Petisi Hutan Papua untuk Masyarakat Adat Ditandatangani Ribuan Netizen

Petisi Hutan Papua untuk Masyarakat Adat Ditandatangani Ribuan Netizen

Hutan Papua diminta untuk dikembalikan ke masyarakat adat agar bisa terjaga kelestariannya.

Ribuan Netizen Tandatangani Petisi Hutan Papua untuk Masyarakat Adat

Konten.co.id – Netizen meminta Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya agar membantu hutan Papua bebas masalah dan diberikan untuk masyarakat adat lewat petisi changeorg.

Petisi ini diawali oleh Auriga Nusantara dan telah ditandatangani oleh 6346 netizen. Pencetus petisi mengisahkan petisi ini berawal ketika ia melihat sosok Alex Waisimon.

WWF menyebutnya Sang Penjaga Cendrawasih dan ASEAN Center for Biodiversity memberinya penghargaan ASEAN Biodiversity Heroes karena perjuangannya.

Walaupun sudah bekerja di berbagai belahan dunia, tahun 2014 Alex memutuskan untuk kembali ke tanah Papua, karena ingin membangun tanah kelahirannya sendiri.

“Saya sudah pergi kemana-mana, tapi tak pernah menemukan tempat seindah tempat kelahiran saya. Bangun pagi sudah ada suara burung. Pagi-pagi burung memuji Yang Kuasa dengan suara indahnya. Saya tak bisa menemukan sungai yang jernih di negeri orang lain,” kata Alex.

Hanya dalam beberapa bulan setelah kembali, Alex yang kembali ke Nimbokrang, Papua sudah dapat mengenali suara berbagai jenis burung hingga sifat-sifatnya.

Ia pun membangun gubuk yang menyatu dengan alam, agar masyarakat dan wisatawan bisa mengamati dan menikmati perilaku unik burung-burung Cendrawasih tanpa mengganggunya.

Tak hanya itu, Alex menyerahkan tanah milik marganya, Waisimon, seluas 19 ribu hektar untuk keperluan konservasi. Ia juga mengajak berbagai kepala suku di sekitar tanah marganya agar turut menyerahkan tanahnya untuk melindungi burung-burung surga.

Akhirnya, tahun 2016 tanah seluas 98 ribu ha dari berbagai marga terkumpul untuk dijadikan wilayah konservasi.

Berkat perjuangan Alex dan masyarakat yang menjaga hutannya untuk tetap lestari, kini tempat itu menjadi rumah bagi 84 spesies burung dari 31 famili. Bahkan lima spesies diantaranya merupakan burung terancam punah.

Lokasi itu lalu menjadi sangat terkenal sebagai lokasi pengamatan burung (birdwatching) yang didatangi banyak wisatawan mancanegara.

Alex dan masyarakat di sana tak ingin perjuangan mereka berhenti sampai disitu. Mereka berharap ada dukungan pemerintah dalam upaya konservasi dan ekowisata birdwatching ini.

Tahun 2018, tercatat ada sedikitnya 10 perusahaan HPH dan 7 perusahaan HTI yang tidak berproduksi dengan luasan mencapai 2,4 juta hektar di Jayapura, dekat kawasan birdwatching ini.

Lahan hutan itu tak terawat dan rentan menjadi sumber illegal logging dan perambahan lahan. Masyarakat adat ingin agar kawasan hutan lain yang tidak aktif tersebut dikelola oleh kelompok masyarakat untuk ekowisata hutan adat.

Melalui petisi ini, pihaknya meminta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya untuk menon-aktifkan izin pemanfaatan hutan di Tanah Papua, khususnya di kawasan yang sekarang sudah tidak berproduksi di Jayapura, dan agar memberikan wilayah-wilayah hutan tersebut kepada kelompok masyarakat adat untuk dikelola.

“Berkaca dari keberhasilan Pak Alex dan koleganya, di bawah pengelolaan masyarakat adat hutan bisa kembali asri, menjadi tempat tinggal burung-burung surga, dan menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia,” katanya.

Sejumlah netizen pun merespon petisi tersebut. “Hutan adalah Bahagian dari sumber kehidupan manusia. Mari kita menjaga untuk kebutuhan hidup kita sendiri” kata Orias Loppo.

“Indonesia khusus nya papua memerlukan orang seperti anda” kata Shidqi Hikmatullah.

“Ingin kelestarian hutan di tanah papua tetap terjaga shg kekayaan biodiversity di situ tetap bisa dinikmati oleh generasi y.a.d” ujar Ichman Adji. (*).

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *