Mengais Kisah Tragis Mantan Masinis Kereta Tragedi Bintaro

Mengais Kisah Tragis Mantan Masinis Kereta Tragedi Bintaro

Slamet Suradio menjalankan kehidupan yang pedih usai tabrakan kereta tragedi Bintaro.

Difitnah dan Dipenjarakan, Ini Kisah Tragis Mantan Masinis Kereta Tragedi Bintaro

Konten.co.id – Hampir 32 tahun berlalu, tragedi tabrakan dua kereta di Bintaro yang kita kenal Tragedi Bintaro tidak pernah lepas dari Slamet Suradio mantan masinis KA 225 jurusan Rangkasbitung-Jakartakota yang jadi salah satu penyebab tragedi berdarah tersebut.

Tepat pada tanggal 19 Oktober 1987 dua kereta api yakni KA 225 jurusan Rangkasbitung-Jakartakota dan KA 220 jurusan Tanah Abang-Merak bertabrakan.

Diketahui Slamet dituding memberangkatkan sendiri KA 225 yang dioperasikannya. Padahal ia hanya mengikuti instruksi dari Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA).

“Yang seharusnya saya di Sudimara bersilangan dengan KA 220 dibatalkan oleh PPKA yang sedang dinas,” kata Slamet dikutip dari YouTube Kisah Tanah Jawa ‘Mengais Sisa Tangis-Tragedi Bintaro’, Selasa (15/10/2019).

Ia pun menunggu di jalur 3 karena belum ada perintah berangkat. “Jadi kalau ada orang mengatakan berangkat sendiri itu bohong, apa untungnya saya memberangkatkan kereta sendiri,” ungkapnya.

Namun tiba-tiba, ada instruksi untuk Slamet memberangkatkan kereta. Saat di perjalanan pun ia mengaku santai lantaran tidak ada peringatan apa-apa. Namun ia dikejutkan saat KA 220 dari stasiun Kebayoran tiba-tiba sudah ada di depan jalurnya..

Slamet yang sudah mengantongi Pemberitahuan Tentang Persilangan (PTP) seharusnya mengetahui kalau situasi sudah aman. Tanpa pikir panjang, Slamet langsung menarik rem bahaya, namun naas karena jarak kedua kereta sudah terlalu dekat akhibatnya kedua kendaraan yang cukup besar dan berkecepatan tinggi ini bertabrakan.

Slamet pun terpental di dalam lokomotif dengan wajah yang terluka terkena remukan kaca. Dalam keadaan setengah sadar, Slamet pun berusaha menyelamatkan dirinya.

“Kaki saya ngesot-ngesot tidak bisa jalan, akhirnya saya merambat melalui jendela,” tutur Slamet.

Dalam kondisi terluka parah, Slamet dibawa oleh seorang perempuan ke rumah sakit dengan mobilnya. Meski wajahnya bersimbah darah, Slamet masih mengantongi PTP di sakunya.

PTP tersebut jadi satu-satunya bukti Slamet bahwa dirinya tidak bersalah. Bercak darah di PTP itu membuat hakim percaya bahwa Slamet tidak loncat dari lokomotifnya.

“Jadi hakim percayanya saya tidak loncat itu karena ada bercak darah,” ungkap Slamet.

Ia pun sedih dengan kabar yang berdedar bahwa ia meloncat dari lokomotif sebelum tabrakan untuk menyelamatkan diri. “Makanya (isu) di internet itu yang buat siapa? Saya bingung itu, sedangkan hakim sendiri mengatakan (saya) nggak loncat,” paparnya.

“Ada katanya saya loncat, itu bohong sekali, itu orang fitnah, jelas fitnah!” tambahnya

Kepedihan Slamet pun berlanjut. Setelah kejadian itu, berbagai ancaman pun datang kepadanya.

Ia bahkan hampir diculik saat dirawat di rumah sakit yang kacanya sudah dipecah oleh seseorang. Saat itu, ia pun harus menjalani hukuman penjara selama kurang lebih 3 tahun 3 bulan karena dianggap lalai hingga menyebabkan kematian ribuan orang dan ribuan lainnya luka.

Nasib tragis pun bertambah setelah sang istri menceraikan Slamet dan direbut rekan sesama masinis.

Slamet kini menjalani hidup sebatang kara jauh dari kelayakan. Ia harus menjadi pedagang asongan sambil menunggu haknya sebagai pensiunan PT KAI.

“Saya mohon hak saya dikeluarkan, uang pensiun. Karena sekalipun saya dipenjara kan bukan karena saya berbuat jahat, kan ini musibah, kecelakaan,” tukasnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *