Netizen Buat Petisi Usut Tuntas Kematian 5 Anak Bangsa di Jakarta

Netizen Buat Petisi Usut Tuntas  Kematian 5 Anak Bangsa di Jakarta

Kematian 4 mahasiswa dan satu siswa STM yang masih misteri membuat netizen geram dan membuat petisi.

Kematian 5 Anak Bangsa di Jakarta Menyimpan Misteri, Netizen Minta Segera Diusut

Konten.co.id – Kericuhan demonstrasi di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa waktu lalu mengorbankan 5 nyawa anak bangsa.

Bagus Putra Mahendra, Immawan Randy, Maulana Suryadi, Akbar Alamsyah dan Muhammad Yusuf Kardawi adalah kelima korban tersebut. Netizen menilai kalau kematian mereka janggal sehingga membuat petisi “Usut Tuntas kematian 5 Anak Bangsa Aksi Reformasi Dikorupsi September 2019”

Petisi yang dibuat oleh kokom Komalawati ini sudah ditandatangani 10 ribu orang. Dalam petisinya ia mengatakan kalau 14 Oktober kemarin ia dan emak-emak melakukan aksi di depan Kantor Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat. Ia pun membacakan puisi yang berisi:.
Sepatu itu menginjak-injak kepalamu.
Pentungan itu memukul badanmu.
Peluru itu menembus kepalamu.
Tangan-tangan aparat itu menyiksamu.
Di baju mereka ada tetesan darahmu.
Anakku sayang, sakitmu adalah sakit ibu.
Lukamu adalah luka ibu. Sakit dan lukaku adalah duka bangsamu.

Pihaknya pun tidak mau kebrutalan polisi berujung kriminalisasi dan kematian banyak korban berlanjut dan tidak diselesaikan negara.

Banyak teka-teki penyebab kematian kelima anak bangsa tersebut yang belum terpecahkan. Maulana Suryadi disebut Polisi meninggal akibat terkena gas air mata dan asma.

Tapi, di bagian belakang tubuh nya banyak luka pukul. Darah bahkan kerap keluar dari telinga dan hidung. Ada pembengkakan pembuluh darah di bagian leher nya.

Bagus Putra Mahendra, siswa kelas IX SMA Ajihad, Jakarta. Bagus meninggal karena ditabrak kontainer Polisi. Polisi bilang tidak ada unsur kesengajaan dan murni kecelakaan.

Sementara Muhammad Yusuf Kardawi dan Immawan Randy meninggal akibat luka tembak yang mengakibatkan pendarahan di kepala. “Siapa yang menembak? Belum ada jawaban sampai sekarang,” ucapnya.

Terakhir, Akbar Almasyah. 25 September Akbar dinyatakan hilang. 27 September 2019 pihak keluarga mendatangi Polres Jakarta Barat.

Petugas bilang Akbar tidak bisa ditemui dan bilang kalau Akbar dirawat di rumah sakit Pelni sejak tanggal 26 September 2019.

Keluarga lalu pergi ke Rumah sakit Pelni ternyata Akbar udah dirujuk ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Waktu mendatangi Rumah Sakit Polri, keluarga sulit menjenguk Akbar karena udah lewat jam besuk.

Ketika dapat kesempatan menjenguk Akbar, keluarga malah dikawal ketat pihak kepolisian. Keluarga hampir tidak kenal Akbar.

Wajahnya bengkak, matanya lebam, tempurung kepalanya retak dan ginjalnya tidak bisa berfungsi normal sehingga harus cuci darah. Padahal menurut keluarga, Akbar tidak ada riwayat penyakit. Banyak kejanggalan dari kematian Akbar.

Kabid Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes (Pol) Asep Adi Saputra mengatakan Akbar terluka akibat jatuh saat menghindari kerusuhan massa dan ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri, tepatnya di depan pagar gedung DPR RI.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan Akbar ditemukan tergeletak di trotoar di kawasan Slipi. Polda lalu menetapkan Akbar sebagai tersangka kerusuhan saat aksi, padahal sebelumnya ia dikatakan menghindar dari kerusuhan massa.

“Lalu, mana keterangan yang benar? Ini tidak bisa dibiarkan. Kelima kasus harus diusut tuntas. Mereka masih muda, mereka masa depan bangsa. Orangtua berharap sangat banyak kepada putera mereka dan terpaksa kehilangan harapan ditangan pemerintah,” tegasnya.

Ia mengatakan mereka hanya menyuarakan keresahan rakyat Indonesia atas kemerosotan demokrasi di Indonesia belakangan ini. “Kenapa harus ditembak mati? Kenapa harus dipukuli? Kenapa harus ditabrak? Kenapa dikriminalisasi?,” katanya.

Pihaknya dan sejumlah emak-emak meminta Presiden Joko Widodo untuk mengusut tuntas kebrutalan Polisi yang menghilangkan nyawa 5 anak bangsa.

Pihaknya pun meminta Kapolri Tito Karnavian untuk segera menindak tegas pelaku yang menghilangkan nyawa kelima anak bangsa.

“Bantu saya dan emak-emak meminta agar Kemenko Polhukam membuka ke publik perkembangan penyelesaian kasus agar orangtua dan keluarga yang ditinggalkan putranya tidak hidup dalam tanda tanya karena kehilangan anaknya di usia muda,” tukasnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *