Kisah Buzzer Masa Kini Vs Zaman Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Kisah Buzzer Masa Kini Vs Zaman Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Buzzer di Zaman Sayyidina Ali bin Abi Thalib Runtuhkan Kaum Khawarij Konten.co.id – Permainan politik masa kini tidak terlepas dari buzzer yang terus menghantui. Yang menjadi pertanyaan sekarang apakah para buzzer ini termasuk kelompok propagandis atau hanya sekedar ketik tanpa argumentasi yang jelas dan bangga dengan follower yang banyak? Pertanyaan itu muncul karena dalam berbagai

Buzzer di Zaman Sayyidina Ali bin Abi Thalib Runtuhkan Kaum Khawarij

Konten.co.id – Permainan politik masa kini tidak terlepas dari buzzer yang terus menghantui. Yang menjadi pertanyaan sekarang apakah para buzzer ini termasuk kelompok propagandis atau hanya sekedar ketik tanpa argumentasi yang jelas dan bangga dengan follower yang banyak?

Pertanyaan itu muncul karena dalam berbagai “pengamatan” para buzzer bayaran bukan memberikan penjelasan kepada lawan untuk bisa menerima argumentasinya namun hanya memberikan pencitraan junjungannya atau pemberi upah.

“Bahwa segala kebijakan atau segala tindak tanduk sang junjungan adalah maha benar. Bahkan kondisi obyektif pun bisa diingkari demi tugas yg diemban karena sdh “dibayar”.
Sehingga jika argumentasinya dipatahkan dan dibenturkan dengan realita keluarlah kata2 “asu,bajingan,bego lu,kadrun,dsb”,” cuit @tikusmerah1.

Didalam threadnya, @tikusmerah1 buzzer sendiri bukannya mencari kawan tapi malah menambah lawan. “Nah mungkin karena hal inilah “pemelihara” buzzer mengevaluasi kinerja para buzzer ini malah merugikan.Sehingga keluar kalimat “sudah tak dibutuhkan lagi” dr pemeliharanya,” katanya.

Keberadaan buzzer bayaran mulai membuat gerah atau merugikan bagi pemeliharanya. Karena dengan keberadaannya lawan malah semakin bertambah dan kawan mulai meninggalkannya.

“Karena sekali lagi bahwa “propagandis hebat/ulung itu adalah yang mampu membuat lawan menjadi kawan”.Bukan malah sebaliknya membuat musuh bertambah banyak,” cuitnya.

Ada sebuah cerita sejarah jaman Sayyidina Ali bin Abi Thalib bagaimana betapa hebatnya sang propagandis membuat sepertiga musuh berbalik mendukung Ali. Sepertiganya ragu-ragu dengan apa yang dilakukan dan sepertiganya tetap melawan Ali.

Sang propagandis itu bernama Ibnu Abbas yang mampu mendebat golongan khawarij saat melakukan perlawanan terhadap kepemimpinan Ali.

Propaganda bisa dilakukan secara langsung misalnya debat atau dialog ataupun tak langsung misalnya lewat jempol di era sekarang.

Diriwayatkan oleh Imam An Nasa-i dalam kitab Al Khasha-ish Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (190), dengan sanad yang Hasan.

Jaman kepemimpinan Khalifah Ali ada salah satu pemberontakan dari kaum Haruriyyah (khawarij). Mereka berkumpul menyendiri di suatu daerah. Dan jumlahnya sekitar 6000 orang

Ada tiga alasan yang mereka percayai sehingga mereka melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dan tiga alasan ini selalu dipropagandakan oleh pemimpin kaum khawarij untuk melakukan pemberontakan.

Dengan percaya diri Ibnu Abbas menghadap pada Amirul Mu’minin dan berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, tundalah shalat zhuhur hingga matahari tidak terlalu panas, mungkin aku bisa berbicara dengan mereka kaum Khawarij”.

Dan Ali pun menjawab: “Aku mengkhawatirkan keselamatanmu”.

“Tidak perlu khawatir”, Ibnu Abbas berkata. Singkat cerita Ali menyetujui apa yang hendak dilakukan oleh Ibnu Abbas terhadap kaum khawarij.

Sebelum mendatangi kaum khawarij, rambut Ibnu Abbas disisir rapi. Tepat tengah hari Ibnu Abbas tiba di tempat kaum khawarij berkumpul.

Disambut juga Ibnu Abbas oleh mereka yang selama ini memusuhi Ali. “Mungkin kalau dlm tradisi jawa yo disuguhi panganan ro ngombe barang,”

Mereka berkata: “marhaban bik (selamat datang) wahai Ibnu ‘Abbas, apa yang membuatmu datang ke sini?”

Setelah basa basi sebentar lalu Ibnu Abbas menanyakan langsung kepada mereka apa alasannya memerangi Ali

Kemudian mereka (kaum khawarif) menjawab pertanyaan Ibnu Abbas. Ada 3 alasan kenapa kamu memerangi Ali. Pertama, Ia telah menjadi hakim dalam urusan Allah.

Dikeluarkanlah dalil oleh kaum khawarif.”Padahal Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah” (QS. Al An’am: 57, Yusuf: 40). Betapa beraninya seseorang menetapkan hukum!”.

Kedua ia memimpin perang melawan pihak ‘Aisyah namun tidak menawan tawanan dan tidak mengambil ghanimah. Padahal jika memang ia memerangi orang kafir maka halal tawanannya.

Namun jika yang diperangi adalah orang mukmin maka tidak halal tawanannya dan tidak boleh diperangi.

“Itu yang kedua.Lalu apalagi alasan yang ketiga sehingga kalian memerangi Ali?,

Ketiga, mereka menyampaikan perkataan yang intinya kaum Khawarij berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib telah menghapus gelar Amirul Mu’minin dari dirinya, dengan demikian ia adalah Amirul Kafirin.

Ibnu Abbas lalu berkata: “apakah masih ada lagi alasan kalian?”. Mereka menjawab: “itu sudah cukup”.

Sebagai seorang yang alim dan pandai berdebat Ibnu Abbas berkata dalam hati.”ah kecil”

Ibnu Abbas mengatakan: “adapun perkataan kalian bahwa Ali bin Abi Thalib telah menetapkan hukum dalam perkara Allah, aku kan membacakan Kitabullah kepada kalian bahwa Allah telah menyerahkan hukum kepada manusia dalam seperdelapan seperempat dirham.

Allah tabaraka wa ta’ala memerintahkan untuk berhukum kepada manusia dalam hal ini. tidakkah kalian membaca firman Allah tabaraka wa ta’ala yang artinya

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan dalam keadaan berihram. Barang siapa yang membunuhnya diantara kamu secara sengaja, maka dendanya adalah menggantinya dengan hewan yang seimbang dengannya, menurut putusan hukum dua orang yang adil diantara kamu‘ (QS. Al Maidah: 95)

Ini diantara hukum Allah yang Allah serahkan putusannya kepada manusia. Andaikan Allah mau, tentu Allah bisa memutuskan saja hukumnya. Namun Allah membolehkan berhukum kepada manusia.

“Demi Allah aku bertanya kepada kalian, apakah putusan hukum seseorang dalam mendamaikan suami-istri yang bertikai atau dalam menjaga darah kaum muslimin atau dalam masalah daging kelinci itu afdhal? Mereka menjawab: “iya, tentu itu afdhal”.

Dalam masalah pertikaian suami istri, “Dan bila kamu mengkhawatirkan perceraian antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (penengah yang memberi putusan) dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga wanita” (QS. An Nisaa: 35).

Demi Allah telah bacakan kepada kalian diperintahkannya berhukum kepada manusia dalam mendamaikan suami-istri yang bertikai dan dalam menjaga darah mereka, dan itu lebih afdhal dari pada hukum yang diputuskan beberapa wanita.

Apakah alasanmu sudah terjawab dengan ini? Mereka menjawab: “Ya”. Alasan pertama dari kaum khawarif bisa dipatahkan oleh Ibnu Abbas.

Kemudian untuk alasan yang kedua Ibnu Abbas berkata: “adapun perkataan kalian bahwa Ali berperang (melawan pihak ‘Aisyah) namun tidak menawan dan tidak mengambil ghanimah, saya bertanya, apakah kalian akan menawan ibu kalian ‘Aisyah?

“Apakah ia halal bagi kalian sebagaimana tawanan lain halal bagi kalian? Jika kalian katakan bahwa ia halal bagi kalian sebagaimana halalnya tawanan yang lain, maka kalian telah kufur, Atau jika kalian katakan ia bukan ibumu, kalian kafir. ‘Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka (kaum mukminin)‘ (QS. Al Ahdzab: 6).

Maka kalian berada di antara dua kesesatan, coba kalian pilih salah satu? Apakah ini sudah menjawab alasan kalian?”. Mereka menjawab: “ya”.

Dengan jawaban dan argumentasi Ibnu Abbas tersebut alasan kedua yang dijadikan pijakan kaum khawarij sehingga memerangi Ali juga sudah terbantahkan

Sedangkan untuk menjawab alasan ketiga, Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian bahwa Ali menghapus gelar Amirul Mu’minin darinya,maka aku akan sampaikan hal yang kalian ridhai.Bukankah Nabi shalallahu‘alaihi wasallam pada Hudaibiyah membuat perjanjian dengan kaum Musyrikin.

Rasulullah berkata kepada Ali, “tulislah wahai Ali, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad Rasulullah”.

Namun kaum musyrikin berkata, “tidak! andai kami percaya bahwa engkau Rasulullah, tentu kami tidak akan memerangimu”.

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Kalau begitu hilangkan tulisan “Rasulullah” wahai Ali. Ya Allah, sungguh Engkau Maha Mengetahui bahwa aku adalah Rasul-Mu. Hapus saja, wahai Ali. Dan tulislah, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad bin Abdillah”

Padahal Rasulullah SAW tentu lebih utama dari pada Ali. Namun beliau sendiri pernah menghapus gelar “Rasulullah”. Namun penghapus gelar tersebut ketika itu tidak menghapus kenabian beliau. Apakah alasan kalian sudah terjawab dengan ini?”. Mereka berkata: “ya”.

Dari penjelasan yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas terhadap kaum khawarij yang memerangi Ali, menjadikan sepertiga dari mereka sadar dan kembali pada barisan Ali.

Sementara sepertiganya mulai ragu-ragu terhadap apa yang mereka yakini selama ini dan sisanya tetap berperang melawan Ali.

Dan dalam peperangan tersebut akhirnya kaum khawarij bisa ditumpas oleh pasukan Ali karena secara moral sudah hancur akibat propaganda atau penjelasan yang disampaikan oleh Ibnu Abbas.

Dari kisah tersebut sebenarnya kita bisa belajar bahwa betapa hebatnya pengaruh propaganda yang didasari dengan pengetahuan dan penyampaian yang santun dari seorang propagandis

Ibnu Abbas mampu mengubah pandangan sepertiga dari kaum khawarij yang selama ini menjadi lawan menjadi kawan dalam barisan Ali. Dan sepertiga menjadi ragu-ragu akan keyakinan yang dipercayai selama ini.

Disitulah sebenarnya tugas para propagandis hebat.Mampu mengubah pandangan lawan dengan argumentasi yang sesuai dengan realitas.

“Tidak hanya “waton suloyo” dan asal pokok e.Kalau hanya waton suloyo dan asal pokok e yang terjadi bukannya menambah kawan namun sebaliknya menambah lawan,’ cuit @tkusmerah1.

Makanya saat ini tidak heran bahwa keberadaan “para buzzer” peliharaan menjadi beban yang memeliharanya.Karena apa yang mereka sampaikan malah banyak menambah musuh bukannya menambah kawan dalam barisannya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *