FPI Geram Ucapan Minta Maaf Gus Muwafiq Tidak Serius

FPI Geram Ucapan Minta Maaf Gus Muwafiq Tidak Serius

FPI menilai perkataan maaf Gus Muwafiq tidak serius dan tulus.

Ucapan Minta Maaf Gus Muwafiq Tidak Serius, FPI Geram dan Tetap Lapor ke Polisi

Konten.co.id – Pendakwah Ahmad Muwafiq atau akrab disapa Gus Muwafiq mendapat sorotan media massa dan warganet setelah ceramahnya dianggap menghina Nabi Muhammad SAW.

Gus Muwafiq pun dilaporkan anggota DPP Front Pembela Islam (FPI) Amir Hasanudin ke Bareskrim, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Pasal yang disangkakan adalah Pasal 156a Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penistaan agama. Tapi laporan FPI ditolak Bareskrim lantaran terdapat barang bukti yang kurang memenuhi persyaratan.

Ceramah Muwafiq yang menggunakan bahasa Jawa itu belum diterjemahkan oleh FPI ke dalam bahasa Indonesia. “Iya hanya penyelidik masih tidak mengerti artinya saja. Walau kami sudah menuliskan maksudnya,” kata kuasa Hukum FPI Aziz Yanuar dalam tayangan YouTube Apa Kabar Indonesia Malam, Rabu (3/12/2019).

Meski Gus Muwaffiq sudah meminta maaf, pihaknya mengaku tetap akan melaporkan ke polisi. Pihaknya menilai kalau permintaan maaf tersebut tidaklah tulus. “Kalau kami menilai ada kata ‘kalau ada kata-kata saya yang dianggap’ dan lain sebagainya, tidak ada ingin meminta maaf atau mencabut pernyataannya kami anggap tidak serius,” katanya.

Pihaknya menyatakan poin yang diutamakan menuntut Gus Muwaffiq adalah dengan menyamakan Rasulullah SAW tentulah tidak pantas. “Dengan menyamakan Nabi Muhammad SAW dengan dirinya sendiri adalah tidak pantas,” katanya.

Pihaknya menilai kalau Nabi Muhammad SAW harus dimuliakan. Dengan perkataannya, menunjukkan kalau Gus Muwaffiq tidak memuliakan Rasulullah SAW.

Selain kata ‘Rembes’ yang dicapkan Gus Muwaffiq, Aziz mengatakan kalau ada perkataan lain yang dilontarkan Gus Muwaffiq. Yaitu Warkah atau dukun Siti Khadijah ketakutan begitu melihat Nabi Muhammad SAW.

“Atas dasar inilah kami melaporkan (Gus Muwaffiq) agar dia ada efek jera. Kami pun meminta kepada masyarakat janganlah menilai sesuatu tanpa dasar,” ucapnya.

Sementara Ketua GP Ansor Jawa Tengah Mujiburohman mengatakan kalau yang dibicarakan adalah orang yang paling dimuliakan di sisi Allah SWT. Semua orang pasti akan memuliakan Beliau.

Selain itu juga akan menggambarkan Rasulullah SAW dengan berbagai cara. Baik yang biasa saja atau berlebih.

Hal tersebut seperti dilakukan Gus Muwaffiq. Terlebih ia adalah kyai Nadhlatul Ulama (NU) yang tentu menjunjung tinggi Rasulullah SAW.

Oleh karenanya, ia mengaku tidak bisa mengatakan kalau Gus Muwaffiq menghina Nabi. “Kalau ada yang mengatakan menghina Nabi mungkin persepsinya berbeda. Apa betul kata-kata itu ada di kitab,” ucapnya.

Ia mengatakan kalau dilihat dari dimensi kemanusiaan, Nabi Muhammad SAW punya sifat manusiawi.

Nabi Muhammad SAW juga memiliki kebiasaan seperti manusia lain. Makan, minum, tidur , berkeluarga dan menggembala kambing. Ini justru menunjukkan betapa istimewanya Nabi,” ucapnya.

Meski diucapkan dengan kata ‘Rembes’ dan lain-lain, pihaknya menilai kalau hal ini menunjukkan keistimewaan Nabi Muhammad SAW. “Ia manusia dan diatas rata-rata manusia lain,” imbuhnya.

Sementara sebelumnya, ceramah yang terjadi di Purwodadi, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu ini mengisahkan tentang kelahiran Nabi Muhammad dan kehidupannya di masa kecil.

Ia menyebut Rasulullah lahir biasa saja seperti bayi-bayi pada umumnya. Sebab jika ia bersinar seperti keyakinan umat Islam selama ini, maka ia gampang ketahuan oleh Abrahah yang saat itu tengah menyerang Makah dengan pasukan gajah. Ia juga mengatakan nabi saat kecil “rembes” karena ikut kakeknya, Abdul Muthalib.

“Rembes itu dalam bahasa Jawa artinya ‘punya umbel’, tidak ada lain, bahasa saya ‘rembes’ itu umbelan itu. Ini terkait juga dengan pertanyaan biasanya apakah anak yang ikut dengan kakeknya, ini kan bersih, karena kakek, kan, saking cintanya sama cucu sampai kadang cucunya apa-apa juga boleh. Hal itu saja yang sebenarnya,” kata dia

“Ini bukan masalah keyakinan. Ini tantangan, kita sering ditantang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan milenial yang kadang kita sendiri sudah enggak tahu jawabannya. Mereka sudah enggak percaya dengan jawaban-jawaban kita,” terangnya.

“Mungkin hanya inilah cara Allah menegur agar ada lebih adab terhadap Rasulullah. Pada seluruh kaum muslimin saya mohon maaf,” katanya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *