Penuh Haru, Kisah Sekuel Cinta Ebiet G Ade dan Camellia

Penuh Haru, Kisah Sekuel Cinta Ebiet G Ade dan Camellia

Ungkapan cinta pada Camellia mampu membawa Ebiet menerjang industri musik tanah air, namanya seketika melambung hingga membuatnya takut, ketakutan itulah yang membuat Ebiet membunuh (menghentikan) sosok Camellia di Album Camellia IV.

Ebiet G Ade dan Sosok Camellia, siapakah dia?

Konten.co.id – Melintas jauh menembus setiap zaman, Ebiet G Ade. Ribuan hati telah ia buat enyuh, menusuk memporak-porandakan isi hati. Begitulah kiranya kekuatan syair yang ia susun, syarat makna, menembus pekat, menerjang kelam.

Abid Ghoffar bin Aboe Djafar nama lengkapnya. Ia terlahir dan menjeritkan suara pertamanya pada 21 April 1954 di Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah. Ia terlahir dengan enam bersaudara, anak Aboe Djafar seorang PNS, dan Saodah, seorang pedagang kain.

Panggilan Ebiet melekat dalam dirinya saat ia mengikuti kursus bahasa Inggris, sang guru yang merupakan orang asing kesulitan mengucapkan Abid, dengan aksen barat. Abid lalu dipanggil Ebiet karena dalam bahasa Inggris “A” dibaca “E”. Sementara huruf “G” dalam nama tengahnya adalah Ghoffar dan “Ade” adalah singkatan nama ayahnya Aboe Djafar. Sempurnalah menjadi nama Ebiet G Ade.

Saat usianya mulai merangkak dewasa, Ebiet hidup dalam lingkungan seni, kelihaiannya dalam menulis puisi menjadi ruh utama atas lahirnya karya-karya legendaris. Dengan dukungan para sahabat seperti, Emha Ainun Nadzib, Eko Tunas, dan E.H Kartanegara. Empat bersahabat itu dikenal dengan 4E.

Proses berpikir kreatif Ebiet banyak dihabiskan di kamar Emha Ainun, dari sanalah Ebiet mampu menyerap banyak referensi dalam segala hal dan dari kamar Emha itulah langkah kesenian Ebiet bermula.

Atas dorongan sahabat-sahabatnya di tahun 1979 ia diterima oleh Jackson Record dengan mengeluarkan album pertamanya “Camellia”. Camellia berhasil menggebrak pasar musik Indonesia, terbukti Album Camelia terjual lebih dari 2 juta keping.

Ebiet mencurahkan cinta pada Camellia, nampaknya sosok Camellia begitu istimewa hingga lahirlah Tetralogi Camellia. Camellia I (1979), Camellia II (1979), Camellia III (1980), Camellia IV (1980).

Pada Camellia I Ebiet menghadirkan sosok perempuan yang kerap hadir dalam mimpi disetiap tidurnya, wajahnya sejuk bak titik-titik embun membasahi daun jambu, bersayap yang setiap kepakannya anggun, kecil, lincah berkeping. Ebiet namai perempuan itu Camellia, sosok perempuan dengan sejuta keanggunan yang mampu membasuh hati dan kering jiwa.

“Kini datang mengisi hidup, ulurkan mesra tanganmu, bergetaran rasa jiwaku menerima karuniamu. Camellia ooh Camellia.” Camellia I membuat Ebiet jatuh pada palung cinta yang dalam.

Namun ungkapan cinta Ebiet belum sampai pada kepemilikan atas Camellia, dalam Camellia I Ebiet masih memposisikan dirinya sebagai pengagum, mencinta dengan diam dengan hanya mampu ia ungkap dalam gejolak hatinya sendiri.

Hari-hari indah itupun masih berlangsung, Ebiet memutuskan terus mengejar Camellia, dalam masa pencariannya ia tumpahkan pengejaran itu lewat album keduanya, Camellia II. Dalam Camellia II ia mempunyai tekad untuk terus menjaring cinta Camellia.

Nampaknya sampan ada pengayuh tidak, usaha Ebiet tidak semulus yang diharapkan, pengejarannya atas cinta Camellia menemui banyak intervensi dan penolakan dari luar. Dalam ungkapannya di Camellia II Ebiet menuliskan cemoohan banyak orang tentang kebesaran mimpinya mengejar Camellia.

“Tiba-tiba langkahku terhenti, sejuta tangan telah menahanku. Ingin kumaki mereka berkata, tak perlu kau berlalu mengejar mimpi yang tak pasti, hari ini juga mimpi maka biarkan ia datang dihatimu.. dihatimu..”

Alih-alih menyerah, tekad Ebiet tak mudah dikalahkan oleh suara-suara sumbang yang menahannya mengejar Camellia. Tekadnya itu mampu membawanya pada cinta yang selama ini ia mimpikan, cinta utuh dari seorang Camellia. Camellia mampu jatuh dalam pelukannya, bahkan Camellia terkadang sering menggoda Ebiet saat bernyanyi. Sesekali Camellia pernah menyelipkan kembang pada tali gitar yang sedang Ebiet mainkan. Cinta mereka tumbuh dan saling terpaut satu sama lain, nyata bukan hanya dalam angan. Saling mengerti dengan apa yang mereka simpan dalam mata mereka masing-masing.

Cinta dua sejoli yang mengalir sebening embun itu semakin jauh merekat pada kedalam jiwa mereka. Dalam perjalanan cintanya itu, Ebiet membuat sebuah kesalahan yang sepanjang hidupnya tidak akan mungkin mampu ia lupa. Kesalahan itu membuat Camellia pergi dan menyisakan banyak kenangan. Penyesalan Ebiet ia ungkapkan dalam album Camellia III

“disini kau petikan kembang kemudian engkau selipkan pada tali gitarku. Maafkan bila waktu itu kucabut dan kubuang, kau pungut lagi dan kau bersihkan”

“Engkau berlari sambil menangis, kau dekap erat kembang itu, sekarang aku mengerti ternyata kembangmu kembang terakhir, yang terakhir. Ooh Camelia katakanlah di satu mimpiku, ooh Camellia maafkanlah segala khilaf dan salahku.”

Pagi menampakkan diri, Ebiet kembali bersenandung, riuh ombak menambah rindu dan gelisah. “Ohh Camellia maafkan aku.” Ia jatuh pada jurang kesepian yang mendalam, tak ada angin gunung yang mendengarkan keluhan dan jeritannya, tak ada yang membebaskannya dari belenggu sang sepi. Ia senandungkan kesepianya di Album Camellia IV.

Camellia meninggal dunia, menyisakan lara, menghujam menusuk pada setiap inci penyesalan Ebiet. Dalam Camellia IV Ebiet menuliskan pesan terakhirnya

“Batu hitam diatas tanah merah, disini akan kutumpahkan rindu, kugenggam lalu kutaburkan kembang, berlutut dan berdoa syurgalah di tanganmu Tuhanlah disisi mu. Kematianlah hanyalah tidur panjang maka mimpi indahlah engkau Camellia.”

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Satire

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Berita Video

Berita pilihan