Ada Apa dengan Sinterklas Hitam, Soekarno dan Vatikan?

Ada Apa dengan Sinterklas Hitam, Soekarno dan Vatikan?

Presiden Soekarno menentang Sinterklas Hitam karena ingin mengusir Belanda yang ingin menguasai Papua Barat, makanya Vatikan pun menghormatinya tanpa ada permusuhan antar agama.

Kisah Soekarno Menentang Sinterklas Hitam, Damai dengan Vatikan

Konten.co.id – Menjelang natal, sinterklas selalu jadi idola hingga ada perayaan Hari Sinterklas tanggal 5 Desember.

Tapi, presiden Republik Indonesia Soekarno pernah mengambil keputusan politik yang dikenal sebagai “Sinterklas Hitam”. Ia melarang perayaan Hari Sinterklas.

Orang Belanda percaya Sinterklas datang dari Spanyol. Di Hindia Belanda, “sosok” Sinterklas yang tiba di Batavia akan dijemput wali kota Batavia, lalu diarak keliling kota. Setiap instansi pemerintah dan perusahaan Belanda merayakan Hari Sinterklas.

Setelah Proklamasi, bahkan setelah penyerahan kedaulatan pasca Konferensi Meja Bundar 1949, orang-orang Belanda, maupun Indo-Belanda, masih banyak yang tinggal di Indonesia. Mereka tetap melanjutkan perayaan Hari Sinterklas pada 5 Desember.

Pada 1957, hubungan Indonesia-Belanda sangat panas. Isu Irian Barat menjadi topik utama, dipicu kegagalan Indonesia mendapatkan dukungan di Sidang PBB dalam isu Irian Barat pada bulan November.

Bung Karno memulai kampanye nasionalisasi. Dia pun menekan pemerintah Belanda dengan mengusir orang-orang Belanda di Tanah Air.

Salah satu yang menjadi sasaran adalah Hari Sinterklas. Bung Karno melarang keras perayaan tersebut walau pun ia pernah menerima kedatangan “sosok” Sinterklas di Istana Negara pada 1955.

Namun itu tak berlaku lagi pada 1957. Tak ada arak-arakan Sinterklas. Kendati mengejutkan, juga menghebohkan, namun reaksi umat Kristiani di Indonesia tidak terlalu keras.

Kendati terkait perayaan Natal, namun Hari Sinterklas lebih dipandang sebagai tradisi Belanda ketimbang ritual peribadatan.

“Seandainya Bung Karno melarang pesta Natal, nah, barulah orang Kristen patut marah,” tulis Frieda Amran dalam bukunya Jakarta 1950an.

Lalu apakah dengan ini hubungan antara Soekarno dan kaum kristiani jadi buruk?

Jawabannya tidak. Justru Presiden Soekarno amat disegani kaum kristiani. Khususnya di Vatikan.

Diketahui peristiwa Sinterklas Hitam itu terjadi hanya kurang dua tahun dari kunjungan Soekarno ke Vatikan. Pada Juni 1956, Sukarno berkunjung ke Vatikan. Presiden pertama Indonesia ini diterima langsung oleh Paus Pius XIII pada 13 Juni 1956.

Tiga tahun berselang dari kunjungan pertama, Soekarno kembali berkunjung ke Vatikan. Ia tiba di Vatikan pada 14 Mei 1959. Paus Yohanes XXIII sendiri yang langsung menerima kedatangan Sukarno saat itu.

Tidak cukup dengan dua kunjungan tersebut, pada 1964 Sukarno kembali bertandang ke Vatikan. Pada kunjungannya yang ketiga dan terakhir ke Vatikan ini, kurang setahun dari terjadinya peristiwa berdarah 1 Oktober 1965, Soekarno diterima langsung oleh Paus Paulus VI pada 12 Oktober 1964.

Pada kunjungan terakhirnya ini, pihak Vatikan bahkan membuatkan prangko khusus untuk Soekarno. Tak hanya itu, Vatikan juga menghadiahi sang proklamator dengan sebuah cenderamata berupa lukisan mosaik Castel san Angelo Vatican.

Dalam delapan tahun, Soekarno bahkan berkunjung tiga kali. Lebih istimewa lagi, Bung Karno disambut oleh Paus yang berbeda-beda yaitu Paus Yohanes XXIII, Paus Pius XIII dan Paus Paulus VI.

Ini bukan jumlah kunjungan yang biasa, apalagi mengingat Bung Karno sendiri seorang muslim, sekaligus pemimpin sebuah negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia.

Pada setiap kunjungan tersebut, ia selalu menerima medali penghargaan tertinggi dari Vatikan. Dan Si Bung Besar bangga dengan hal itu.

Dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, Sukarno berkata: “Bahkan Presiden Irlandia pun mengeluh padaku bahwa dia hanya memperoleh satu. lanjut Bung Karno.”

Presiden Irlandia, Éamon de Valera, negeri Katolik yang bahkan rela “membangkang” terhadap kerajaan Inggris karena salah satunya motif keagamaan ini, malah hanya menerima satu medali.

“Saya saja hanya punya satu penghargaan dari Vatikan. Saya iri dengan Anda,” keluh De Valera, sebagaimana dituturkan Sukarno kepada Cindy Adams.

Bagi Romo Y.B. Mangunwijaya, medali yang diberikan langsung oleh Paus di Vatikan ini bukan semata karena Bung Karno berkunjung ke Roma belaka.

Soekarno dianggap prototipe pemimpin yang dapat mengayomi setiap kelompok, termasuk berbagai agama.

Pancasila dianggap sebagai jasa besarnya yang membuat Indonesia, setidaknya bisa menjadi contoh yang bagus bagaimana kehidupan antar umat beragama dapat berlangsung.

Wah ternyata Soekarno hebat ya?. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *