Hari Anti Korupsi Sedunia : Yakin CPI Indonesia Mengalami Kenaikan?

Hari Anti Korupsi  Sedunia : Yakin CPI Indonesia Mengalami Kenaikan?

Transparency International merilis Corruption Perception Index yang ke-23 untuk pengukuran tahun 2018.

Hari Anti Korupsi Sedunia, Index Persepsi Korupsi Indonesia Cuma Naik Satu Poin

Konten.co.id – Hari Anti Korupsi Sedunia diperingati setiap tahun tepat tanggal 9 Desember. Peringatan ini dimulai sejak 31 Oktober 2003 setelah konsepsi PBB melawan korupsi.

Melalui resolusi 58/4 pada 31 Oktober 2003 PBB menetapkan tanggal 9 Desember sebagai Hari Korupsi International. Pertemuan itu mendesak semua negara dan organisasi integrasi ekonomi regional yang kompeten untuk menandatangani dan meratifikasi Konvensi PBB melawan Korupsi.

Korupsi sebagai fenomena sosial, ekonomi, politik yang kompleks yang sangat mempengaruhi pertumbuhan sebuah negara dan memperlambat pembangunan ekonomi yang dampaknya membuat negara tidak stabil.
Tujuan anti korupsi adalah guna meningkatkan kesadaran terhadap korupsi yang mempunyai dampak negatif kepada masyarakat.

Index Persepsi Korupsi Indonesia

Pada 29 Januari 2019 Transparency International kembali merilis Corruption Perception Index yang ke-23 untuk tahun pengukuran 2018. CPI 2018 mengacu pada 13 survei dan penilaian ahli untuk mengukur korupsi sektor publik di 180 negara dan teritori. Penilaian CPI didasarkan pada skor. Skor dari 0 berarti sangat korup dan 100 sangat bersih.
Pada CPI 2018 mengungkapkan bahwa terjadi kemerosotan dalam upaya pemberantasan korupsi oleh sebagian besar negara. Lebih dari 2/3 negara yang disurvei berada di bawah skor 50 dengan skor rata-rata global 43. Sejak 2015, rata-rata skor CPI secara global mengalami stagnasi di angka 43.

Temuan ini diungkapkan oleh Patricia Moreira, Direktur Pelaksana Transparency International di Berlin.
“Kegagalan sebagian besar negara untuk mengendalikan korupsi telah terbukti berkontribusi pada krisis demokrasi di seluruh dunia.”, kata Moreira.

Sementara itu Peneliti Transparency International Indonesia, Wawan Suyatmiko mengungkapkan Indonesia juga turut serta menjadi salah satu negara yang dinilai.

“CPI Indonesia tahun 2018 berada di skor 38 dan berada di peringkat 89 dari 180 negara yang disurvei. skor ini meningkat 1 poin dari tahun 2017 lalu. Hal ini menunjukkan upaya positif antikorupsi yang telah dilakukan oleh berbagai pihak, baik itu Pemerintah, Komisi Pemberantasan Korupsi, kalangan bisnis dan juga masyarakat sipil.” ungkap Wawan.

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi keempat negara dilihat dari tingkat korupsinya. Tiga negara yang ada di atas Indonesia yaitu Malaysia dengan skor IPK 47, Brunei Darussalam dengan skor 62 dan Singapura dengan skor IPK 84.

Terdapat dua sumber data yang menyumbang kenaikan CPI Indonesia di tahun 2018. Yakni Global Insight Country Risk Ratings dan Political and Economy Risk Consultancy. Sementara itu, lima dari sembilan indeks mengalami stagnasi, yakni World Economic Forum, Political Risk Service, Bertelsmann Foundation Transformation Index, Economist Intelligence Unit Country Ratings, World Justice Project – Rule of Law Index. Sedangkan dua mengalami penurunan yakni IMD World Competitiveness Yearbook dan Varieties of Democracy.

“Peningkatan terbesar dikontribusikan oleh Global Insight Ratings dengan peningkatan sebesar 12 poin dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh lahirnya sejumlah paket kemudahan berusaha dan sektor perizinan yang ramah investasi. Sedangkan penurunan terbesar dikontribusikan pada IMD World Competitiveness dengan penurunan sebesar 3 poin. Penurunan skor ini dipicu oleh makin maraknya praktik korupsi dalam sistem politik di Indonesia.” tambah Wawan.

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *