Alasan Tagar #WisataHalalAlaKardun Jadi Trending di Twitter

Alasan Tagar #WisataHalalAlaKardun Jadi Trending di Twitter

Tagar #WisataHalalAlaKardun sebagai bentuk protes terhadap larangan meniup terompet di Bogor tapi tidak membersihkan banyak penginapan nakal.

Bupati Bogor Larang Tiup Terompet dan Biarkan Penginapan ‘Nakal’, Netizen Trendingkan Tagar #WisataHalalAlaKardun

Konten.co.id – Hari ini, Senin (30/12/2019) jagat twitter ramai dengan tagar #WisataHalalAlaKardun. Ribuan cuitan menggunakan tagar ini.

“Hari ini tagar kita #WisataHalalAlaKadrun, yuk ramein, kita bongkar abis wisata esek2 berkedok halal ala kadrun yg jelas2 sudah mencoreng pariwisata Puncak, Kabupaten Bogor. Btw, Please…videonya jangan dikasih tau kadrun ya, bisa2 di boikot lasekar tuh pantai, gaswat” cuit @Dwiyana_DKM.

Sementara akun @bangzul_88 mencuitkan, “#WisataHalalAlaKadrun Dulu ketika Ahok Gubernur DKI, Beliau sudah berani menutup tempat² prostitusi. Karena, agama manapun tidak membenarkan mencari nafkah dgn cara melacurkan diri. #WisataHalalAlaKadrun Kita patut bersyukur, Jakarta sudah bersyariah,”

“Wisata bukan soal agama, melainkan soal kegembiraan #WisataHalalAlaKadrun” cuit @AriestaRiico.

Lalu kenapa tagar #WisataHalalAlaKardun bisa jadi trending di twitter?

Hal ini karena beberapa waktu lalu adanya surat edaran terkait Warga Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang diimbau tidak menyalakan kembang api, petasan, dan meniup terompet pada malam Tahun Baru 2020. Pelarangan itu, tercantum dalam surat edaran Bupati Bogor Ade Yasin.

Surat Edaran itu dikirim ke kepala perangkat daerah, pimpinan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), camat, kepala desa atau lurah, pimpinan organisasi atau lembaga, tokoh masyarakat serta kepala keluarga.

“Tidak menyalakan kembang api, petasan dan peniupan terompet serta konvoi kendaraan bermotor,” demikian tertera dalam surat edaran yang ditandatangani Ade Yasin, Kamis (26/12).

Menurut Ade Yasin, surat edaran itu dimaksudkan agar pimpinan di lembaga tersebut mengingatkan dan membimbing anggota keluarga, pemuda dan anggota organisasi yang ada di Kabupaten Bogor.

“Ini juga sekaligus dalam rangka mendukung ‘Karsa Bogor Berkeadaban’ serta untuk memelihara ketenteraman dan ketertiban di tengah masyarakat,” kata Ade.

Lebih lanjut, Bupati perempuan yang juga merupakan Ketua DPW Jawa Barat Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menjelaskan, surat edaran tersebut berisi empat poin imbauan. Tiga poin lainnya, berisi imbauan agar tidak merayakan pergantian malam tahun baru dengan berlebihan (hura-hura), tidak bermanfaat serta perbuatan yang melanggar norma hukum dan agama.

Kemudian, mengimbau agar memanfaatkan momentum pergantian tahun untuk meningkatkan ibadah, rasa keprihatinan atas bencana, kepedulian dan kepekaan sosial antar sesama.

Terakhir, imbauan khusus masyarakat yang beragama Islam untuk meningkatkan salat berjamaah, zikir, istigosah, dan muhasabah diri.

Namun, hal ini bertentangan dengan masih adanya penginapan ‘nakal’ yang berjamuran di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.

“Kalau sekarang masih ada, di dekat puncak Pass dan disekitar Matahari juga masih banyak,” kata salah satu narasumber yang enggan disebutkan namanya kepada Konten.co.id, Senin (30/12/2019).

Hal ini pun menimbulkan keresahan. Menurutnya, justru ada baiknya bukan dilarang untuk meniup terompet tapi lebih untuk menghapus tempat penginapan yang digunakan untuk ‘hubungan gelap’.

“Kalau terompet kan itu usaha kecil dan Menengan (UKM) masyarakat, justru mematikan usaha masyarakat dan tidak meresahkan,” ucapnya.

“Kalau penginapan yang buat ‘begitu’ ya mending diberantas,” tambahnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *