Hari Ibu, Kisah Di balik Peringatannya yang Salah Kaprah

Hari Ibu, Kisah Di balik Peringatannya yang Salah Kaprah

22 Desember diperingati Hari Ibu, setelah Diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928.

Kisah Peringatan Hari Ibu yang Dinilai Keluar dari Esensinya

Konten.co.id – Setiap satu tahun sekali Hari Ibu diperingati dan dirayakan masyarakat Indonesia. Tepat tanggal 22 Desember, lini masa media sosial akan ramai dengan ucapan kasih dan kebahagiaan kepada Ibu.

Namun tahukah bahwa sejarah di balik peringatan nan bahagia ini? Pada awalnya Hari Ibu bukanlah momen untuk mengungkapkan kasih sayang atau rasa terimakasih kepada orang yang melahirkan kita. Ada kisah kelam nan menyayat hati di balik perayaan itu.

Pada awalnya Hari Ibu adalah ungkapan berkabung bagi para perempuan yang ditinggal suaminya saat perang dunia. Orang pertama yang membuat Hari Ibu adalah Anna Jarvis, hingga saat ini dengan jasanya Hari Ibu menjadi populer.

Saat itu tahun 1850-an, Anna Jarvis dengan dengan organisasinya yang bernama Ann Reeves Jarvis menggelar acara Hari Ibu dengan mendirikan klub kerja. Kelompok itu memegang misi untuk memperbaiki sanitasi dan menurunkan angka kematian bayi.

Anna dan organisasinya mencoba menekan angka kematian bayi dengan melawan penyakit, dan mengurangi pencemaran pada susu.

Sejarawan Katharine Antonili, West Virginia Wesleyan College, menyebutkan bahwa bukan hanya saja memperhatikan Ibu dan Anak, kelompok tersebut juga merawat tentara -dari kedua belah pihak, yang terluka selama Perang Saudara di AS, dari tahun 1861-1865.

Pasca perang berakhir, Anna Jarvis dan organisasinya lmenyelenggarakan piknik Hari Persahabatan Ibu, serta acara lainnya sebagai strategi untuk mendamaikan pihak yang bertikai. Julia Ward Howe, komposer “The Battle Hymn of the Republic”, menerbitkan “Proklamasi Hari Ibu” yang banyak dibaca pada tahun 1870.

Proklamasi tersebut meminta wanita untuk mengambil peran politik aktif dalam mempromosikan perdamaian. Anna Jarvis pun telah memulai Hari Persahabatan Ibu untuk seluruh pihak di negaranya.

Kematian ibunya pada tahun 1905 telah mengispirasi Anna dalam mengatur peringatan Hari Ibu pertama di tahun 1908. Fakta menariknya adalah Anna Jarvis tidak pernah memiliki seorang anak.

Hari Ibu Berubah menjadi Mesin Konsumerisme

Hari ibu mulai dirayakan dimana-mana diseluruh negara bagian AS pada tanggal 10 Mei 1908. Sampai akhirnya di tahun 1914, Presiden AS Woodrow Wilson secara resmi memberikan pernyataan bahwa Hari Ibu di AS, jatuh pada hari minggu kedua di bulan Mei, dan ditetapkan sebagai hari libur.

Seorang penulis buku ‘Memorializing Motherhood: Anna Jarvis and the Defense of Her Mother’s Day’, Antonili, mengatakan “Hari ibu bukan untuk merayakan semua ibu, itu untuk merayakan ibu terbaik yang pernah Kamu kenal, ibumu sendiri.”

Antolini mengungkapkan, alasan Anna Jarvis menulis Hari Ibu dalam bentuk tunggal (mother’s day) bukan jamak (mothers’ day).

Namun siapa sangka, kesuksesan Anna berubah menjadi kerumitan dan kesalah pahaman.

Gagasan Anna Jarvis tentang Hari Ibu dengan cepat berubah menjadi komersial yang berpusat pada pembelian dan pemberian bunga, permen, dan kartu ucapan. Konsep Hari Ibu telah berubah menjadi mesin konsumerisme.

Anna pun melawan dengan mendedikasikan dirinya untuk mengembalikan makna terhormat Hari Ibu. Dengan melakukan gerakan boikot, mengancam tuntutan hukum, dan bahkan memprotes Ibu Negara Eleanor Roosevelt karena menggunakan Hari Ibu untuk mengumpulkan dana amal.

“Pada tahun 1923 dia memprotes konvensi penjual manisan di Philadelphia” kata Antolini.

Di Tahun 1925 Anna Jarvis pun pernah memprotes organisasi The American War Mothers yang menggunakan Hari Ibu untuk penggalangan dana, dan menjual anyelir setiap tahun.

“Anna membenci itu, jadi dia memprotes konvensi 1925 di Philadelphia dan benar-benar ditangkap karena dianggap mengganggu konvensi,” ucap Antolini. Perlawanan Anna Jarvis untuk mereformasi Hari Ibu berlanjut sampai setidaknya awal 1940an.

Pada tahun 1948 dia meninggal di usia 84 Tahun di Philadelphia’s Marshall Square Sanitarium. “Perempuan ini, yang meninggal tanpa uang sepeser pun di sebuah sanatorium dalam keadaan demensia, adalah seorang wanita yang bisa mendapatkan keuntungan dari Hari Ibu jika dia mau,” kata Antolini.

Hari Ibu di Indonesia

Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928.

Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Di Indonesia pun Hari Ibu telah banyak berubah, dimana hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Orang-orang saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya.

Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928.

Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra.

Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan lainnya. Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Berita Pilihan :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Video

Berita pilihan