan animasi terbesar di dunia.

Pada awal berdirinya, Walt Disney Company dikenal dengan nama Disney Brothers Cartoon Studio. Perusahaan ini didirikan Walt Disney bersama dengan saudaranya, Roy. Menurut laman Walt Disney Company, Walt Disney membuat Alice Comedy selama empat tahun.

Lalu mereka memutuskan untuk berganti haluan ke serial kartun. Untuk menghidupkan serial ini, Walt Disney menciptakan karakter bernama Oswald the Lucky Rabbit.

Namun rencana ini tak berjalan mulus. Distributor serial kartunnya ternyata mendaftarkan paten semua animasi ciptaan Disney.

Ketika membaca ulang kontraknya, Walt Disney baru sadar, bahwa ia tidak memiliki hak untuk karakter Oswald. Sejak saat itu, Walt Disney selalu memastikan, bahwa dia memiliki seluruh hak atas karakter dan cerita yang ia buat.

Setelah kehilangan hak cipta atas Oswald, Walt Disney akhirnya menciptakan karakter baru yang kini dikenal dengan nama Mickey Mouse.

Mickey Mouse

Saat menciptakan kisah untuk Mickey, Walt bekerja sama dengan animator Ub Iwerks untuk menggarap dua film animasinya yaitu Plane Crazy (1928) dan Gallopin’ Gaucho (1928).

Tetapi, setelah film tersebut jadi, Walt tidak dapat menjualnya. Ini karena animasi yang mereka buat merupakan film bisu.

Perlu diketahui, saat itu, keberadaan audio mulai merevolusi industri film. Setelah itu, Walt membuat kartun Mickey Mouse ketiga berjudul Steamboat Willie.

Kali ini ia membuatnya dengan suara yang telah disinkronkan. Film ini mendapat sambutan hangat di Colony Theatre di New York pada 18 November 1928.

salah satu episode kartun Mickey Mouse (YouTube)

Pada saat itu, bintang animasi Mickey Mouse mulai dikenal bersamaan dengan lahirnya beberapa karakter lain.

Setelah kesuksesan Steamboat Willie, Walt Disney tak cepat berpuas diri. Ia segera menghasilkan animasi lain untuk mendukung serial Mickey.

Serial Silly Symphonies pun lahir. Di film ini, Walt Disney menampilkan berbagai karakter di setiap episodenya, seperti Donald Duck, Pluto, dan Goofy.

Setelah itu ia melahirkan kartun Flower and Trees yang merupakan animasi berwarna pertama.

Bersama dengan Silly Symphony, Flower and Trees berhasil memenangkan Academy Award untuk kategori Kartun Terbaik pada tahun 1932. Kemudian berturut-turut setelahnya, animasi keluaran Walt Disney selalu memenangkan Penghargaan Oscar hingga akhir dekade.

Bisnis Walt Disney mulai berkembang saat ia memperdagangkan lisensi Mickey Mouse. Saat itu, seorang pengusaha berniat membeli lisensi Mickey Mouse sebesar 300 dollar AS. Tentu saja tawaran ini disambut dengan hangat.

Segera setelah kerja sama dimulai, karakter Mickey Mouse mulai beredar di berbagai benda seperti pensil, sikat gigi, patung, boneka, dan lain-lain.

Pada tahun 1940, Walt Disney berhasil merilis dua film animasi yakni Fantasia dan Pinocchio. Namun dua mahakarya ini harus mengalami kenyataan pahit, saat perusahaan kesulitan memasarkan animasinya ke luar negeri.

Ini karena pada saat itu, Perang Dunia II mulai bergejolak, dan hal ini membuat Walt Disney kehilangan sebagian besar pasar luar negerinya karena perang.

Saat masa-masa perang, Walt Disney tetap merilis proyek film animasi. Kali ini, film Dumbo keluar pada tahun 1941 yang dibuat dengan anggaran terbatas. Kemudian, perusahaan juga merilis film lain yakni Bambi.

Namun karena biaya produksi yang sangat besar, studio ini akhirnya tutup. Penutupan studio animasinya tak lantas membuat Walt Disney menyerah. Selama perang berkecamuk, dia menerima tawaran pembuatan dua film di Amerika Selatan, yakni Saludos Amigos dan The Three Caballeros.

Film ini dibuat sebagai alat propaganda militer. Ketika perang berakhir, perusahaan sulit mendapatkan pijakan untuk kembali merilis film animasi. Walt kemudian memproduksi film-film pendek dan live action seperti So Dear to My Heart.

Setelah itu, Walt Disney kembali mendapatkan perhatian masyarakat saat ia berhasil mengeluarkan film aksi Treasure Island. Di tahun yang sama, ia juga merilis fillm animasi ikonik Cinderella serta serial televisi khusus spesial Natal.

Setelah dua serial televisi spesial Natal, Walt Disney masuk ke televisi pada tahun 1954 dengan dimulainya seri antologi Disneyland yang mengudara selama 29 tahun. Tak hanya itu, Mickey Mouse Club, salah satu serial anak-anak paling populer di televisi, memulai debutnya pada tahun 1955.

Setelah itu, Walt Disney mulai mengembangkan serangkaian serial televisi seperti Zorro, kemudian merilis Mary Poppins dan beragam karya lainnya.

Selain dari kartu, Walt Disney juga mengembangkan sebuah taman hiburan Disneyland. Ia mengaku membuat Disneyland terinspirasi saat ia membawa dua putrinya ke kebun binatang dan karnaval tetapi ia selalu duduk di bangku ketika mereka mengendarai komidi putar dan bersenang-senang.

Walt merasa bahwa dia harus ada taman di mana orang tua dan anak-anak dapat pergi dan bersenang-senang bersama. Setelah beberapa tahun perencanaan dan pembangunan, Disneyland pertama dibuka pada 17 Juli 1955.

Namun sayang, mimpi lain Walt Disney harus terkubur saat ia meninggal dunia pada 15 Desember 1966.

Akan tetapi Walt Disney menginspirasi banyak animator dunia untuk selalu berkarya. Tak terkecuali di Indonesia. Lalu bagaimana nasib animasi Indonesia usai Walt Disney tiada?

Kini Industri animasi dan computer graphics (CG) di Indonesia pun tengah berkembang karena terinspirasi sosok Walt Disney. Sektor industri tersebut dapat berkembang lebih besar sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional.

Saat ini, terdapat banyak studio animasi atau game lokal di Indonesia yang memiliki kapasitas tenaga kerja berkisar 100 hingga 300 orang. Beberapa studio tersebut sukses mengerjakan proyek sendiri, sedangkan studio-studio lainnya menyokong produksi film dari dalam dan luar negeri.

Sejumlah animator asal Indonesia pun telah berhasil merambah dunia animasi Hollywood, salah satunya Mike Wiluan.

CEO Infinite Studio itu menggarap beberapa film animasi seperti Meraih Mimpi (2008) hingga film-film internasional seperti Hitman: Agent 47 (2015) dan Crazy Rich Asian.

Selain itu, Ronny Gani juga menjadi bagian dalam tim visual effects untuk film-film Marvel Studio seperti The Avengers: End Game, Avengers: Infinity War, Ready Player One, dan Aquaman.

Melihat perkembangan industri kreatif tersebut, pemerintah berupaya untuk menciptakan program-program yang melahirkan animator kelas dunia. Kebijakan tersebut didukung Sinar Mas Land yang saat ini sedang menggarap kawasan Digital Hub.

Proyek itu merupakan salah satu pengembangan inovatif Sinar Mas Land bagi pelaku industri teknologi digital, mulai dari institusi pendidikan, komunitas, startup, hingga perusahaan berskala multinasional.

Selain Digital Hub, Sinar Mas Land tengah menggarap Nongsa D-Town yang bekerja sama dengan Citramas Group yang menjembatani kebutuhan digital talent dan teknologi antara Singapura dan Indonesia di area seluas 8 hektar (ha) di Batam.

Kerja sama tersebut dijalin melihat perkembangan animasi digital di Infinite Studios Batam yang begitu maju pesat.

“Kami optimistis dengan perkembangan kedua bidang ini baik dari segi kreatif maupun teknologi digital yang saat ini juga menjadi fokus kami, sejalan dengan pembangunan Digital Hub yang sedang berlangsung,” kata Project Leader Digital Hub dari Sinar Mas Land, Irawan Harahap, dalam pernyataan tertulis.

Sementara itu Pendiri Bengkel Animasi, Ronny Gani, menjelaskan kualitas SDM Indonesia masih ketinggalan jika dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Ronny Gani

“Kualitas animator Indonesia yang harus mampu bersaing secara internasional menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan dan perkembangan industri animasi kita,” ujar Ronny Gani,

Kondisi itu, lanjut Rony, sangat mengkhawatirkan. Untuk itu pihaknya menginginkan agar adanya kerjasama untuk membuat sebuah tempat industri animasi.

Seperti dirinya yang membuat bengkel animasi. “Mengingat banyaknya anak muda Indonesia yang ingin menjadi animator. Semua terinspirasi Walt Disney dan lain-lain,” katanya.

Terima kasih Walt Disney atas jasamu. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *