Kisah Perang Candu 2, Ketika Inggris Taklukkan Kebesaran China

Kisah Perang Candu 2, Ketika Inggris Taklukkan Kebesaran China

Perang candu kedua 28 Desember 1857 menjatuhkan China karena candu ilegal dari inggris.

Kisah Perang Candu Kedua, Inggris Bisa Taklukkan Kebesaran Kerajaan China

Konten.co.id – Peperangan terjadi bukan hanya karena perseteruan besar. Tapi juga terjadi karena sebuah perdagangan. Seperti Perang Candu atau juga dikenal sebagai Perang Anglo-Tiongkok Kedua, Perang Tiongkok Kedua, Perang Panah, atau Ekspedisi Anglo-Prancis ke Tiongkok .

Perang ini adalah perang antara Inggris dan Prancis melawan Dinasti Qing Tiongkok, yang berlangsung dari 28 Desember 1857 sampai 1860.

Engraving depicting the French attack on the Bridge Pa-Li-Chian, China. Dated 1860. (Photo by: Photo12/Universal Images Group via Getty Images)

Ini adalah perang besar kedua dalam Perang Candu, yang berkaitan dengan masalah ekspor candu ke Tiongkok, dan mengakibatkan kekalahan kedua bagi Dinasti Qing. Kesepakatan Konvensi Peking menyebabkan Semenanjung Kowloon menjadi bagian dari Hong Kong.

Perang ini merupakan kelanjutan dari Perang Candu Pertama. Pada tahun 1842, Perjanjian Nanking – yang merupakan perjanjian pertama dari apa yang orang Tiongkok kemudian sebut sebagai Perjanjian Tidak Adil memberi ganti rugi dan hak ekstrateritorial kepada Inggris, pembukaan lima pelabuhan perjanjian, dan pengambilalihan Pulau Hong Kong.

CHINA – CIRCA 2002: Attack on the Canton forts. Second Opium War, China, 19th century. (Photo by DeAgostini/Getty Images)

Kegagalan perjanjian ini untuk memenuhi keinginan Inggris dalam meningkatkan hubungan perdagangan dan diplomatik memicu pecahnya Perang Candu Kedua (1856-1860). Di Tiongkok sendiri, Perang Candu Pertama dianggap sebagai awal dari sejarah Tiongkok modern.

CHINA – CIRCA 2002: Sir James Bruce, Earl of Elgin and Kincardine, signing the Treaty of Tientsin, June 1858, print. Second Opium War, China, 19th century. (Photo by DeAgostini/Getty Images)

Selama Perang Candu Pertama dan Kedua, Inggris berkali-kali mengalami serangan agresif di Tiongkok sehingga pada tahun 1847 Inggris meluncurkan Ekspedisi ke Kanton untuk menyerang dan mengambil dengan cara coup de main , benteng di Bocca Tigris yang dibombardir oleh meriam Inggris sebanyak 879 kali.

Sebagai hasil dari kekalahan yang dialami pemerintah China saat Perang Candu Pertama, perekonomian negara itu pun mulai terganggu. China dipaksa untuk membuka jalur perdagangan mereka dan mengizinkan perluasan hak perdagangan yang dipegang oleh negara-negara Barat.

Penderitaan pemerintahan Manchu di China semakin bertambah ketika mereka harus menghadapi Pemberontakan Taipin di wilayah perbatasannya sendiri yang ingin membangun ideologi baru di negeri itu.

Pada diplomat Inggris dan Prancis yang ditempatkan di China terus menekan pemerintah agar membuka diri dan memberikan keistimewaan bagi negara-negara Barat agar hubungan dua benua itu saling menguntungkan, walau kenyataannya Inggris hanya menginginkan keuntungan bagi negaranya sendiri.

Di tahun 1856, pemerintah China menangkap Arrow, kapal milik rakyat China yang mengibarkan bendera Inggris, British Union Jack. Kapal itu diketahui terlibat dalam sebuah perdagangan candu ilegal, yang melanggar kesepakatan antara Inggris dan China.

View of the British bombardment of the treaty port of Canton during the Second Opium War, Canton, China, 1850s. (Photo by Frederic Lewis/Getty Images)

Insiden itu lalu jadikan alasan oleh pemerintah Inggris dan Prancis untuk mengirimkan armada gabungan yang bertujuan menduduki pelabuhan Canton di selatan China pada 1857.

Setelah berhasil menguasai wilayah selatan China, armada gabungan itu lalu bergerak ke utara. Dalam waktu singkat, mereka berhasil menaklukkan dan menguasai Benteng Taku, di dekat kota Tientsin, yang menjadi benteng pertahanan penting bagi kekuatan China.

Pemerintah China yang sudah semakin pusing dengan tindakan rakyatnya menciptakan Pemberontakan Taipin, akhirnya membuat kesepakatan dengan Inggris, Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat untuk membantu memberantas pemberontakan tersebut. Pemerintah China kemudian menandatangani Perjanjian Tientsin pada bulan Juni 1858.

Dalam perjanjian itu, China setuju untuk membuka lebih banyak pelabuhan-pelabuhannya bagi misi perdagangan dengan bangsa asing, mengizinkan diplomat asing untuk tinggal di Peking, dan melegalkan perdagangan candu di seluruh wilayahnya.

Second opium War (1856-1860) between the British Empire and the Second French Empire against Qing Dynasty of China. Landing of the allied troops of France and Great Britain near at Beitang (Pei Tang) in China. Engraving in “L’Illustration”, 1860. Colored. (Photo by: PHAS/Universal Images Group via Getty Images)

Bagi sebuah negara dengan kebanggaan yang sangat tinggi seperti China Manchu, perjanjian seperti itu merupakan sebuah penghinaan berat.

Oleh karenanya, segera setelah perjanjian itu ditandatangani, para diplomat asing itu ditolak memasuki Peking. Bahkan sebuah pasukan milik Inggris dibantai oleh pasukan China di dekat Tientsin.

Pemerintah Inggris yang mengetahui hal itu bereaksi sangat keras dengan mengirimkan armada yang lebih besar untuk menaklukkan Tienstin. Pada 1860, Inggris dan Prancis mengalahkan pasukan China yang berada di luar Peking.

Kaisar China pun memilih untuk melarikan diri, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, bangsa asing, dalam hal ini orang-orang Barat, dapat memasuki ibu kota.

Portrait of Ye Mingchen (1807-1859) a high-ranking Chinese official during the Qing dynasty, known for his resistance to British influence in Canton (now known as Guangzhou) in the aftermath of the First Opium War and his role in the beginning of the Second Opium War. Dated 19th Century (Photo by: Universal History Archive/Universal Images Group via Getty Images)

Sekelompok pejabat pemerintah China melakukan perundingan dengan pihak Eropa, mewakili kaisar.

Para pejabat itu sepakat untuk membuat empat perjanjian baru dengan orang-orang Barat, salah satu poinnya tetap membuka jalur perdagangan melalui seluruh pelabuhan di China dan mengizinkan pejabat Inggris, Prancis, Rusia, dan Amerika untuk tinggal di Peking.

Perang Candu Kedua itu pada dasarnya telah membuka seluruh daratan China dengan pengaruh Barat. Tidak heran jika segala keputusan yang dilakukan oleh pemerintah Manchu China saat itu sebenarnya telah mengancam kedaulatan China sendiri. (*)

Penulis : Ade Indra

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *