Kisah Mistis Rudi dan Ambarwati di Pasar Setan

Kisah Mistis Rudi dan Ambarwati di Pasar Setan

udi terjebak didalam Pasar Setan setelah menonton orkes dangdut.

Seram, Kisah Mistis Rudi dan Ambarwati di Pasar Setan

Konten.co.id – Indonesia kaya akan kisah Urban Legend atau kisah mistis. Seperti yang dikisahkan ;ewat thread @AgilRSapoetra tentang Rudi dan Ambarwati di Pasar Setan.

Dalam akun tersebut, Agil menceritakan kalau kejadian ini di alami oleh kerabat ayahnya, Rudi (bukan nama sebenarnya).

Ia mengatakan kejadian tersebut terjadi pada hari Sabtu kira-kira antara tahun 1988/89 saat ada orkes dangdut di kampung sebelah tempat tinggalnya.

Desanya memang bersebelahan, tapi menjadi jauh karena memang batas desa tersebut adalah hamparan kebun kopi yang luas

Jam 7 malam ia sudah siap mau berangkat ke lokasi naik vespa. Ia menceritakan walau jalan di tengah kebun kopi, tapi waktu itu jalanan ramai, banyak muda-mudi yang berjalan berpasangan.

“ada yg naik sepeda, ada yang jalan kaki, waktu itu tidak semua remaja naik motor,” katanya.

Saat ia tiba di Gumuk Gondang, di kiri jalan ia bertemu dengan wanita menggunakan dress merah di bawah lutut, dan rambut ikal yang juga sedang jalan ke arah lokasi pertunjukan

“Saya pelankan motor saya, sembari mendahului saya menoleh, dan ngomong “Ajeng ting pundi mbak?? Ajeng nonton? ( Mau kmn mbak? Mau nonton?) di gak jawab tapi cuma senyum, wah kode nih, saya berhenti” katanya.

“Nggo nek ajeng sareng.. (ayo kalo mau bareng) Tanpa berkata2 cuma senyum aja, si mbak2 itu langsung menghampiri dan naik ke motor saya, waduh agresif nih (dalam hati),” tambahnya.

Di perjalanan Rudi sengaja melambatkan laju motornya, agar ada banyak waktu ngobrol.. Dan terjadi sedikit dialog. “Tiyang pundi mbak?(orang mana mbak): Tiyang mriku niku!!! Hihihhihi (Orang situ itu) ngomongnya ngegas gitu trus ketawa,”

Ia hanya bisa terdiam karena takut wanita tersebut orang gila. “Tapi cantik sih,” pikirnya.

Tapi tiba-tiba wanita tersebut menepuk pundaknya dan berkata: mangkih pas wangsul mawon nek ajeng ngertos nggriyane kulo (nanti pas pulang aja kalo mau tau rumah saya)

https://twitter.com/AgilRSapoetra/status/1179774193832882176
Disitu, rudi mengaku lega karena dia bicara biasa, “mungkin tadi cuma bercanda,, akhirnya sampe di lokasi orkes.. Disitu rame banget kita turun dan nonton Orkes itu, itu sekitar jam 8an” katanya.

Seperti mulut di kunci, ia menonton orkes, dan tidak tau mau ngomong apapun. Si mbak itu juga hanya terdiam saja cuma sesekali menoleh dan senyum ke arahnya, “manis sekali senyumnya, kalo kata anak jaman sekarang Masshooookkk,”

Waktu itu tiba-tiba mengajak pulang, padahal baru jam 9 malam, sedangkan orkes waktu selesai jam 10-sampai jam 11. “Mas wangsul mawon nggo.. (mas pulang aja yuk) ..: dengan sedikit terbata, saya jawab… Nggo.. Saya ambil vespa, mbak2 itu jalan nyusul trus naik setelah di dekat jalan utama

Karena ada yang berkelahi sang wanita ini mengaku takut. Namun tiba-tiba wanita itu menyebutkan namanya “Mas nami kulo Ambarwati) nama saya ambar wati.. Saya jawab : “Kulo Rudi mbak”

Sios ajeng semerep nggriyane kulo? (jadi mau lihat rumah saya?): Nggih, emang mboten popo mbak? (memangnya tidak apa2): Mboten popo kok mas”

Tibalah di dekat Gumuk Gondang. “belok mriku niku mas (belok situ mas),” ia mengaku heran karena di situ sama sekali gak ada jalan untuk belok, kalau kanan adanya gundukan tanah luas atau gumuk dan kiri Kebun kopi.

Ia terkejut, saat hendak menoleh dengan maksud mau bertanya “belok pundi to mbak ambar” yang duduk di belakangnya ternyata pocong tinggi sambil tertawa dan semuanya seperti gelap dan berputar.

“pas saya membuka mata, sy sangat bingung karena tubuh saya dalam posisi merangkak, dan saya seperti berada di tengah keramaian, yang tadinya malam, disitu seperti sore, saya teriak2 nangis sekencang-kencangnya”

Rudi pun mulai diam ketakutan dan melihat di sekitar.. “saya sepertinya di pasar” terlihat para pedagang, Ada yang dagang Gerabah, sayuran. “pokoknya lebih seperti pasar tradisional gitu lah … Saya sangat bingung, saya tutup telinga saya.. Saya pejamkan mata saya,” ucapnya.

“lebih seperti mimpi, sy tidak bisa mengendalikan diri saya.. Disitu berdiripun saya tidak bisa, saya merangkak, mengamati sekitar, dan para orang2 di situ wujudnya mengerikan, seperti manusia biasa tapi wajahnya cuma ada “Mata” tanpa hidung dan mulut”

Saat itu, lanjut Rudi, ia menangis karena semua mata memandang ke arahnya. Tapi tubuhnya tak bisa berdiri. “Saya mempercepat gerak…pokoknya maju sambil nunduk aja.. Gak tau mau kemana,”

Namun tiba-tiba, di depannya ia melihat Ambarwati memakai baju persis seperti tadi, dres merah. Ia berjalan membelakangi Rudi. ” Saya coba panggil “Mbak ambar-mbak ambar!!” dia diem aja dan terus jalan tanpa menoleh,”

Hingga akhirnya ia melihat ada cahaya putih, dengan sosok Ambarwati yang juga berjalan ke cahaya itu, “saya terus hampiri berharap itu jalan keluarnya dan Keadaan Pasar itu yg tadinya Sore, tiba2 mendadak menjadi Malam,”

Ia mengatakan pandangannya menjadi gelap, dan tiba-tiba Rudi berada di atas batu. Saya di bangunkan oleh seorang petani cengkeh, di atas “Gumuk” bener2 di puncak lembah, jam 07.00 pagi,”

Ia mengaku seperti orang linglung, soalnya berada di “Pasar itu” seperti beberapa menit saja. Padahal ia disana dari jam 9 malam. “beberapa menit kemudian kok udah jam 7 pagi”

Setelah kejadian itu semua menjadi berubah, Rudi tidak keluar rumah hampir 3 bulan. “suka takut sendiri, seperti mau gila..selalu dihantui wajah mbak “Ambarwati” dari “Pasar setan” itu.. Bahkan sampe sekarang pun kalo ingat, suka ketakutan sendiri”

Namun kisah ini jangan membuat anda takut. Jin memang ada namun masih ada yang melindungi kita yaitu Allah SWT. “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Q.S. Ar-Rahman : 33). (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *