Trik Rizal Ramli Agar Keuangan BPJS Aman Tanpa Naikkan Iuran

Trik Rizal Ramli Agar Keuangan BPJS Aman Tanpa Naikkan Iuran

Ada tiga trik yang dinilai Rizal Ramli untuk selamatkan keuangan BPJS Kesehatan.

Simak Trik Rizal Ramli Agar Keuangan BPJS Kesehatan Aman Tanpa Harus Naikkan Iuran

Konten.co.id – Awal tahun ini iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan akan dinaikkan. Kenaikan ini diduga karena BPJS mengalami defisit keuangan. Hal ini pun membuat rakyat panik.

Ekonom Rizal Ramli pun memiliki solusi atas permasalahan tersebut ketimbang harus menaikkan iuran BPJS yang akan membebani masyarakat.

“Kurangi beban bunga surat utang yang 8,34 persen, kalau dikurangi 1,5 persen saja cukup dapat uang Rp 29 trilliun, cukup buat nutupin (defisit) BPJS,” ujarnya dilansir rmol.id.

Namun hal ini membutuhkan keberanian dari pemerintah. Terutama Menteri Keuangan Sri Mulyani.

“Enggak punya nyali, enggak punya kemampuan, gak bisa nyaur surat utang, bisanya bebani rakyat,” jelas RR.

Pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan hingga 100 persen pada 1 Januari 2020. Kelas 3 menjadi Rp 42.000 dari Rp 25.500; Kelas 2 menjadi Rp 110.000 dari Rp 51.000; Kelas 1 menjadi Rp 160.000 dari Rp 80.000.

Selain kenaikan untuk peserta mandiri, diatur juga kenaikan untuk peserta penerima bantuan iuran (PBI). Iuran PBI menjadi Rp 42.000 naik dari Rp 23.000. Kenaikan iuran yang berasal dari anggaran pemerintah ini akan berlaku surut pada 1 Agustus 2019.

Selain itu, lanjutnya, kontribusi pegawai dan perusahaan harus dikaji ulang. Diketahui Di seluruh dunia, BPJS ada kontribusi pegawai dan kontribusi perusahaan sebesar 4 sampai 6 kali.

“Singapura begitu, di Malaysia begitu, sehingga keuangan BPJS jauh lebih sehat,” ungkapnya.

Kontribusi tersebut tidak terjadi di Indonesia. Pemerintah pun diharuskan melakukan penekanan sehingga hanya dua kali dari kontribusi pegawai.

“Itupun di-top up kalau enggak salah Rp 16 juta, lebih dari Rp 16 juta dianggap Rp 16 juta. Itu mengakibatkan sumber pendanaan BPJS sangat lemah,” sebut RR.

Pihaknya pun menyarankan agar BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan agar digabung. Hal ini agar keuangan keduanya mudah diatur.

“Konsep awal kan menggabungkan dua-duanya, kalau itu digabungi saling mendukung. BPJS Ketenagakerjaan surplus banyak, ngapain bikin dua kita bikinnya satu masuknya sama, untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja dan rakyat biasa,” tutupnya.

“Kebijakan itu kan pilihan ada kebijakan yang menguntungkan rakyat, ya, teken bunga surat hutang bisa selamatin BPJS. Yang kedua, naikin kontribusi perusahaan yang empat kali, misalnya, pasti akan lebih sehat, enggak perlu dinaikin (iuran),” tuturnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *