Kali Jakarta Bersih Karena Robot Penyedot Plastik

Kali Jakarta Bersih Karena Robot Penyedot Plastik

The Interceptor bersihkan sampah plastik di Kali Jakarta

Robot Penyedot Plastik Bersihkan Sampah di Kali Jakarta

Konten.co.id – Sungai di Jakarta dikenal karena sangat kotor. Untuk mengatasi ini banyak cara yang dilakukan.

Baru-baru ini Sebuah perusahaan Belanda membawa robot pembersih sungai ke salah satu titik episentrum polusi sampah plastik di dunia, yakni Indonesia. Proyek ujicoba pertama dilakukan di Kali Cengkareng Drain, Jakarta Barat.

Interceptor adalah sebuah wahana nirawak yang mampu menyedot hingga 100 ton sampah plastik per hari. Ia digerakkan oleh energi matahari dan bisa bekerja siang malam tanpa memproduksi polusi suara atau udara. The Interceptor juga tercatat memiliki kapasitas penampungan hingga 50 meter kubik plastik.

Setelah penuh, sistem komputer di dalam kapal akan mengirimkan pesan ke operator untuk menepi dan mengosongkan muatan. Pembuat The Interceptor Boyan Slat berjanji prosesnya semudah seperti mengosongkan kantung penyedot debu.

Alat buatannya itu dijadwalkan beroperasi selama 24 jam penuh. Sebagai proyek pertama The Ocean Cleanup memilih Indonesia lantaran tercatat sebagai salah satu negara penyumbang polusi plastik terbesar di dunia.

Untuk itu Boyan menurunkan The Interceptor serta sekelompok insinyur untuk membersihkan Kali Cengkareng Drain di Jakarta Barat. “Ini adalah sungai kotor pertama yang ingin kami bersihkan,” kata Sjoerd Drenkelford, pakar instalasi The Ocean Cleanup.

“Sebelum diterjunkan ke Jakarta, The Interceptor sempat diujicoba di Belanda. Namun di sana anggota tim harus ekstra membuang sampah lantaran kondisi sungai yang terlalu bersih,” ucapnya.

Bersama The Interceptor, Slat berambisi ingin membersihkan 1.000 sungai paling kotor di Bumi dalam waktu lima tahun. Sungai-sungai tersebut berkontribusi sebanyak 80% terhadap polusi plastik global.

Selain Indonesia, satu unit Interceptor juga sudah diterjunkan di Malaysia dan yang ketiga sedang disiapkan untuk Vietnam. Namun upaya Boyan bukan tanpa kritik. Ilmuwan Dianna Cohen, Direktur Plastik Pollution Coallition menyayangkan bahwa The Ocean Cleanup menjual mimpi yang mustahil terwujud dan akan menyedot dana yang biasanya digunakan untuk metode pembersihan sungai yang sudah teruji.

Minimnya penelitian terkait jumlah plastik juga membuat upaya pembersihan menjadi percuma. Pihaknya meminta menitikberatkan kampanye anti plastik untuk mendorong penduduk agar tidak membuang plastik di sungai atau laut, ketimbang upaya pembersihan yang menurutnya tidak akan ada habisnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *