Kenang Sosok Herry IP Pencetak Ganda Putra Juara Dunia

Kenang Sosok Herry IP Pencetak Ganda Putra Juara Dunia

Herry IP pencetak empat juara dunia ganda putra Indonesia.

Mengenang Herry Iman Pierngadi, Pelatih Mencetak Empat Ganda Putra Juara Dunia

Konten.co.id – Indonesia dikenal sebagai penghasil juara dunia di cabang olahraga Badminton.

Keberhasilan Indonesia mencetak pebulu tangkis dunia seperti Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon serta Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan adalah buah hasil kerja keras Herry Iman Pierngadi.

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan adalah juara dunia terakhir yang dilatih Herry IP, nama panggilannya.

Ganda putra nomor dua dunia itu meraih gelar ketika Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis digelar di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, pertengahan Agustus lalu.

Gelar yang diraih Hendra/Ahsan bahkan bukanlah gelar juara dunia pertama. Ganda yang berlatih di pemusatan latihan nasional (pelatnas) bulu tangkis di Cipayung, Jakarta, ini meraih gelar serupa di Guangzhou, Tiongkok, pada 2013.

Sebelum ”melahirkan” Hendra/Ahsan, Herry juga yang mencetak pasangan Sigit Budiarto/Candra Wijaya yang menjadi juara dunia 1997, Tony Gunawan/Halim Haryanto (2001), dan Markis Kido/Hendra Setiawan (2007).

Di arena All England, anak asuh Herry juga beberapa kali meraih gelar, seperti Candra/Tony Gunawan (1999), Tony/Halim (2001), Sigit/Candra (2003), dan Hendra/Ahsan (2014).

Prestasi beberapa pasangan bahkan dilengkapi keping medali emas Olimpiade, seperti Candra/Tony dan Kido/Hendra yang menjadi juara, masing-masing di Sydney 2000 dan Beijing 2008.

Namun, sebelum Olimpiade 2008 berlangsung, terjadi pergeseran pelatih di pelatnas bulu tangkis. Kido/Hendra dilatih Sigit Pamungkas.

Setelah menjadi juara dunia dan All England 2014, masyarakat Indonesia pun berharap Hendra/Ahsan, yang disatukan di pengujung 2012, bisa melanjutkan tradisi emas Olimpiade yang terputus pada Olimpiade London 2012.

Hendra/Ahsan akan menjadi andalan meraih emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Prestasi Herry sebagai pelatih terbilang komplet. Namun, ayah dua anak ini belum puas dengan pencapaiannya.

Di belakang Hendra/Ahsan, Herry sudah menyiapkan beberapa pelapis.

Kini pasangan muda Angga Pratama/Ricky Karanda sudah memasuki jajaran elite dunia saat menjuarai turnamen Super Series Singapura Terbuka. Mereka kini berada di peringkat ke-11 dunia.

Ganda lain yang diharapkan bisa mengikuti jejak Hendra/Ahsan ialah Wahyu Nayaka/Ade Yusuf di peringkat ke-18 dunia.

Selain itu, ada duet Markus Gideon/Kevin Sanjaya yang saat ini sedang merangkak di peringkat atas.

Meski sudah melatih di pelatnas Cipayung sejak 1993, dikatakannya, mencetak juara bukan pekerjaan mudah.

Perlu ketekunan dan kejelian dalam melihat potensi pemain. Pelatih dan pemain harus memiliki hubungan yang baik.

Komunikasi bukan hanya soal teknik latihan atau strategi bertanding, melainkan juga hal yang bisa membentuk ikatan emosional.

Yang tak kalah penting, pelatih harus berani mengambil keputusan yang siap dipertanggungjawabkan.

Seperti pada Periode 1997-2001. Saat itu pasangan Sigit/Candra, yang sudah matang dan menjadi juara dunia, tiba-tiba dirombak.

Sigit dipasangkan dengan Halim, sedangkan Candra diduetkan dengan Tony. Keputusan itu kontroversial karena Olimpiade 2000 sudah di depan mata.

Namun, perhitungan Herry tidak meleset karena Candra/Tony akhirnya menjadi juara All England 1999 dan meraih emas olimpiade Sydney 2000.

Seusai Olimpiade, Sigit/Candra kembali disatukan, sedangkan Tony dipasangkan dengan Halim.

Hasilnya, Tony/Halim menjadi juara All England 2001 setelah di final mengalahkan Sigit/Candra. Di tahun itu pula Tony/Halim menjadi juara dunia.

Setelah era dua pasangan ini berakhir, Herry mulai mengupayakan regenerasi pemain. Prosesnya tidak instan. Dari beberapa pemain yang dibina, muncul Alvent Yulianto/Luluk Hadiyanto dan Hendra/Joko Riyadi.

Belakangan, mencuat nama Kido. Pemain klub Jaya Raya ini awalnya bermain di sektor tunggal. Namun, potensi besarnya muncul saat dipasangkan dengan Hendra.

Perlahan, kekuatan pasangan ini mulai diperhitungkan dan bisa jadi juara dunia 2007. Ironisnya, saat prestasi mereka melesat, nasib Herry justru di ujung tanduk.

Ia terdepak dari pelatnas. Posisinya digantikan asistennya, Sigit Pamungkas. Saat Kido/Hendra menjuarai Olimpiade Beijing 2008, Herry hanya bisa menyaksikan di layar TV.

”Saya didepak dari pelatnas tanpa alasan yang jelas. Mungkin, gaya melatih saya kurang cocok dengan pemain. Meski kecewa dan sakit hati, saya menerima keputusan itu,” kenang Herry.

Setelah keluar dari pelatnas, Herry mendapat sejumlah tawaran melatih di luar negeri. Namun, dia memilih berhenti total dari kegiatan bulu tangkis.

Herry pun banting setir ke bisnis jual beli burung murai dan penyelenggara lomba kicau burung.

”Mungkin saat itu saya begitu terpukul. Rasanya saya tak mau lagi berurusan dengan bulu tangkis dan melanjutkan hidup dengan menyalurkan hobi yang lain. Meski penghasilannya tidak besar, sudah cukup untuk menafkahi keluarga dan orangtua,” ujar Herry yang selama tiga tahun berkeliling ke wilayah Sumatera dan Jawa menjadi penyelenggara lomba kicau burung.

Di awal 2011, Herry menerima telepon dari Christian Hadinata, yang saat itu menjabat Kepala Sub-Bidang Pelatnas PBSI.

Herry diminta jadi pelatih ganda putra di pelatnas. Herry pun menerima tawaran itu.

Dia mulai memetakan kekuatan ganda putra. Dengan keluarnya Kido/Hendra dari pelatnas, Herry mengandalkan anak asuh lamanya, Bona Septano/Ahsan, sebagai kekuatan utama.

Lalu ada Angga/Rian Agung Saputra dan Ricky/Berry Anggriawan.

Namun, kekuatan muda ini belum matang. Tak heran jika pada Olimpiade London 2012 ganda putra gagal meraih emas.

Seusai Olimpiade 2012, Herry membuat perubahan lagi. Bona/Ahsan dinilai tidak bisa dipertahankan. Pada saat yang hampir bersamaan, Herry mendapat kabar bahwa Hendra akan kembali ke pelatnas.

”Saat itu, saya bicara dari hati ke hati dengan Bona dan Ahsan. Mereka pun bisa memahami penilaian saya. Sementara Hendra, dia justru bertanya kepada saya, apakah masih bisa berprestasi? Saya bilang, ’Kamu masih bisa bahkan untuk juara Olimpiade lagi’,” kata Herry.

Persoalan berikutnya adalah mencari pasangan yang pas. Herry melihat karakter permainan Hendra bisa cocok dengan Ahsan. Hasilnya, belum setahun berpasangan, mereka jadi juara dunia di Tiongkok pada 2013.

Rotasi juga dilakukan untuk Angga/Rian. Angga dipasangkan dengan Ricky, sedangkan Rian diduetkan dengan Berry Anggriawan.

”Tugas saya berikutnya adalah menjaga performa Hendra/Ahsan bisa tetap sampai Olimpiade 2016. Selain itu, tentu saja meningkatkan performa pasangan pelapis mereka untuk masuk jajaran elite dunia. Syukur-syukur jika kita bisa kirim dua pasangan ke Olimpiade. Buat saya, ini target dan tantangan yang harus saya jawab dengan perjuangan dan kerja keras,” ujar Herry.

Kini nasib ganda putra Indonesia berada di tangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya. Akankah keduanya bisa mencapai keberhasilan layaknya empat juara dunia lainnya?. (*)

Penulis : Ade Indra

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *