Kudeta Berdarah 20 November Di Masjidil Haram

Kudeta Berdarah 20 November Di Masjidil Haram

Juhaiman al-Utaib dalang utamanya, ia meyakini bahwa Imam Mahdi telah hadir, ia dan pengikutnya menguasai Masjidil Haram selama 13 hari.

Kudeta Masjidil Haram Bergejolak, Sejumlah Jemaah Haji Indonesia Menjadi Korban.

Konten.co.id – Satu pagi yang cerah seketika berubah menjadi gaduh. Tepat hari ini 20 November 1979, sekelompok fundamentalis Islam yang pemimpinnya adalah Juhaiman al-Utaib yang juga seorang pengkhotbah dan mantan kopral tentara elite Arab Saudi, menduduki Masjidil Haram.

Dalan seruanya Juhaiman menyatakan bahwa Imam Mahdi telah muncul dalam diri kakak iparnya yang bernama Abdullah Hamid Muhammad Al-Qahtani, dan menyerukan seluruh umat Islam untuk mematuhinya.

Sementara itu rombongan haji asal Indonesia tertahan di Masjidil Haram, rombongan tersebut juga bergabung dengan Imam Mesjid, Syeikh Muhammad bin Subail.

Seorang penulis asal Ukraina Yaroslav Trofimov menyebutkan, “Juhaiman tak memerlukan orang Indonesia yang tak paham bahasa Arab dan tak paham rencana besarnya. Mereka membiarkannya pergi tanpa gangguan…”

Kekalutan tentunya menerkam petinggi Arab Saudi. Mereka bahkan dengan cepat menutup semua sambungan telepon internasional; tak ingin dipermalukan oleh insiden ini. Informasi yang beredar pun jadi simpang-siur. Amerika Serikat (AS) mengira Iran berada di balik penyerangan itu. Iran dan sejumlah negara lainnya menuding AS; sehingga kantor kedutaan AS di Islamabad (Pakistan), Teheran (Iran), dan Tripoli (Libya) jadi sasaran pendemo.

Kesimpangsiuran informasi itu berdampak besar pada sejumlah daerah.

Namun kabar itu perlahan menyebar ke seluruh dunia. Pemerintah Indonesia pun tak ketinggalan mengeluarkan pernyataan yang mengutuk penyerbuan ke Masjidil Haram. Pemerintah juga meminta seluruh masyarakat Indonesia, khususnya keluarga jemaah haji, untuk tenang, sabar, serta berdoa agar semua jemaah haji Indonesia pulang dengan selamat.

Waktu itu Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara segera memerintahkan Hadi Thayeb, dutabesar Indonesia di Jeddah, untuk mengambil langkah-langkah strategis untuk segera mengevakuasi jamaah Indonesia.

Thayeb lalu memerintahkan Tatang Muchtar, kepala perwakilan KBRI di Mekah, untuk segera mengevakuasi jemaah dari Masjidil Haram. Perintah pun diberikan kepada Abdurrahim, petugas musiman di Tim Pengurusan Haji Indonesia (TPHI) di Mekkah.

Abdurrahim, yang fasih bahasa Arab, memasuki Masjidil Haram guna menemui jemaah Indonesia dan menuntun mereka keluar lewat jalan tikus.

Dia berhasil mengeluarkan setidaknya 400 orang menggunakan truk-truk tentara, yang diperoleh setelah Thayeb mengajukan permohonan kepada menteri urusan haji Saudi, jemaah Indonesia pun berhasil keluar dari Mekah.

Arab Saudi gagal meredam rencana kudeta tersebut.Setelah banyak upaya yang gagal, pemerintah Saudi akhirnya menerima tawaran bantuan dari pasukan khusus Prancis (GIGN). Pada 3 Desember 1979, Masjidil Haram akhirnya kembali bisa dikuasai. Juhaiman dan beberapa pengikutnya ditangkap dan dieksekusi mati.

Akibat aksi Juhaiman itu, pendudukan Masjidil Haram, banyak berjatuhan korban. Dari Indonesia, seorang jemaah bernama Ismail bin Kamil asal Tangerang tewas terkena peluru yang memantul dari tank tentara kerajaan Saudi. Seorang mahasiswa yang diperbantukan ke PHI dan seorang jemaah haji terluka. Pendudukan itu juga menyebabkan jemaah haji Indonesia tak bisa berziarah ke masjid dan makam Nabi di Madinah serta melakukan tawaf wada (perpisahan) di Kabah. Rencana pulang ke Tanah Air juga terlambat.

Dalam bukunya Yaroslav Trofimov merilis jumlah korban atas insiden tersebut, “Korban militer Saudi adalah 127 tewas dan 451 terluka, 117 pemberontak tewas, 26 haji meninggal, 110 orang yang terluka mulai dari Indonesia, Afganistan hingga Nigeria,”

Juhaiman dieksekusi mati dengan dipenggal kepalanya.

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Satire

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Berita Video

Berita pilihan