30 November, Soekarno Hampir Mati Dibom

30 November, Soekarno Hampir Mati Dibom

Pesta meriah ulang tahun Perguruan Cikini ke-15 berubah mencekam saat penyusup melemparkan granat ke arah Soekarno.

Kilas Peristiwa 30 November 1957, Soekarno Yang Hampir Mati Dibom

Konten.co.id – Siapa yang tidak kagum dengan sosok Soekarno, Presiden pertama Indonesia yang fenomenal. Keberaniaannya banyak mengundang musuh Negara berpikir dua kali jika ingin menjungkirkannya.

Sebagai figure yang banyak memberikan pengaruh, memang tidak semua orang menyukai sosoknya, terbukti ada banyak percobaan pembunuhan yang hampir saja menelan nyawanya.

Tepat hari ini, 30 November 1957 silam, peristiwa itu terjadi. Yaitu peristiwa pelemparan granat di Jalan Cikini nomer 76 Jakarta pusat.

Bermula saat presiden Soekarno mengunjungi Perguruan Cikini, tempat di mana putra dan putri Soekarno sekolah. Kunjungan tersebut dalam rangka perayaan ulang tahun ke-15 sekolah.

Namun siapa duga, ditengah pesta yang meriah itu ada penyusup yang hendak membunuh orang nomor satu di Indonesia. Komplotan penyusup itu melemparkan granat ke arah Soekarno. Sontak pesta meriah itu berubah mencekam.

Pelaku melemparkan granat tersebut saat Soekarno sedang berada di tengah-tengah anak-anak sekolah, namun beruntung lemparan granat tersebut meleset dan Soekarno bisa lolos dari maut.

Dalam peristiwa tersebut korban luka-luka hampir mencapai 100 orang, baik luka berat atau ringan, termasuk puluhan murid dan Direktur Perguruan Cikini, Sumadji Muhammad Sulaimani, yang mengalami luka parah.

Beruntung, Sukarno dan anak-anaknya selamat. Hanya saja, mobil kepresidenan menjadi korban. Mobil mewah keluaran tahun 1954 hadiah dari Raja Arab Saudi itu ringsek lantaran menahan ledakan granat.

Setelah Soekarno berhasil keluar dari sekolah itu, hujan granat pun kembali mengguyur sepanjang jalan. Beberapa kali letusan granat menggelegar.

Amarah Soekarno memuncak atas peristiwa tersebut, ia lalu memerintahkan pengejaran terhadap pelaku intelektual atas tragedi itu.

Kurang dari 24 jam, pelaku akhirnya ditangkap. Diungkapkan dalam buku 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950-1964 Jilid 2 tahun 1980, ada empat pemuda yang ditangkap dan diduga sebagai pelaku aksi teror itu, masing-masing bernama Jusuf Ismail, Sa’idon bin Muhammad, Tasrif bin Husein, dan Moh. Tasin bin Abubakar (hlm. 120).

Peristiwa pelemparan granat di Perguruan Cikini itu diduga kuat bukan aksi teror biasa, namun didalangi aktor intelektual dengan tujuan menyingkirkan Soekarno dari kursi kepresidenan, dengan cara melenyapkannya.

Zulkifli Lubis, mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang juga pernah menjabat Kepala Intelijen Negara, sempat dicurigai sebagai otak insiden itu.

Zulkifli yang diketahui tidak sepaham dengan Bung Karno, terutama karena presiden dianggap cukup dekat dengan orang-orang komunis. Zulkifli adalah anggota Gerakan Anti Komunis (GAK) dan nantinya bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang oleh Soekarno dianggap sebagai pemberontak.

Dilansir dari Tirto, persidangan terkait tragedi Cikini itu digelar pada 15 Agustus 1958. Di persidangan, tulis Audrey R. Kahin dalam buku Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926-1998 (2005), salah seorang terdakwa sempat menyebut bahwa Zulkifli Lubis adalah guru utamanya.

Bahkan, tertuduh mengakui bahwa mereka sebelumnya telah menyusun beberapa kali melakukan percobaan untuk melennyapkan Soekarno, juga melakukan pelemparan granat ke kantor Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Persatuan Buruh, juga upaya pembunuhan terhadap beberapa petinggi militer, termasuk Abdul Haris Nasution.

Akan tetapi, beberapa kalangan meragukan pengakuan yang diungkapkan dalam persidangan itu. Kelihatannya, tulis Kahin, banyak dari pengakuan ini yang telah dipersiapkan oleh pemerintah.

Zulkifli sendiri selalu menolak bertanggungjawab atas terjadinya serangan Cikini dan pada akhirnya, Zulkifli memang lolos dari tuduhan lantaran Jusuf Ismail, salah satu pelaku, mengakui bahwa aksi pelemparan granat itu merupakan gagasannya. Jusuf tercetus untuk menghabisi Sukarno setelah melihat mobil presiden di Perguruan Cikini pada 30 November 1957 itu.

Beberapa waktu berselang, Zulkifli terlibat dalam aksi PRRI di Sumatera Barat kendati kemudian mendapat pengampunan dari Presiden Sukarno pada Oktober 1961. Namun, dikutip dari buku Soekarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1961-1965 (2006) karya Rosihan Anwar, Zulkifli kembali ditangkap. Anehnya, kali ini ia justru dicokok dengan tuduhan keterlibatannya dalam peristiwa Cikini 1957.

Meskipun demikian, Zulkifli Lubis sekali lagi terlepas dari hukuman berat dan hidup lama hingga bertahun-tahun ke depan. Namun, tidak demikian halnya dengan keempat terdakwa pelaku pelemparan granat di Cikini. Mereka menjalani eksekusi mati di hadapan regu tembak pada 28 Mei 1960.

*Dari Berbagai Sumber

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *