Hukum Menitipkan Anak ke Orang Tua

Hukum Menitipkan Anak ke Orang Tua

Memiliki anak maka harus bisa menjaga dan jangan dititipkan lagi ke kakek neneknya karena bisa jadi dosa

Dosanya Jika Menitipkan Anak ke Orang Tua

Konten.co.id – Tugas orangtua kepada anaknya adalah merawat dan mendidik mereka. Namun karena kesibukan pekerjaan kedua orangtua, kerap kita jumpai orangtua yang menitipkan anak-anaknya kepada kakek neneknyakarena takut salah asuhan.

Lalu, bagaimana sih hukum Islam tentang hal ini? Sebenarnya, islam sangat tidak menganjurkan anak dititipkan kepada orangtua ayah ibunya. Sebab, seorang anak yang sudah menikah berkewajiban untuk berbakti kepada orangtuanya, seperti dalam firman Allah SWT di Surat Al Isra ayat 23.

” Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ” ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Orangtua di usia lanjut patut mendapat perlakuan yang lemah lembut dari anak-anaknya. Si anak juga harus berhati-hati dalam berucap, jangan sampai membuat hati orangtuanya terluka.

Kemudian, fisik yang melemah menjadi pertimbangan selanjutnya agar kita tidak menitipkan pengasuhan anak kepada orangtua. Kondisi fisik tersebut berpengaruh terhadap kejiwaan para orangtua yang menjadi semakin sensitif.

Lalu, patut diperhatikan dengan sungguh, tanggung jawab pengasuhan ada pada orangtua, bukan orang lain. Baik buruk seorang anak bergantung para sejauh mana orangtua mendidiknya.

Tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan anak semestinya ada pada pundak orang tuanya, bukan kakek dan neneknya ataupun guru-guru di sekolah. Inilah yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Kalian semua adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinan kalian. Pemimpin diantara manusia dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga serta anak-anak suaminya dan dia akan ditanya tentang mereka. Budak adalah pemimpin bagi harta tuannya dan dia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah bahwa kalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan pemimpin dalam hadits ini adalah orang yang dipercaya untuk mengurus apa yang dibawah kepemimpinannya dan juga akan melakukan hal-hal yang baik bagi yang dipimpinnya.

Jika ia lalai menjalankan kepercayaan itu maka ia akan bertanggung jawab terhadap kelalaiannya. Begitu juga anak-anak, pada hakikatnya dia adalah amanah yang Allah percayakan kepada setiap orang tua.

Jika orang tua melalaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya yang mengakibatkan terjadinya hal-hal yang kurang baik terhadap anaknya maka orang tualah yang akan dimintai pertanggung jawaban apalagi jika alasan melalaikan tanggung jawab tersebut hanya karena ingin mengejar karir atau ambisi pribadi.

Digambarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Bapak dan ibunyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR. Bukhari)

Hadits nabi ini menggambarkan besarnya peran kedua orang tua dalam mengarahkan anak, bukan saja baik atau buruknya agama anak tapi juga bisa menjadikan anak pindah agama.

Memang biasanya nenek atau kakek pastilah senang dengan cucu-cucunya tapi jika sudah menitipkan sepanjang hari, setiap hari, setiap minggu maka ini namanya bukan lagi menyenangkan tapi sudah membebani, merepotkan, dan menyusahkan.

Oleh karena itu setiap orang tua hendaknya kembali memikirkan apa motifnya menitipkan anak-anak kepada kakek atau neneknya sebab jika sampai menyusahkan maka orang tua bisa terkena dua kesalahan:
• Kesalahan karena mengabaikan kewajiban mendidik anak
• Kesalahan menganiaya orang tua (mertua).

Akan tetapi jika menitipkan anak-anak kepada kakek dan neneknya itu bersifat insidentil atau sesekali dan itu pun hanya sebentar sehingga tidak menyusahkan bahkan membuat senang hati kakek dan neneknya maka tentu saja hal ini bisa menjadi amal shalih karena bagian dari menyenangkan orang tua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang kakek juga memiliki banyak momen kebersamaan dengan cucu-cucunya khususnya Hasan dan Husain putra dari Fatimah binti Muhammad dan Ali bin Abi Thalib bahkan momen-momen yang serius pun beliau tidak kuasa menahan dirinya untuk menggendong cucu-cucunya.

Diriwayatkan dari Buraidah radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah, datanglah Hasan dan Husain dengan berlari. Sebelum sampai di hadapan Sang Nabi, kedua cucu beliau itu terjatuh. Beliau pun menghentikan khutbahnya, mendatangi, dan menggendong, lalu meletakkan kedua cucunya di samping beliau berkhutbah. Kemudian beliau bersabda:

“Aku melihat kedua anak ini berjalan dan terjatuh” lanjut beliau “Dan aku tak bisa bersabar sampai aku memotong khutbahku dan mengangkat mereka.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban)

Keakraban Nabi Muhammad SAW dengan cucunya juga tampak dari hadits Salamah bin Al Akwa yang ketika itu menuntun tunggangan Rasulullah SAW.

Rasul juga menaiki tunggangannya itu bersama kedua cucunya Hasan dan Husain. Satu duduk di depan dan satunya lagi duduk di belakang beliau.

Bahkan senangnya hati Rasul bersama cucunya juga bisa dilihat dari kebersamaannya bersama cucu angkatnya Usamah bin Zaid yang merupakan putra dari anak angkatnya Zaid bin Haritsah. Usamah saat itu digendong Rasulullah SAW bersama Hasan

“Ya Allah, cintailah keduanya. Sesungguhnya aku mencintai mereka berdua.”

Dalam riwayat lain, Imam Bukhari mencatat cucu angkatnya yang bernama Usamah bin Zaid pernah dipangku di salah satu paha Rasulullah SAW kemudian Hasan yang datang belakangan dipangku di paha beliau yang lain. Sembari memeluk keduanya, Rasulullah SAW bersabda :

“Ya Allah, sayangilah keduanya. Sesungguhnya aku menyayangi mereka berdua.” . (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *