Bento, Bekal Makan Siang Khas Jepang yang Melegenda

Bento, Bekal Makan Siang Khas Jepang yang Melegenda

Bento atau kotak bekal makan siang Jepang sangat melegenda sejak dulu hingga kini.

Sejarah Bento, Bekal Makan Siang Khas Jepang yang Melegenda

Konten.co.id – Membawa bekal makan siang untuk disantap di tempat kerja atau belajar memang bukan monopoli satu kultur saja. Rasanya hal itu berlaku di belahan dunia manapun. Asia, Amerika, Eropa, di mana saja.

Bekal makanan yang disiapkan dari rumah merupakan salah satu cara untuk menghemat pengeluaran makan siang. Atau untuk memastikan kalau makanan yang dikonsumsi baik kualitasnya karena homemade.

Intinya ada alasan bagus untuk membawa dan mengonsumsi bekal makan siang di beragam kultur dunia. Mungkin hanya kultur Jepang yang “serius” soal bekal makan siang ini jika dibandingkan negara lain.

Disebut sebagai “Bento”, bekal makanan ini sudah jadi semacam kebiasaan orang-orang di Jepang. Mulai dari tingkatan sekolah dasar hingga pekerja kantoran sekalipun, mereka sering terlihat membawa dan mengonsumsi bento di saat jam makan siang.

Secara umum, Bento di Jepang mulai dikenal dan perlahan menjadi kebiasaan warga di sana sejak lama sekali. Di era Kamakura, atau tahun 1100-an, sudah dikenal nasi yang dikeringkan (disebut ‘Hoshi-ii’) untuk dibawa sebagai bekal makan siang dari rumah.

Hoshi-ii tadi bisa dimakan kering seperti kerupuk beras ataupun direbus kembali dalam air mendidih agar lebih lunak.

Di tahun 1500-an atau di era Azuchi-Momoyama, kotak kayu berbentuk petak (seperti yang kini digunakan sebagai standar pembungkus bento) mulai dipopulerkan untuk tempat menyimpan bekal.

Ini juga terlihat di masa Warlord Oda Nobunaga, di mana dia memberikan ransum pada tentaranya secara individual. Para prajurit Nobunaga mendapatkan makanan mereka dalam bentuk bento, dan hal itu memastikan kalau setiap prajurit mendapatkan makanan dalam porsi dan jenis yang seragam. Bahkan konon standarisasi kata “Bento” merupakan hasil dari aksi team ransum militer Nobunaga ini.

Hal itu terus berlanjut di era Edo, atau antara tahun 1600 hingga 1800 Masehi. Bento “Maku no Uchi” merupakan model bento yang populer di masa ini, di mana konsumsinya biasa di saat sedang menonton Kabuki atau Wayang Orang versi Jepang.

Pertunjukan Kabuki biasa dibagi-bagi dalam segmen dan ada jeda di antara segmen tersebut. Di masa jeda itulah penonton memakan bekal bento mereka. “Maku” sendiri di sini berarti kurang lebih ‘aksi/akting’.

Jadi bento Maku no uchi bisa diartikan sebagai “bekal yang dimakan saat jeda aksi (pertunjukan Kabuki)”. Maku no uchi biasa terdiri dari nasi kepal (onigiri), ikan panggang, sayuran segar dan telur gulung tamagoyaki.

Jepang memasuki era modernisasi di masa Restorasi Meiji (1868-1912). Berbagai elemen modern dunia Barat mulai memasuki kultur bangsa Jepang. Pembangunan rel kereta api, yang kemudian menjadi bagian penting negara Jepang, juga memiliki pengaruh ke bento.

Di mana bento mulai diperdagangkan sebagai produk makanan cepat saji di berbagai stasiun kereta api. Jadi, alih-alih membuat dan membawa bento dari rumah, seseorang kini dapat membeli bento siap santap di stasiun kereta api.

Kalau di Indonesia kurang lebih seperti membeli sarapan di warung makanan. Atau membeli makan siang di rumah makan tanpa perlu mempersiapkannya lebih dulu dari rumah.

“Ekiben”, atau “Bento Stasiun Kereta Api”, mulai dijual dan dipopulerkan di stasiun kereta api Utsunomiya, Prefektur Tochigi. Itu dipercaya terjadi tahun 1885.

Sejak saat itu hampir seluruh eki/stasiun kereta api di Jepang memiliki kios yang menjual bento dalam berbagai isian dan jenis. Ada yang dibungkus rapi dalam kotak kayu maupun dalam kotak yang sekali pakai dan buang. Namun semua jenis Ekiben punya persamaan fungsi terlepas dari model yang digunakan, yaitu sebagai bekal makan siang.

Ngomong-ngomong soal “model bento”, di era modern seperti sekarang ada banyak sekali jenis bento yang tersedia di Jepang. Yang sering nonton anime Jepang tentu sudah tahu kalau bento terkadang merupakan bagian di sebuah anime.

Di mana karakter dalam anime diberikan atau membawa bento yang dipersiapkan dari rumah. Memang pada umumnya, bento yang ada di Jepang dapat di kategorikan dalam dua kelas. Yaitu Bento yang dipersiapkan orang dari rumah, atau Bento yang dibeli di stasiun / Eki atau kios bento lain seperti minimarket.

Namun ada pula bento jenis lain dari kedua bento tadi, yaitu “Kiwami Bento” atau “Bento Kelezatan Sempurna”. Nama yang catchy, bukan?

Biasanya sebuah bento dihargai dengan nominal yang terjangkau, karena memang isi sebuah bento normalnya bukanlah menu gourmet atau berkelas seperti hidangan restoran mahal.

Bento biasanya terdiri dari nasi, telur gulung, irisan ikan salmon, gurita bakar, sayuran maupun buah-buahan, serta berbagai jenis masakan lain. Tidak ada aturan baku untuk isi dan jenis bento. Semua tergantung selera pembuat, sehingga harga tiap paket bento bisa sangat bervariasi.

Namun normalnya bento-bento jenis ini berharga terjangkau. Biasanya Ekiben dihargai di bawah seribu Yen (US$9.20 / Rp130.000) per paket.

Berbeda dengan negara Indonesia, di mana harga rata-rata normal untuk makan siang masih ada di sekitar Rp25.000 per paket. Tapi harga tadi tidak berlaku untuk “bento elite” seperti Kiwami Bento.

Contohnya bento yang dijual di Meat Yazawa, sebuah kios penjual bento spesial dengan varian menu dan harga di atas rata-rata produk ekiben.

Meat Yazawa yang terletak di departmen store Daimaru, Stasiun Tokyo, Jepang, ini menjual bento mulai dari harga 5,929 Yen (US$54) untuk bento “Gokuniku Bento” isi steak daging Hamburger dan 6,280 Yen untuk bento isi daging filet sirloin.

Tersedia “Zeitaku Bento” senilai 7.980 berisi dua jenis daging Hamburger dan filet dan menu premium dari Meat Yazawa yaitu “Kiwami Bento” yang dijual seharga 9.980 Yen atau US$92 / Rp1.370.000 yang memiliki isian daging steak kelas tertinggi “Wagyu A5”.

Wagyu A5 merupakan daging sapi premium yang sangat mahal sehingga memiliki kelas tertinggi di pasaran daging internasional.

Tentu tidak banyak orang yang sanggup atau rela mengeluarkan uang hingga satu juta empat ratus ribu rupiah untuk sekotak nasi dan beberapa potong daging sapi serta sayuran. Tapi pasar untuk bento mewah seperti itu tetap ada walau jumlahnya tentu saja tidak banyak.

Di Indonesia, membawa bekal makan siang sendiri menurut saya merupakan solusi baik walaupun cenderung ribet. Sayang, konsep bento seperti kultur di Jepang sepertinya tidak akan berjalan di Indonesia.

Kebiasaan turun temurun untuk membeli makan siang di warung nasi di jam makan siang masih sangat kuat. Menyiapkan bekal untuk makan siang semakin ditinggalkan banyak orang Indonesia karena dianggap merepotkan.

Bento boleh dibilang kebiasaan yang sudah ratusan tahun diturunkan di kalangan rakyat Jepang. Jadi tidak mengherankan kalau mereka masih mempraktekkan hal tersebut hingga hari ini.

Hal ini murni merupakan kebiasaan kultural setempat, yang belum tentu dapat dilakukan di tempat lain. (*)

Penulis : AIK

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *