“Cocoklogi” Kasus Penusukan Wiranto Tak Miliki Landasan

“Cocoklogi” Kasus Penusukan Wiranto Tak Miliki Landasan

Menjadi budaya baru netizen di Indonesia selalu mencocok-cocokkan sebuah peristiwa dengan peristiwa lainnya.

“Cocoklogi” Kasus Penusukan Wiranto Tak Miliki Landasan, Apa Jadinya?

Konten.co.id – Peristiwa penusukan dan percobaan pembunuhan terhadap Mentri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menggegerkan dunia. Tidak hanya media tanah air yang memberitakan, berbagai media internasional pun ramai-ramai mempublikasi peristiwa ini.

Pelaku penusukan Syahril Alamsyah alias Abu Rara, menjalankan aksinya saat Wiranto berkunjung ke Pandeglang, Banten pada Kamis, 10 Oktober 2019. Saat itu, Wiranto akan kembali ke Jakarta setelah meresmikan gedung dan memberi kuliah umum di Universitas Mathla’ul Anwar.

Panglima TNI periode 1998-1999 ini ditusuk di gerbang alun-alun Menes Desa Purwaraja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang kala ia turun dari mobil dinasnya. Polisi menyebut Abu Rara merupakan jaringan JAD Bekasi.

Namun tentunya bukan netizen kalau percaya begitu saja atas keterangan pihak berwenang. Jurus jitu netizen yaitu cocoklogi atau mencocok-cocokan sebuah peristiwa mulai digaungkan.

Berikut redaksi konten.co.id mencoba merangkum cocoklogi yang digaungkan netizen dalam peristiwa penusukan Menko Polhukam Wiranto:

Pelaku Penusukan Disamakan dengan Menantu WIranto

Netizen menduga pelaku adalah orang terdekat presiden Joko Widodo (Jokowi). Seperti di posting akun Facebook Andrie Greend yang mengunggah sebuah gambar di kolom komentar postingan akun Dukung Suara Mahasiswa yang menunjukkan foto yang mirip dengan pelaku yang menyerang Wiranto.
Abu Rara

“kerjaan buzzer jkwi…katanya rajin sholat smpe jidat item..trnyta pelaku penusukan dukun pribadinya jokowi…wkwkkwk aktingnya ketahuan..besok bikin akting lg..kmren ninoy…skrg penusukan wiranto..hhh klo bener teroris yg melakukan enak langsung pake bom pasti..ngapain pake pisau…pisau ninja pula tuh..jngan2 pisau buag potong pisangku digerai anak presiden”

Namun berdasarkan hasil penelusuran, faktanya dua orang pria di gambar tersebut adalah dua orang yang berbeda.

Pria berbaju putih tersebut adalah Abdi Setiawan, menantu Wiranto, suami dari Amalia Sianti atau yang dikenal sebagai Lia Wiranto. Foto yang diposting tersebut adalah ketika keluarga Wiranto berkumpul di pemakaman putra Abdi Setiawan dan Lia Wiranto, Achmad Daniyal Alfatih pada Jumat (16/11/2018).

Sementara itu, pria berbaju hitam yang disebut sebagai pelaku penusukan terhadap Wiranto adalah Syahril Amansyah alias Abu Rara.

Abu Rara merupakan pria kelahiran Desa Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatra Utara. Abu Rara ditangkap bersama istrinya yang berinisial FA (21) warga Desa Sitanggai Kecamatan Karangan, Kabupaten Brebes.

Keduanya merupakan warga dari luar Banten yang belum lama mengontrak di Kampung Sawah, Menes, Pandeglang, Banten.

Peristiwa Penusukan Wiranto Disamakan dengan Penganiayaan Ratna Sarumpaet

Bermula dari cuitan Politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Hanum Salsabiela Rais, mengenai insiden penyerangan Wiranto. Dalam cuitannya, putri Amien Rais menyebut ada pendapat yang menduga penusukan tersebut sebagai aksi yang sengaja dibuat alias rekayasa.

“Setting-an agar dana deradikalisasi terus mengucur. Dia caper (cari perhatian). Karena tidak bakal dipakai lagi,” tulis Hanum, pada unggahan pukul 15.14 WIB.

Hanum menyebut, insiden itu sebagai tindakan play victim. “Mudah dibaca sebagai plot,” tambah dia.

Menurut Hanum, kalimat-kalimat itu merupakan opini yang beredar di masyarakat mengenai berita penusukan yang dialami Wiranto.

“Tidak banyak yang benar-benar serius menanggapi. Mungkin karena terlalu banyak hoax-framing yang selama ini terjadi,” kata dia.

Lalu cuitan tersebut tiba-tiba menghilang. Hanum pun mengatakan kalau cuitannya terhapus.

Namun tentunya jejak digital tidak bisa hilang begitu saja. Cuitan Hanus sudah ada yang mengabadikan melalui screen shoot. Sehingga pernyataannya itu menjadi kontroversi.

Sehingga netizen pun ada yang menyamakan pernyataan Hanum Rais itu dengan peristiwa yang menimpa Ratna Sarumpaet.

Akun @Narkosun menuliskan, “Menolak lupa cuitan2 @hanumrais – Ratna Sarumpaet oplas, katanya digebukin. – Pak Wiranto ditusuk teroris, katanya setingan. Ada ya makhluk seperti ini, hidup pulak.” tulisnya, seraya mencantumkan screenshoot cuitan Hanum Rais pada peristiwa Ratna.

Pisau yang Digunakan Penusukan Disamakan dengan Senjata Naruto

Selain komentar serius terkait peristiwa penusukan Menko Polhukam ada juga yang malah bercanda. Pasalnya, banyak warganet yang mempersoalkan pisau yang digunakan penusukan sama dengan senjata yang digunakan oleh Naruto.

Seperti akun @Atepfathurrohm1 menuliskan “Dia bukan terpapar paham isis,, tapi terpapar anime naruto,” tulusnya sambil mencantumkan hastag #WirantoDitusuk.

Sementara itu, akun @Lysa_doaNk menuliskan “Ngakak aq loh.” dengan mencantumkan #Negeri62PenuhSandiwara.

Riuh berbagai ungkapan netizen terkait asumsi mereka di media sosial tentunya tidak bisa dijadikan sebuah rujukan tentang sebuah kebenaran. Pasalnya, mereka hanya berasumsi atau sekedar melontarkan humor segar di tengah riuhnya politik di Indonesia.

Asumsi yang mereka lontarkan tentunya tidak didasarkan pada landasan ilmu pengetahuan. Walau pun orang yang mengeluarkannya seorang yang berilmu.

Sebagai contoh, pernyataan Hanum Rais yang menyebutkan penusukan Wiranto adalah settingan tentunya tidak memiliki dasar yang kuat. Padahal ia merupakan kader partai dan seorang dokter.

Jadi pada prinsifnya, kita harus menggunakan media sosial untuk kebaikan. Jangan sampai menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Jika tidak ada kehati-hatian, netizen pun dengan mudah termakan tipuan hoax tersebut bahkan ikut menyebarkan informasi palsu itu, tentunya akan sangat merugikan bagi pihak korban fitnah. Lalu bagaimana caranya agar tak terhasut?

Seperti yang terlansir pada halaman kompas.com, Minggu (8/1/2016), Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoax dan mana berita asli. Berikut penjelasannya:

1. Hati-hati dengan judul provokatif

Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.

Oleh karenanya, apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya Anda mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya Anda sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

2. Cermati alamat situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita.

Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

3. Periksa fakta

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.

Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

4. Cek keaslian foto

Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

5. Ikut serta grup diskusi anti-hoax

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

Ini Cara melaporkan berita atau informasi hoax

Apabila menjumpai informasi hoax, lalu bagaimana cara untuk mencegah agar tidak tersebar. Pengguna internet bisa melaporkan hoax tersebut melalui sarana yang tersedia di masing-masing media.

Untuk media sosial Facebook, gunakan fitur Report Status dan kategorikan informasi hoax sebagai hatespeech/harrasment/rude/threatening, atau kategori lain yang sesuai. Jika ada banyak aduan dari netizen, biasanya Facebook akan menghapus status tersebut.

Untuk Google, bisa menggunakan fitur feedback untuk melaporkan situs dari hasil pencarian apabila mengandung informasi palsu. Twitter memiliki fitur Report Tweet untuk melaporkan twit yang negatif, demikian juga dengan Instagram.

Kemudian, bagi pengguna internet Anda dapat mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Masyarakat Indonesia Anti Hoax juga menyediakan laman data.turnbackhoax.id untuk menampung aduan hoax dari netizen. TurnBackHoax sekaligus berfungsi sebagai database berisi referensi berita hoax. (MHI)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *