Kelahiran Charles Goodyear dan Kebesaran Ban Karet

Kelahiran Charles Goodyear dan Kebesaran Ban Karet

Kisah Kelahiran Charles Goodyear menemukan ban karet menjadi contoh perjuangan manusia.

Charles Goodyear Lahir, Tanda Kebesaran Ban Karet untuk Otomotif Dunia

Konten.co.id – Saat ini setiap kendaraan menggunakan ban karet. Kehadiran ban karet sendiri tidak terlepas dari kelahiran Charles Goodyear.

Charles Goodyear lahir di New Haven pada tanggal 29 Desember 1800.

Dia seorang yang berkebangsaan Amerika Serikat yang menemukan cara vulkanisasi karet atau penemu ban karet pada tahun 1839.

Ia kemudian mempatenkan penemuannya itu pada tahun 1844. Pada mulanya Charles Goodyear adalah seorang mantan pedagang gagal yang bangkrut dan sempat dipenjara akibat terlilit utang.

Pada tahun 1830an, dunia sedang mengalami demam karet dan Charles Goodyear pun tertarik menggeluti dunia karet.

Pada abad ke-18 karet digunakan sebagai bahan alternatif untuk dijadikan beberapa barang, namun pengolahannya belum sempurna.

Saat musim panas karet menjadi sangat lunak dan rapuh saat musim dingin. Sebuah penemuan mutakhir tercipta, ban terbuat dari karet muncul hasil tangan dingin pria kelahiran 1800 asal New Haven, Connecticut, AS.

Kisah Penemuan ban karet Goodyear sendiri dimulai pada Tahun 1834.

Saat itu Ia melewati toko ritel Roxbury India Rubber Company, Ia dikejutkan oleh produk baru yang dipamerkan.

Sebenarnya yang pertama kali menarik perhatiannya adalah katup mentah, lantas Ia pulang dan segera memperbaikinya.

Saat Charles kembali ke toko tersebut, sang manager toko memberitahunya bahwa Perusahaan Karet India Roxbury yang berusia satu tahun sebagai perusahaan karet pertama di AS berada di ambang kebangkrutan.

Sebagai informasi, ‘Demam Karet” memang sempat ngetrend pada 1930an dan permintaanya meningkat drastis hingga melahirkan pabrik di Roxbury – Massachusetts dan kota-kota lain di sekitar Boston.

Pabrik yang berdiri di tepi Sungai Aberjona mengambil alih sebuah bangunan bekas pabrik sutra dan mulai memproduksi berbagai barang olahan karet seperti celemek, topi, pakaian dan sepatu waterproof.

Sementara di Inggris ada dua sosok pria Thomas Hancock dan Charles Mackintosh yang pertama kali mengembangkan kain berlapis karet yang mereka buat menjadi jas hujan “Mackintosh” pada 1820-an. Mereka adalah Thomas Hancock dan Charles Mackintosh.

Banyak pelanggan membeli barang-barang yang terbuat dari kain karet di pabrik Roxbury, Massachusetts, tapi di musim panas barang-barang karet berubah drastis, berbau busuk dan di musim dingin, semua karet membeku kaku.

Akhirnya mereka memutuskan untuk mengubur barang yang menjadi sampah tersebut senilai $ 20.000. Bahkan sebagian besar pabrik karet di New England pun terpaksa tutup.

Disini Charles Goodyear punya keyakinan lain, sejak itu Ia mulai bereksperimen dengan bahan karet meskipun Ia tidak memiliki basic dibidang itu.

Waktu itu Ia memang baru saja kehilangan pekerjaan dari pabrik perangkat lunak.

Awalnya Ia terketuk hatinya dengan membuat karet pelampung , saat itu Charles membaca koran bahwa 20 orang tenggelam diseluruh dunia setiap jamnya.

Ia meyakini bahwa Tuhan memberikan misi khusus kepadanya, mencegah kehilangan nyawa dengan karet pelampung.

Karena Charles penggangguran dan harus menghidupi istri dan keluarganya, Ia tidak memiliki uang untuk mengembangkan ide tersebut. Ia pun akhirnya mendapat investor.

Kegagalan yang terus berulang membuat para investor panik, Charles terpaksa meminjam uang tanpa jaminan dan keluarganya pun jatuh miskin.

Karena terlilit hutang, Ia pun dipenjara. Charles sempat dianggap sebagai orang gila oleh para tetangganya, namun Ia tetap bertahan.

Meski tak lama hidup di penjara, semangatnya terus menggebu.

Charles meminta istrinya untuk membawakan sekumpulan karet mentah dan pin penggulungnya. Didalam selnya,Charles membuat eksperimen karet pertamanya selama berjam-jam.

Pada pembebasannya, Charles memohon kepada tetangga untuk beramal dan menggadaikan perabotan keluarganya, bahkan buku sekolah anak-anaknya.

Meski keluarganya terbengkalai dan kelaparan, Ia tetap berpegang teguh bahwa idenya akan berhasil.

Selepas dari penjara, Ia melanjutkan eksperimennya dan lagi-lagi gagal.

Para tetangganya mengeluh bau karet dari eksperimennya. Keluarga Charles pindah ke New York, tinggal disebuah kamar dilantai empat berkat bantuan teman baiknya. Kamar tersebut kemudian menjadi laboratorium kecilnya.

Lambat laun Ia mendapat pencerahan dengan menambahkan magnesium dan kapur pada olahan karetnya yang direbus.

Hasil produknya bisa dikatakan paling berhasil selama eksperimennya. Charles sempat mendapat medali dari pameran dagang di New York.

Tak puas sampai disitu, Ia terus melakukan tes. Pagi itu, Charles kehabisan bahan, Ia memutuskan menggunakan kembali sampel lamanya dan menambahkan asam nitrat.

Potongan itu menjadi hitam lalu Ia membuangnya.

Hari berlalu, Ia tiba-tiba berpikir tentang potongan hitam itu. Lantas Charles memungut kembali dari tempat sampah dan benar asam nitrat yang ditambahkan menghasilkan sesuatu yang brilian.

hasilnya mulus dan kering seperti kain. Ini adalah karet yang lebih baik dari yang pernah dibuat sebelumnya.

Dari hasil kerjanya, Charles mendapat investor dari seorang pengusaha di New York.

Akan tetapi financial panic yang terjadi tahun 1837, membuat Charles kehilangan investor.

Ia dan keluarganya harus mengungsi dengan berkemah dibekas pabrik karet di Staten Island, hidup dari menangkap ikan di Pelabuhan.

Dewi Fortuna sejenak memihak pada Charles, Ia mendapat dukungan dari Boston.

Rekan-rekannya membuat kontrak dengan pemerintah untuk 150 kantong surat, yang akan diproduksi oleh proses nitrat-asam.

Setelah membuat tas, Ia sangat yakin pada dirinya sendiri bahwa Ia menyimpannya dengan cara yang benar.

Charles pun membawa keluarganya untuk berlibur selama satu bulan. Ketika Ia kembali, tak disangka kantong surat telah meleleh.

Charles ternyata mengalami kegagalan dan merasa dititik terendah. Mereka pun pindah ke Woburn.

Petani disekitar mereka tinggal pun merasa kasihan dengan kehidupan keluarga Charles, sang petani pun memberikan anak-anaknya susu dan membiarkan mereka menggali kentang yang belum siap dipetik.

Saat musim dingin Charles mengidap penyakit dyspepsia atau gangguan pencernaan) dan asam urat.

Ia pun lemah namun tetap melakukan eksperimennya. Kali ini Ia menggunakan belerang, terus mencobanya tanpa henti.

Ia memanggang potongan karet dipasir panas, mengukusnya diteko, mengepres diantara besi panas. Meski kesehatan dan perekonomiannya terhimpit, Ia tetap optimis.

Musim semi tiba, Charles pergi ke Boston untuk mencari temannya, namun tidak ditemukan. Ia dipenjara karena tak bisa membayar tagihan hotel sebesar $ 5.

Saat kembali kerumah Ia mendapati putranya meninggal. Karena tidak mampu membayar pemakaman, Ia mengangkut peti kecil itu ke kuburan dengan kendaraan pinjaman.

Dari 12 anak-anaknya, enam meninggal pada masa bayi.

Usai itu, Charles mendapat terobosan, seorang mantan mitra bisnis, Nathaniel Hayward, memberitahunya tentang pencampuran lateks cair dengan belerang dan memanaskannya di bawah sinar matahari.

sebuah proses yang nyaris menghasilkan karet dalam bentuk yang lentur dan stabil.

Pada suatu pagi tahun 1839, Ia mengambil langkah berikutnya dengan menaruh beberapa ramuan karet sulfur ke tungku pembakaran kayu dan bentuk seperti kulit yang dihasilkan adalah karet vulkanisasi pertama di dunia.

Kali ini Charles menemukan formula yang tepat.

Ada ungkapan berkata bahwa proses lebih penting daripada hasil. Setuju kan?

Charles membawa keluarganya kembali ke Massachusetts dimana pabrik karet pertama negara itu berada.

Dengan segala kesusahan, kegigihan dan ketekunan Charles berhasil menciptakan ban karet. Kisahnya tak berakhir sampai disini, karena Ia butuh 5 tahun lagi untuk mematenkan produknya. Itupun tak berjalan mulus.

Charles memang sedikit lambat dalam usaha mengajukan permohonan paten. Dia mengirim sampel karetnya ke perusahaan karet di Inggris tanpa rincian.

Sialnya, sampel ini dilihat oleh pelopor karet di Inggris Thomas Hancock, yang telah mencoba selama 20 tahun untuk membuat karet yang tahan cuaca.

Hancock melihat sulaman berwarna kuning dipermukaan sampel Charles. Dengan petunjuk itu, Hancock menciptakan kembali karet vulkanis pada tahun 1843.

Pada saat Charles mengajukan permohonan paten di Inggris, Ia baru tahu bahwa Hancock telah mengajukan paten beberapa minggu sebelumnya.

Dengan terpaksa kasus ini dibawa ke ranah pengadilan. Perjuangannya berbuah manis, tahun 1844 Charles Goodyear menerima hak paten untuk ban karet vulkanisir.

Charles Goodyear dinyatakan sebagai penemu hebat dipameran Internasional pada tahun 1850. Kegigihan Charles patut kita acungi dua jempol.

Tahun 1860, Charles kembali ke pangkuan sang ilahi dengan meninggalkan hutang sebesar $ 200.000.

Meski demikian, hutang tersebut bisa dilunasi dari akumulasi royalti. Istri dan anaknya pun bisa hidup nyaman.

Tahun 1898, ban karet ini mulai berkembang dengan didirikannya Goodyear Tire and Rubber company oleh Frank Seiberling, seorang bussinesman asal Ohio.

Meski Frank dan sang penemu tidak memiliki hubungan, namun nama perusahaan tersebut sengaja disematkan sebagai sebuah bentuk penghargaan terhadap Charles Goodyear yang menciptakan vulkanisasi karet.

Pabrik yang bermarkas di Ohio, AS, ini kini memproduksi ban untuk mobil, pesawat terbang, dan mesin berat.

Dalam penelusuran, Charles Goodyear memiliki quote.

“Hidup, tak bisa dinilai dengan uang. Saya tidak mengeluh apa yang telah saya tanam sementara orang lain mengumpulkan buah. Seorang pria memiliki alasan untuk menyesal ketika dia menabur tapi tidak menuainya”.

Kini siapa yang tak kenal Goodyear?karyanya menjadi alat yang kita gunakan setiap hari. (*)

Penulis : Ade Indra

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *