Ketika Lumiere Bersaudara Geser Layar Tancap Lewat Bioskop

Ketika Lumiere Bersaudara Geser Layar Tancap Lewat Bioskop

Lumiere Bersaudara berhasil mengubah sejarah perfilman dunia dengan bioskop dan mengubah sejarah dunia.

Kisah Bioskop Lumiere Bersaudara Geser Layar Tancap Indonesia

Konten.co.id – 28 Desember 1985 adalah hari bersejarah dalam dunia film dunia. Bagaimana tidak saat itu dua bersaudara Louise Lumiere dan Auguste Lumiere melakukan pemutaran film komersial perdana di Grand Cafe, Paris, Perancis.

Hiburan ini kemudian menyebar ke seantero dunia. Gambar bergerak tanpa suara dapat mengisahkan keadaan pekerja di pabrik Lumiere, kedatangan kereta api di stasiun, serta bayi yang makan di sebuah pelabuhan.

Hal yang dilakukan oleh Lumiere Bersaudara mengilhami hadirnya bioskop, yang tentu saja membuat industri film kian berkembang. Akhirnya, masyarakat semakin antusias untuk menyaksikan film.

Dari Perancis hingga ke dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Pada 1900-an, bioskop hadir menemani pencintanya.

Ketika itu Indonesia masih belum merdeka dan dalam jajahan kolonial Belanda, akibatnya industri film berada dalam kontrol pemerintah kolonial. Batavia menjadi saksi awal industri bioskop pertama di Indonesia.

Bioskop itu adalah The Roijal Bioscope yang berada di sekitar Tanah Abang. Film dari Lumiere Bersaudara (The Guardian) Industri bioskop mulai meracuni orang-orang di Hindia Belanda. Bioskop mulai hadir di kota lain wilayah Hindia Belanda, termasuk Surakarta pada 1914.

Ketika itu, bioskop menampilkan film-film yang bisa dikatakan tanpa suara atau silent movie. Penonton dihadapkan dengan cerita yang disampaikan aktor dan aktris yang bergerak, tanpa adanya suara.

Era silent movie mulai berganti dengan film bersuara pada 1928. Tercatat bioskop pertama yang ada di Surakarta adalah Alhambra Bioscoop yang sekarang terletak di Pasar Kliwon Surakarta.

Kemudian juga ada Sriwedari Bioscoop dan Schowburg Bioscoop. Ketiga bioskop itu menandai awal dari perkembangan industri film di Surakarta.

Barulah muncul seperti Scala Teater, Het Centrum Bioscoop, Rex Bioscoop, Star Bioscoop, Grand Bioscoop, Ce Capitol Bioscoop dan masih banyak lainnya. Bioskop-bioskop itu menyuguhkan film sama yang diputar pada bioskop kota besar lainnya.

Bioskop di Surakarta umumnya menempati gedung yang luas dan nyaman. Selain menyediakan tempat khusus untuk menayangkan film, bioskop-bioskop ini juga penuh saat acara tertentu, misalnya Sekaten di Surakarta.

Strategi bioskop keliling (sistem tobong) digunakan untuk menayangkan film ke masyarakat lebih luas. Pihak penyelenggara menggunakan tempat dari bambu dan ditata menggunakan sedemikian rupa.

Sejarawan Ari Headbang menjelaskan, ada tiga bioskop yang membuka stand-nya pada 1928 untuk menjawab animo masyarakat pada momen Sekaten. Yakni Alhambra, Derealto, dan Apollo.

Cara tobong ini dianggap paling jitu bagi pihak bioskop untuk mendapatkan keuntungan dan melariskan filmnya. Berawal dari sistem tobong inilah, kemudian bermunculan pertunjukan yang dikenal dengan nama layar tancap.

Awalnya, layar tancap hanya untuk memutar film untuk keperluan edukasi dan penyuluhan, dan bukan hiburan. Pihak panitia biasanya menayangkan film bahaya penyakit pes dan malaria.

Karena hanya untuk edukasi, pemerintah kolonial Hindia Belanda tak memungut biaya sepeser pun. Masyarakat bumiputra yang belum pernah menonton film, tentu saja hadir dengan antusiasme tinggi.

Ini menimbulkan kesadaran akan kebersihan dan kesehatan. Dari sinilah, muncul inisiatif para pengusaha bioskop lokal untuk memberikan layanan film berkeliling yang menghadirkan film hiburan.

Era Jepang dan setelah kemerdekaan Ketika Jepang bercokol di Indonesia, fungsi bioskop hanya satu, yakni untuk tujuan propaganda. Film-film mendapat sensor resmi dari Jepang.

Nama bioskop yang kebarat-baratan pun harus diubah. Misalnya, Schouwburg Bioscoop menjadi Bioskop Indra dan Fajar Theatre, Alhambra Bioscoop menjadi Dewi Theatre.

Sementara Rex Bioscoop menjadi Restu Theatre dan Star Bioscoop menjadi Widuri Theatre. Setelah Indonesia merdeka, bermunculan bioskop-bioskop baru dengan kualitas gambar dan fasilitas yang lebih modern.

Karena didukung fasilitas yang lebih mumpuni, menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton. Pihak penyelenggara juga menyediakan majalah baru yang lebih segar dan terbit secara berkala bernama Filmgoers.

Selain menampilkan resensi film, majalah itu juga merekomendasikan film baru kepada masyarakat.

Menjamurnya animo masyarakat terhadap film, akhirnya memunculkan sistem kelas untuk penikmat film. Ketika itu bioskop juga membagi kelas penonton dengan harga dan fasilitas yang berbeda.

Kelas VIP ditempatkan di balkon atas, kelas I disebut loge di deretan tengah hingga belakang. Kelas II ada di tengah hingga ke depan mendekati layar.

Berbeda dengan sekarang, pihak bioskop pada waktu itu menyediakan lebih dari 500 kursi. Kini berbagai bioskop pun bermunculan.

Mulai dari Cineplex dan 21. Dengan teknologi 2D hingga 3D. Namun, kehadiran bioskop modern ini secara perlahan menggusur bioskop-bioskop tua.

Hingga akhirnya, bioskop tua nan bersejarah itu tutup karena kalah bersaing. Bahkan layar tancap yang dulu jadi alat hiburan masyarakat kini kian tersisih. (*)

Penulis : Ade Indra

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *