Melihat Nasib Kratom, Tanaman Ajaib dan Berkhasiat dari Kalimantan

Melihat Nasib Kratom, Tanaman Ajaib dan Berkhasiat dari Kalimantan

Kratom dianggap obat terlarang, namun digunakan untuk medis.

Dianggap Obat Terlarang, Bagaimana Nasib Kratom Tanama Obat asal Kalimantan?

Konten.co.id – Kratom kini jadi sensasi. Tanaman asli Kalimantan ini secara tradisional digunakan sebagai tanaman obat. Selain di Kalimantan, tanaman ini juga ada di daratan Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Thailand, dan Myanmar.

Daun tanaman sejenis kopi ini sangat populer di Amerika Serikat karena dipercaya dapat membantu mengurangi rasa sakit, membuat rileks dan membantu pecandu opium untuk berhenti.

Namun legalitas kratom saat ini dipertanyakan banyak negara, dan Indonesia lewat Badan Narkotika Nasional (BNN) sedang memroses kratom menjadi obat-obatan Golongan I.

Meski demikian tanaman ini merupakan berkah bagi sekitar 300.000 petani di Kalimantan. Mario salah satu petani Kratom mengatakan, tanaman ini sangat bagus lantaran bisa tetap berkembang walau sedang dalam keadaan hujan.

Dalam satu hari dia dan dua temannya bisa memetik 200 kilogram daun kratom yang jika kering akan susut menjadi sepersepuluhnya.

“Agak enak kratom lah cara kerjanya dibanding karet. Walaupun musim hujan bisa menghasilkan uang, kalau karet mana bisa menghasilkan uang,” ungkapnya.

“Lumayan lah dapat 600.000 sehari. Tapi belum langsung jadi uang. Tapi paling tidak sudah kita petik, empat hari di rumah terus kita jemur sebentar sekitar lima menit baru kita kemas,” jelasnya.

Selain Mario, ada Theodorus Simbang ia mengatakan daun Kratom sering dikeringkannya seperti daun teh hijau.

“Setelah dari remahan ini kita proses ke penepungan, habis itu baru dikemas dan siap dijual dalam bentuk tepung,” ungkap Theo.

Mulai memanen lima tahun yang lalu, Theo dan teman-temannya sekarang dapat mengumpulkan 300kg daun kering remahan untuk dijual dalam sebulan.

“Ada sekitar 300.000 petani di Kalbar yang mulai membuat kratom sebagai sumber mata pencaharian mereka”, menurut Yosep, Ketua Pekrindo (Pengusaha Kratom Indonesia).

Setiap bulan, rata-rata 300 hingga 500 ton kratom diekspor dari Kalbar, sekitar 80%nya adalah dalam bentuk bubuk, sisanya dalam bentuk daun kering remahan.

Negara tujuan ekspor terbesar Kratom sendiri adalah Amerika Serikat, meski di beberapa negara bagiannya melarang kratom. Di negara bagian New York, bar-bar yang menyediakan kratom mulai bermunculan.

Di negara ini, banyak konsumen kratom menggunakannya untuk terapi ketergantungan opium. “Isu yang cukup pelik di negara itu, dengan lebih dari 130 orang mati dari overdosis opium setiap hari pada 2017,” menurut Departemen Kesehatan (Health & Human Services) AS.

Namun, status kratom di Amerika Serikat saat ini juga masih dalam limbo. Pada 2016, badan hukum narkoba (Drug Enforcement Administration) AS mengumumkan untuk memasukkan kratom ke Golongan I narkotika dan tak mengizinkan kratom digunakan dalam medis.

Namun protes keras dari para pengguna dan beberapa senator AS membuat departemen itu menunda keputusannya

Di Indonesia sendiri, Badan Narkotika Nasional (BNN) sedang memroses kratom untuk dimasukkan ke Golongan I narkotika. “Kita sudah ajukan untuk dimasukan ke dalam appendix undang-undang 35 tahun 2009,” ungkap juru bicara BNN Sulistyo Pudjo.

Jika masuk ke Golongan I narkotika, maka baik pengguna, pengedar, jaringan kratom akan diberlakukan hukuman seperti narkotika lainnya. “Kepentingan bisnis kadang tidak kompatibel dengan kepentingan hukum. Kepentingan bisnis illegal ya illegal, legal ya legal,” ujar Pudjo.

Pudjo mengatakan bahwa pihaknya sudah mengingatkan masyarakat bahwa kratom ini termasuk narkotika sehingga tak ada lagi alasan untuk menanam tumbuhan tersebut.

Namun, peneliti kratom Dr. Ari Widiyantoro dari FMIPA Universitas Tanjungpura berpendapat justru bukan pelarangan yang dibutuhkan terkait kratom, melainkan pengawasan lewat aturan resmi Kementerian Kesehatan, mengingat potensi kratom terkait kebutuhan medis.

“Cuman masalahnya penggunaannya harus diatur, dosisnya terutama, dan siapa yang harus memakai,” kata Dr. Ari.

Selain itu, dia juga mendukung agar dilakukan standardisasi produksi kratom karena para petani dan pengumpul kratom saat ini menjual daun tanpa membedakan usia daun, padahal semakin tua daun maka kadar mitragininnya semakin tinggi sehingga dampaknya ke pengguna juga akan berbeda.

“Dari berita dan buletin kesehatan di Amerika, packagingnya tidak bagus sehingga (bakteri) salmonela masuk. Itu memberikan cemaran kepada pasien sehingga tingkat kematian, infeksi menjadi tinggi,” tambah Dr. Ari.

Dia juga menganjurkan agar riset terkait kratom terus dilakukan untuk mendalami efek-efek kratom, termasuk efek yang berbahaya.

Berdasarkan penelitiannya, Dr. Ari menjelaskan bahwa kratom mengandung mitraginin yang berfungsi sebagai katalisator opium agar bisa bekerja dengan baik.

Mitraginin ini juga dapat berfungsi sebagai pengganti opium sehingga jika diberikan kepada pengguna opium maka ketergantungan mereka pelan-pelan dapat berkurang.

Selain itu, mitraginin yang termasuk ke golongan alkaloid ini dapat memberikan efek sedatif dan anti nyeri.

“Saya pernah uji coba ke mencit. Mencitnya kita beri panas, dosis semakin tinggi itu dia tidak merasa sakit,” papar Dr. Ari.

Di saat bersamaan, Dr. Ari memperhatikan bahwa kratom ini dapat memberikan efek high atau mabuk kepada para pengguna tradisional di Kalimantan, meski dampak itu belum dibuktikannya secara klinis.

Namun, jika dikonsumsi dalam dosis yang tepat, Dr. Ari yakin kratom tidak akan menyebabkan ketergantungan.

Sementara bagi para peminum teh kratom di Kalimantan mengaku meski mereka cukup sering mengkonsumsi kratom, tidak menyebabkan mereka ketergantungan hingga “mencari-cari” kratom setiap hari.

Di sana, warga meminum daun kratom kering yang diseduh dengan air panas, persis seperti membuat teh. Bukan hanya tampilannya saja yang mirip teh, namun bau dan rasanya pun mirip dengan teh hijau yang pahit.

Salah seorang warga Pascalis yakin bahwa kratom selama ini telah membantu sakit persendiannya dan juga untuk membantunya tidur.

Sementara Agung menolak Kratom yang dianggap memabukkan dan menimbulkan kecanduan. “Dulu orang-orang tua (minum), jadi dikonsumsi sudah lama, digunakan sebagai tanaman obat. Tapi ternyata ada yang cari, yang beli, ya sudah dibudidayakan saja. Berarti itu menjadi sumber pendapatan. Tetapi kalau tidak ada, tetap akan menjadi obat,” tutur Agung. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *