28 November 1975 : Perjalanan Panjang Timor Leste

28 November 1975 : Perjalanan Panjang Timor Leste

Perjalanan Timor Leste dari tangan Portugal, berbagi dengan Belanda, pindah ke tangan Jepang, hinggap di tangan Indonesia lalu kembali ke Portugal.

Hari Ini 28 November 1975 : Perjalanan Panjang Timor Leste

Konten.co.id – Hari ini dalam sejarah 28 November 1975. Timor Timur atau sekarang Timor Leste memproklamasikan kemerdekaan dari Portugal.

Dalam tragedi Revolusi Bunga di Portugal dan Gubernur terakhir Portugal di Timor Leste, Lemos Pires, tidak mendapatkan jawaban dari Pemerintah Pusat di Portugal untuk mengirimkan bala bantuan ke Timor Leste yang sedang terjadi perang saudara, maka Lemos Pires memerintahkan untuk menarik tentara Portugis yang sedang bertahan di Timor Leste untuk mengevakuasi ke Pulau Kambing atau dikenal dengan Pulau Atauro. Setelah itu FRETILIN (Partai Politik) menurunkan bendera Portugal dan mendeklarasikan Timor Leste sebagai Republik Demokratik Timor Leste pada tanggal 28 November 1975.

Menurut suatu laporan resmi dari PBB, selama berkuasa selama 3 bulan ketika terjadi kevakuman dalam pemerintahan di Timor Leste antara bulan September, Oktober dan November, Fretilin melakukan pembantaian terhadap sekitar 60.000 penduduk sipil yang sebagian besarnya adalah pendukung faksi integrasi dengan Indonesia.

Saat itu dalam sebuah wawancara pada tanggal 5 April 1977 dengan Sydney Morning Herald, Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik mengatakan bahwa “jumlah korban tewas berjumlah 50.000 orang atau mungkin 80.000 jiwa. Tak lama kemudian, kelompok pro-integrasi mendeklarasikan integrasi dengan Indonesia pada 30 November 1975 dan kemudian meminta dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Leste dari kekuasaan FRETILIN yang berhaluan Komunis.

Pasukan Indonesia pun mendarat di Timor Leste pada tanggal 7 Desember 1975. Pasukan FRETILIN melarikan diri ke daerah pegunungan, banyak pasukannya yang tewas karena kelaparan dan diserang melalui udara oleh Militer Indonesia.

Selama perang saudara itu dalam kurun waktu 3 bulan September-November 1975 dan selama pendudukan Indonesia selama 24 tahun (1975-1999), lebih dari 200.000 orang dinyatakan meninggal (60.000 orang secara resmi mati di tangan FRETILN menurut laporan resmi PBB).

Selebihnya mati ditangan Indonesia saat dan sesudah invasi dan adapula yang mati kelaparan atau penyakit. Hasil CAVR menyatakan 183.000 mati di tangan tentara Indonesia karena keracunan bahan kimia dari bom-bom napalm, serta mortir-mortir.

Setelah tidak mampu menguasai keadaan pada saat terjadi perang saudara, gubernur jendral Timor Portugis Mario Lemos Pires melarikan diri dari Dili. Sejak saat itu Timor Leste menjadi bagian dari Indonesia tahun 1976. Portugal pun gagal mendekolonisasi Timor Portugis dengan masih menggapnya namun dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Amerika Serikat dan Australia pun merestui tindakan Indonesia karena takut Timor Leste menjadi kawasan komunisme, terutama karena kekuatan utama di perang saudara Timor Leste adalah Fretilin yang beraliran Marxis-Komunis.

Kedua negara tersebut tentu sangat khawatir akan efek domino meluasnya pengaruh komunisme di Asia Tenggara setelah AS kalah telak dari Vietnam.

Namun PBB tidak menyetujui tindakan Indonesia. Setelah referendum yang diadakan pada tanggal 30 Agustus 1999, di bawah perjanjian yang disponsori oleh PBB antara Indonesia dan Portugal, mayoritas penduduk Timor Leste memilih merdeka dari Indonesia.

Semenjak hari kemerdekaan itu, pemerintah Timor Leste berusaha memutuskan segala hubungan dengan Indonesia antara lain dengan mengadopsi Bahasa Portugis sebagai bahasa resmi dan mendatangkan bahan-bahan kebutuhan pokok dari Australia yang menurut mereka sebagai balas budi atas campur tangan Australia menjelang dan pada saat referendum.

Selain itu pemerintah Timor Leste mengubah nama resminya dari Timor Leste menjadi Republica Democratica de Timor Leste dan mengadopsi mata uang dolar AS sebagai mata uang resmi.

*Dari berbagai sumber

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *