Basket Lahir dari Ingatan Masa Kecil Dr. James Naismith

Basket Lahir dari Ingatan Masa Kecil Dr. James Naismith

The invention of basketball was not an accident. It was developed to meet a need. Those boys simply would not play ‘Drop the Handkerchief. – James Naismith

Lahir dari Ingatan Masa Kecil Dr. James Naismith, Kini Basket Mendunia

Konten.co.id – Senin, 21 Desember 1891, Dr. James Naismith, seorang guru olahraga asal Kanada yang mengajar di sebuah perguruan tinggi untuk para siswa profesional di YMCA di Springfield, Massachusetts. Dirinya harus membuat suatu permainan yang bisa dimainkan di ruang tertutup guna mengisi waktu para siswa pada masa liburan musim dingin di New England.

James kemudian terpikirkan permainan yang pernah dimainkannya dimasa kecil, ia lalu menuliskan peraturan dasar untuk memainkan permainannya, dengan menempelkan sebuah keranjang di diniding ruang gelanggang olahraga dan menyuruh para siswanya untuk mulai memainkan permainan ciptaannya itu, yang hari ini dikenal dengan olahraga Basket.

Pertandingan resmi Olahraga Basket untuk pertama kalinya diselenggrakan pada 20 Januari 1892, berlokasi di tempat kerja Dr. James Naismith. Kata “Basket” adalah sebutan yang diucapkan oleh salah seorang muridnya.

Setelah itu olahraga ini kian pesat dan terkenal seantero Amerika Serikat. Penggermar panatik pun tersebar di seleuruh cabang di Amerika Serikat. Pertandingan demi pertandingan pun digelar di kora-kota negara bagian Amerika Serikat.

Pada mulanya, permainan ini dengan tim berjumlah sembilan orang dan tidak ada dribble, sehingga bola hanya dapat berpindah melalui lemparan. Sejarah peraturan permainan basket diawali dari 13 aturan dasar yang ditulis sendiri oleh James Naismith.

Ada tiga posisi utama dalam bermain basket, yaitu, Forward : pemain yang tugas utamanya adalah mencetak poin dengan memasukkan bola ke keranjang lawan, Defense : pemain yang tugas utamanya adalah menjaga pemain lawan agar pemain lawan kesulitan memasukkan bola dan Playmaker : pemain yang menjadi tokoh kunci permainan dengan mengatur alur bola dan strategi yang dimainkan oleh rekan-rekan setimnya.

Bola basket adalah salah satu olahraga yang paling digemari oleh penduduk Amerika Serikat dan penduduk di belahan bumi lainnya, antara lain di Amerika Selatan, Eropa Selatan, Lithuania, dan juga di Indonesia. Banyak kompetisi bola basket yang diselenggarakan setiap tahun, seperti British Basketball League (BBL) di Inggris, National Basketball Association (NBA) di Amerika dan Indonesia Basketball League (IBL) di Indonesia.

Perkembangan Basket di Indonesia

Tahun 1920-an, perantau-perantai China masuk ke Indonesia. Mereka pun membawa permainan basket yang sudah dua dasawarsa dikembangkan di negeri tirai bambu itu. Para perantau itu membentuk komunitas sendiri termasuk mendirikan sekolah Tionghoa. Akhirnya, basket cepat berkembang di sekolah-sekolah Tionghoa.

Kemudian Basket diwajibkan oleh sekolah-sekolah Tionghoa, yang dimainkan rutin oleh setiap siswa. Lalu pada era 1930-an perkumpulan-perkumpulan basket mulai terbentuk. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Medan, menjadi sentral berdirinya perkumpulan basket ini.

Di Semarang tahun 1930 sudah ada perkumpulan seperti Chinese English School, Tionghwa Hwee, Fe Leon Ti Yu Hui, dan Pheng Yu Hui (Sahabat). Sahabat adalah klub asal Sony Hendrawan (Liem Tjien Sion), salah satu legenda basket Indonesia.

Olahraga Basket mulai dikenal luas di kota-kota yang menjadi basis perjuangan seperti Yogyakarta dan Solo setelah Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Kemudian pada PON (Pekan Olahraga Nasional) I (1948) di Solo, bola basket dimainkan untuk pertama kali di level nasional.

Tahun 1951 saat pergelaran PON II, basket sudah dimainkan untuk putra dan putri. Regu yang dikirim tidak lagi mewakili Karesidenan melainkan sudah mewakili Provinsi. Regu-regu dari Jatim, DKI Jakarta, Jabar, dan Sumatra Utara adalah kekuatan-kekuatan terkemuka di pentas PON.

Pada tahun 1951, Maladi -salah satu tokoh olahraga nasional- meminta Tonny Wen dan Wim Latumeten untuk membentuk organisasi basket di Indonesia. Jabatan Maladi waktu itu adalah sekretaris Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

Atas prakarsa kedua tokoh itu maka pada 23 Oktober 1951 dibentuklah organisasi dengan nama “Persatuan Basketball Seluruh Indonesia”. Pada tahun 1955, diadakan penyempurnaan nama sesuai kaidah Bahasa Indonesia. Nama itu adalah “Persatuan Bola Basket seluruh Indonesia” disingkat dengan Perbasi. Pengurus Perbasi yang pertama adalah Tonny Wen sebagai ketua dan Wim Latumeten sebagai sekretaris.

Dengan terbentuknya organisasi tersebut terjadi gesekan antara perkumpulan Tionghoa yang tidak bersedia bergabung karena sudah memiliki organisasi sendiri.

Untuk memecahkan masalah tersebut, pada tahun 1955 Perbasi menyelenggarakan Konferensi Bola Basket di Bandung. Konferensi ini dihadiri utusan-utusan dari Yogyakarta, Semarang, Jakarta, dan Bandung.

Keputusan terpenting Konferensi ini adalah Perbasi merupakan satu- satunya organisasi induk olahraga basket di Indonesia. Istilah-istilah untuk perkumpulan-perkumpulan basket Tionghoa tidak diakui lagi. Konferensi ini juga mempersiapkan penyelenggaraan Kongres I Perbasi.

Perbasi diterima menjadi anggota FIBA pada tahun 1953. Setahun kemudian, 1954, Indonesia untuk pertama kalinya mengirimkan regu basket di Asian Games Manila.

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *