KOBAR Pastikan Anak STM Pembawa Bendera Disidang 12 Desember

KOBAR Pastikan Anak STM Pembawa Bendera Disidang 12 Desember

Luthfi akan melaksanakan persidangan Kamis (12/12/2019).

Luthfi Anak STM Pembawa Bendera Siap Disidang di PN Jakpus 12 Desember

Konten.co.id – Kuasa hukum Lutfi dari Lembaga Bantuan Hukum Komite Barisan Advokasi Rakyat (LBH KOBAR), Sutra Dewi memastikan Dede Luthfi Alfiandi (20) pemuda pembawa bendera yang viral saat demo di DPR bakal menjalani sidang perdananya, pada Kamis (12/12/2019) besok pukul 14.00 WIB.

“Sidang Lutfi Alfiandi hari Kamis tanggal 12 Desember 2019 di Pengadilan Jakarta Pusat,” katanya, Selasa (10/12/2019).

Sidang perdana Luthfi juga tertera di dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) dengan nomor 1306/Pid.B/2019/PN JKT.Pst. Sementara Nomor Surat Pelimpahan Luthfi dari Kejaksaan ke pengadilan Negeri Jakarta Pusat yaitu B-1255/0.1.10/Epp.2/12/2109. Dalam SIPP, Luthfi didakwa dengan Pasal 170, 212, 214, dan 218 KUHP.

Pasal 170 mengatur orang yang secara bersama-sama melakukan kekerasan dan pengrusakan di muka umum diganjar penjara maksimal lima tahun enam bulan. Hukuman ditambah jadi tujuh tahun jika mengakibatkan luka pada korban, sembilan tahun jika luka berat, dan sebelas tahun jika meninggal dunia.

Lalu, Pasal 212 KUHP mengatakan orang yang melakukan kekerasan pada aparat negara diancam hukuman penjara satu tahun empat bulan dan denda Rp4.500. Adapun Pasal 214 KUHP mengatur orang yang mengeroyok aparat negara diancam penjara maksimal tujuh tahun.

Hukuman meningkat jadi delapan tahun enam bulan jika mengakibatkan luka, dua belas tahun jika luka berat, dan lima belas tahun jika mengakibatkan kematian. Kemudian Pasal 218 KUHP mengancam penjara empat bulan dua minggu bagi orang yang tak mengindahkan peringatan aparat keamanan.

“Luthfi dimintai klarifikasi perkara terkait kejahatan terhadap penguasa umum,” tulis SIPP tersebut.

Adapun barang bukti dari Luthfi antara lain satu buah handphone, satu potong sweeter warna Abu-abu, sepasang sepatu warna hitam putih, satu buah bendera merah putih, dan satu potong celana sekolah warna abu-abu.

Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat Sugeng Riyanta mengatakan berkas Dede Lutfi Alfiandi (20) pembawa bendera yang viral saat demo telah diterima oleh pihaknya sejak Senin (25/11/2019).

Ia menyatakan hasil penyidikan terkait kasus Luthfi sudah lengkap atau P21. Berdasarkan berkas yang diterima Kejari Jakpus, Sugeng mengatakan Lutfi bukanlah anak STM dan usianya kini telah menginjak 20 tahun.

Kemudian saat melakukan unjuk rasa di sekitar Gedung DPR/MPR, Senin (30/9/2019), Lutfi terekam CCTV ketahuan melempat batu sebanyak dua kali kepada petugas keamanan yang saat itu tengah berjaga.

“Kemudian dia diperintahkan untuk bubar sampai jam 21.00 [9] malam, enggak mau. Itu kan sudah tindak pidana,” ucapnya.

Ia juga mengatakan tidak ada bukti yang menyatakan jika Lutfi ditangkap lantaran membawa bendera merah putih. “Tentang penyelamatan bendera itu sama sekali tidak ada fakta di dalam berkas,” jelas dia.

Diketahui kasus ini berawal dari seorang remaja yang menjadi perbincangan di media sosial. Luthfi disebut-sebut ditangkap polisi atas tuduhan melecehkan bendera Merah-Putih saat aksi demo di DPR.

Informasi soal ditangkapnya Luthfi ini awalnya muncul di jagat Twitter. Sebuah akun memberikan informasi ‘hilangnya’ Luthfi sambil membubuhkan foto–sosok pelajar STM yang berlari menghindari tembakan gas air mata sambil memegang bendera–yang diyakini adalah Luthfi.

Ia semula dikabarkan hilang selama 24 jam seusai aksi demo di DPR pada Senin (30/9/2019) lalu. Belakangan diketahui bahwa Luthfi ditangkap polisi.

Dalam posting-an foto yang lain, Luthfi disebutkan ditangkap polisi dengan tuduhan melakukan pelecehan terhadap bendera Merah-Putih

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Edy Suranta Sitepu menjelaskan kalau Luthfi bukan merupakan pelajar. Ia juga diamankan bukan karena melecehkan bendera merah-putih, tapi karena ikut keributan pada Senin lalu di Gedung DPR/MPR RI.

“Dia bukan pelajar, dan diamankan pada saat terjadinya kerusuhan tanggal 30 September 2019. Tidak ada kaitannya dengan pelecehan bendera,” kata Edy.

Ditangkapnya Luthfi pun menjadi pro kontra netizen. Netizen dengan akun twitter @ronavioleta mengaku sedih dengan hal itu.

Ia membandingkan kasus Luthfi yang hanya memegang bendera merah putih dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang membakar bendera saat kerusuhan di Papua.

“Innalillahi…. Dpt kabar Luthfi anak STM masih di penjara dg tuduhan pelecehan bendera. Benar kah ?? Kalau benar, Lalu gimana dg OPM / org yg bakar bendera merah putih wkt kerusuhan di papua ?? Kenapa hukum begitu gak adil?,” cuitnya.

Cuitan ini pun langsung direspon oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Fahira Idris. Ia mengatakan kalau kasus ini sudah ditangai oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kobar.

Ia pun berjanji akan mengawal kasus ini hingga Luthfi keluar dari penjara. “Alhamdulillah sudah ditangani LBH KOBAR, nanti sy akan bantu kawal juga kasus hukumnya..”

Hal ini pun mendapat tanggapan dari netizen lain. “Semoga cepat di bebaskan..mereka hanyalah anak muda yg bisa di kasih edukasi,bukan hukuman..hukuman hanya akan memperburuk penilaian mereka akan keadilan di negara ini..” cuit @regesaga.

“Ketika nyawa melayang di tangan Aparat Hukumannya cuma disiplin Adilkah Hukuman di negri Ini. Semoga di akhirat pelaku kekal di Neraka amin,” cuit @ ferdi_Orenz.

Sementara akun @f_jart mencuitkan, “Senegara rame protes doang, gx bisa apa mobilisasi massa aja, trus kita bebasin paksa gitu. Kelamaan kalo nunggu Negara mau berlaku adil. Keburu digebukin di sel tiap hari tu anak sama Polisi2.”

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *