Suara Buzzer Menenggelamkan Karya Jurnalistik

Suara Buzzer Menenggelamkan Karya Jurnalistik

Buzzer dinilai sejumlah pihak sebagai biang keladi kurang dibacanya karya jurnalistik dari reporter.

Makin Meresahkan, Suara Buzzer Menenggelamkan Karya Jurnalistik

Konten.co.id – Buzzer semakin lama semakin membuat geram para jurnalis. Ada kecemburuan tersendiri ketika suara buzzer malah menenggelamkan hasil kerja jurnalistik yang jempolan. Suara buzzer malah lebih didengar publik ketimbang produk jurnalitik.

Dari ulasan majalah Tempo edisi 28 September 2019 berjudul “Saatnya Menertibkan Buzzer” merupakan keresahan dan kegelisahan luar biasa Tempo atas fenomena para pendengung yang menyesaki media sosial.

Netizen dan buzzer sendiri dinilai sebagai orang yang sok tahu tetapi bersuara paling keras meski salah.

Para pakar khususnya di Amerika Serikat mati gaya menghadapi postingan dan status-status warganet alias netizen dengan segala kesoktahuannya itu.

Uniknya, Donald Trump pun menjadi pelaku utama netizen dengan twit-twit-nya yang menggemparkan. Meski berbohong tapi ia tetap dielu-elukan.

Di Indonesia bahkan dunia punya ribuan pakar yang berasal dari kalangan profesional. Tapi mereka enggan untuk berselancar di dunia internet.

Indonesia sendiri punya Rocky Gerung yang fenomenal. Meski ia bukan seorang pakar tapi ia tahu manfaat besar media sosial dan menggunakannya sebaik mungkin untuk mem-branding dirinya sedemikian rupa.

Sehingga, suaranya mengalahkan pakar sekalipun. Suara Rocky benar maupun salah, nyata maupun hoax tetap saja didengar pengikutnya, dipercaya sebagai kebenaran, lalu disebarkan secara suka rela.

Publik menilai seharusnya orang seperti Prof Rhenald Kasali dan Prof Romli Atmasasmita harus bisa berdebat untuk mengeluarkan pendapatnya di sosial media.

Rhenald Kasali misalnya bisa meredam Rocky dengan “kemahabenaran” sabdanya, Romli berani berbeda soal KPK dengan orang-orang yang tidak mau KPK diutak-atik lewat RUU. Mestinya lebih banyak lagi para pakar seperti Rhenald dan Romli yang jalan-jalan di media sosial.

Belum selesai netizen dengan “kemahabenaran” statusnya, kini hadir fenomena buzzer yang oleh Tempo dalam opininya disebut “produk gagal dari era kebebasan berpendapat”.

Tempo demikian resah dan gelisah sehingga menempeli buzzer dengan stigma sedemikian rupa, dipicu oleh ulah apa yang disebutnya “Buzzer Istana” dengan segala sepak terjangnya di media sosial.

Dalam opini Tempo itu, buzzer digiring ke sisi paling hina, paling gelap dan negatif dari fenomena opini warga di dunia maya. Hal ini semacam kecemburuan tersendiri ketika suara buzzer malah menenggelamkan hasil kerja jurnalistik.

Hikmah yang seharusnya dipetik oleh Tempo adalah; jangan-jangan ada yang salah dengan pola pelaporan, investigasi, dan penyajian produk-produk jurnalistik Tempo selama ini.

Jangan-jangan harus ada perombakan total dalam cara dan gaya, meninggalkan gaya lama berganti dengan gaya baru yang lebih bisa diterima publik, yang dengungannya lebih keras dari suara para pendengung (buzzer) itu sendiri.

Untuk itu, tidak ada salahnya memanfaatkan para buzzer yang dengan narasinya mampu mengubah persepsi masyarakat. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *