Bos Jiwasraya Ungkap Alasan Sulit Ganti Polis Nasabah

Bos Jiwasraya Ungkap Alasan Sulit Ganti Polis Nasabah

Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hexana Tri Sasongko menyebut Jiwasraya tak punya modal untuk kembalikan asuransi nasabah.

Bos Jiwasraya Akui Kehabisan Modal untuk Bayar Polis Asuransi Nasabah

Konten.co.id – Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hexana Tri Sasongko menjelaskan betapa perusahaan asuransi warisan Belanda ini tak sanggup membayar polis yang jatuh tempo Oktober-Desember 2019 itu.

Hexana mengatakan perseroan tak lagi memiliki saham perusahaan induk media Republika itu.

“ABBA enggak ada [lagi], BJBR [PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk.] masih, ” katanya.

Mantan Senior Executive Vice President Direktorat Treasury & Global Services PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ini mengatakan saham ABBA dimiliki hanya sekali, dengan satu kali transaksi jual beli dalam jumlah kecil yakni pada Januari 2014 sebesar Rp 14 miliar.

“…dan untung Rp 2,8 miliar [sudah dilepas Desember 2014]. Ini sudah saya teliti murni trading-nya trader. Ini tidak ada window dressing [aksi mempercantik laporan keuangan jelang akhir tahun],” jelas Hexana. “Sudah dijual lama [saham ABBA],” tegasnya.

Hexana berlatar belakang bankir. Dia mengawali karier di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) sejak tahun 1999. Situs Jiwasraya mencatat Hexana menjalani karier BRI dengan beberapa posisi antara lain Kepala Bagian Pasar Uang Divisi Treasury Kantor Pusat BRI (1999), Kepala Divisi Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Kantor Pusat BRI (2011), dan Kepala Divisi Corporate Development & Strategy Kantor Pusat BRI (2014).

Jabatan lainnya yakni Senior Executive Vice President Direktorat IT Strategy & Satelite BRI (2015), Senior Executive Vice President Direktorat Treasury & Global Services BRI (2017), sebelum akhirnya ditetapkan sebagai Direktur Investasi dan Teknologi Informasi Jiwasraya pada 18 Mei 2018.

Pada 5 November 2018, dia ditetapkan sebagai Direktur Utama Jiwasraya. Hexana, lahir di Klaten 23 Maret 1964, adalah lulusan Sarjana Hukum dari Universitas Airlangga pada 1986 dan meraih gelar MBA program International Bussines di Monash Mt. Eliza Business School Monash University, Melbourne, Australia tahun 1996.

“Kami menyelamatkan perusahaan dan mencari alternatif solusi. Menjalankan transformasi dengan Sunarso [Dirut Bank BRI],” ucapnya.

Ia mengaku yang dilakukannya bersama Asmawi Syam, mantan Dirut Jiwasraya, menggali persoalan perusahaan.

“saya membuat recost analysis, agar strategi penyelesaian jelas.” kata dia.

Ternyata, untuk memahami Jiwasraya tidak dari satu angle akibat korban sebab akibat, tapi ini berlangsung kompleks.

Katanya, Solusi perusahaan bukan solusi sebuah bisnis asuransi biasa. Solusinya tidak gampang.

” Benar bahwa Jiwasraya sudah lama balance sheet (neraca) tidak sehat dan solusinya selama itu sampai hari itu adalah balance sheet engineering, belum fundamental solution, Jiwasraya mengalami masalah di likuiditas dan arus kas dan solvabilitas sejak lama pascakrisis, sampai hari ini belum ada penyehatan, ” ujarnya.

Lalu, Kenapa begitu besar gagal bayar yang ditanggung Rp 12,4 T?

Dari bisnis model, ada dua kelompok, kompak tradisional dan bancassurance.

Produk tradisional Jiwasraya jangka panjang. Negara kita makin maju, suku bunga turun, guarantee 14%, makin lama rugi makin lebar, ini kesalahan modeling.

“Tanpa diperbaiki Jiwasraya tidak pernah sehat. JS akan rugi terus, kalau tidak disembuhkan,” imbuhnya.

Lalu, muncul produk JS Saving Plan yang memberi guarentee return yang tinggi, akhirnya negatif spread menggulung.

Untuk asuransi yang tradisional 7,75-14% nett return. Saving Plan return 7,75-10% nett untuk Saving Plan, ini juga mengalami negatif spread.

“Investasi saham 75 persen, fine saham bisa dijual, maka harusnya yang high quality, mestinya harus sisihkan dalam high quality liquid aset supaya bisa membayar kewajiban jangka pendek. Maka terjadilah gagal bayar,” ucapnya.

Untuk jalan keluarnya, dari guarantee harus ke unit link, ada program restrukturisasi.

” Kalau tidak diperbaiki percuma kalau diselamatkan. Investasi harus hati-hati, sejak 2018 tidak memiliki kemampuan investasi.” tuturnya

Akar masalah, pertama, dikelompokkan karena product misspricing.

Kedua kegiatan investasi nekat. Hanya 5% saham yang diinvestasikan di LQ45, dari 22,4% aset finansial atau Rp 5,7 triliun. Reksa dana 59,1% atau Rp 14,9 triliun dan hanya 2% dikelola top manajer investasi di Indonesia.

Ketiga, aggressive window dressing yang dilakukan dengan cara, untuk menunjukkan trading profitability.

Modusnya saham overprice dibeli oleh Jiwasraya kemudian dijual pada harga negosiasi.

Hal ini dibuktikan dengan aset investasi Jiwasraya yang dimasukkan pada saham dan reksa dana saham yang underlying assetnya sama dengan portofolio saham langsung.

Keempat, tekanan likuiditas dari produk JS Saving Plan. Ada penurunan kepercayaan nasabah terhadap produk Saving Plan dan menyebabkan penurunan penjualan.

Selanjutnya, tidak cukup backup asset yang cukup untuk memenuhi kewajiban, akhirnya menyebabkan gagal bayar.

Diucapkannya Pada 2006-2018 penyehatan secara fundamental belum dilakukan, hanya 2009-2012 berupa reasuransi.

“Itu balance sheet engineering. Problem di awal seperti dijelaskan adalah likuiditas dan solvabilitas,” ucapnya.

Mulai agresif ke saham kualitas rendah 2014 karena mengejar return, hal itu memang bisa liar volatilitasnya.

potensial upside tinggi, tapi downside-nya juga tinggi, bahkan market jatuh yang lain recover dia belum tentu.” Artinya, liquidity manajemen kurang ketat.” ujarnya.

“Per 31 Desember ekuitas negatif Rp 10,24 triliun, likuiditas terganggu atau gagal bayar dan defisit sebesar Rp 15,83 triliun,” tukasnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Berita Pilihan :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Video

Berita pilihan