Saat Musisi Jadi YouTuber, Tanda Industri Musik Indonesia Mati Suri?

Saat Musisi Jadi YouTuber, Tanda Industri Musik Indonesia Mati Suri?

Sejumlah musisi kini beralih mengisi Konten YouTube daripada konser atau menciptakan karya musik pertanda musik Indonesia mati suri.

Musisi Jadi Youtuber, Apakah Tanda Industri Musik Indonesia Mati Suri?

Konten.co.id – YouTube kini menjadi pilihan banyak orang untuk mengekspresikan diri. Bahkan mencari penghasilan lewat dunia digital.

Banyak orang dari berbagai kalangan pun ikut ‘banting stir’ meninggalkan pekerjaan lama hanya untuk mencari pundi- pundi rupiah lewat aplikasi video ini. Tak terkecuali para musisi Indonesia.

Sebut saja Anji, Hanin Dhiya, hingga seorang legenda musik Indonesia Ari Lasso pun ikut meramaikan dunia YouTube dengan vlognya. Bahkan, nama terakhir kini baru saja merayakan 200 ribu subscribersnya.

“Hujan rintik rintik menyambut tembusnya 200K Subs ARI LASSO TV Tunggu video lirik #TERLALUBERARTI yaa Felass,” katanya dalam akun instagramnya.

Akun YouTubenya yang bernama Ari Lasso TV sendiri memiliki berbagai konten. Vlog kuliner hingga cover lagu dan berbagai prank pun ada didalam akun YouTubenya tersebut.

Lalu apakah dengan terjunnya para musisi merupakan penurunan karir? Atau mereka sudah tidak laku lagi?

Kita telisik dulu bagaimana perkembangan YouTube. Di tangan Google, YouTube benar-benar menjadi situs yang menjanjikan.

Popularitasnya semakin melonjak dan berkembang menjadi industri yang menggiurkan, serta bertindak sebagai platform bagi pembuat konten asli, yang menawarkan iklan besar maupun kecil.

Hal ini jauh dari prediksi awal ketiga pendirinya yakni Chad Hurley, Steve Chen dan Jawed Karim. Sejak didirikan pada Februari 2005, tiga sekawan ini sempat pesimistis terhadap keberlangsungan perusahaannya.

YouTube mendapatkan suntikan dana pertama dari Sequoia Capital pada November 2005. Setahun kemudian, situs ini dibeli oleh Google seharga $1,65 miliar atau setara Rp23,76 triliun.

Berapa pendapatan YouTube? Menurut laporan Forbes, pendapatan YouTube pada tahun 2013 mencapai $3 miliar dan pada tahun 2014 mencapai $4 miliar. Sementara menurut laporan Music Business Worldwide, pada tahun 2015, YouTube diperkirakan telah mendapat sekitar 9 miliar dolar AS.

Sementara untuk pengeluaran, Ken Sena, analis di bank investasi Evercore ISI memperkirakan bahwa YouTube akan membayar sekitar 5 miliar dolar AS kepada pencipta konten dan pemegang hak.

YouTube memang bagai dua sisi mata uang, di satu sisi platform ini mampu mencetak miliarder seperti Felix Kjellberg yang dalam sebulan mampu mengumpulkan $12 juta atau Rp156 miliar melalui kanal “PewDiePie”. Di satu sisi, para musisi sekelas Paul McCartney dan Katy Perry juga mengkritik YouTube karena dinilai tak adil dalam memberikan royalti dan melanggar hak cipta.

Terkait musisi Indonesia yang mulai ikut-ikutan jadi YouTuber, penyanyi Anji mengungkap bahwa ia memilih YouTube sebagai dunia barunya karena menyadari satu hal.

“Ada beberapa hal, Pertama, beradaptasi. Lu harus beradaptasi atau lu mati. Gue kan bukan musisi yang ratingnya bagus,” kata Anji dikutip dari Kompas.com.

Ia mengaku beradaptasi dengan perkembangan zaman, terutama dalam hal yang berbau digital. “So I have to be Youtuber,” katanya.

Selain itu, YouTube juga sudah menjadi “taman bermain digital” bagi kaum muda saat ini, termasuk anak-anaknya. “Anak gue SMP yang gede. Mereka ngomonginnya YouTube, gue harus tahu supaya ngomongnya nyambung dan mereka bangga loh gue jadi YouTuber. Teman-temannya nonton gue he he he,” ucap Anji. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *