Bangkit Usai Bangkrut, Pengusaha Travel Asal Aceh Ini Banjir Dukungan

Bangkit Usai Bangkrut, Pengusaha Travel Asal Aceh Ini Banjir Dukungan

Pengusaha travel asal Aceh Akmal Khanif dipuji lantaran masih bisa bangkit usai mengalami bangkrut.

Pengusaha Travel Asal Aceh Ini Berani Bangkit Usai Mengalami Kebangkrutan

Konten.co.id – Setiap orang pasti pernah menemukan kegagalan dalam hidupnya, entah itu dalam usaha atau dalam bidang apapun. Baru-baru ini curhatan seorang pengusaha asal Aceh mampu menyedot perhatian publik.

Ia adalah Akmal Hanif pemilik perusahaan Elhanif Grup yang berdomisili di Aceh. Akmal membagikan pengalaman pahitnya di lini masa Facebook setelah beberapa kali ia diuji oleh banyak kegagalan dalam bisnisnya, sampai saat ini kiriminnya di Facebook disukai oleh lebih dari 1,2 ribu orang.

Dimulai sejak tahun 2006 ia untuk pertama kali memulai karir sebagai seorang pembisnis. Saat itu Akmal mengurusi pemberangkatan calon mahasiswa Aceh yang hendak studi ke Mesir. Semua perizinan dari mulai pembekalan bahasa dan perizinan lainnya ia urus, namun saat hendak berangkat para mahasiswa itu malah meninggalkan Akmal dengan memilih pergi bersama tim lain yang mengurusi pemberangkatan mahasiswa Aceh yang akan berangkat ke Al-Azhar, Kairo.

Dalam pemberangkatan ke Kairo itu, ada beberapa mahasiswa yang tidak memenuhi standar kelulusan yang mana mahasiswa-mahasiswa tersebut tidak bisa berangkat, namun Akmal tetap membantu mereka.

Ia usahakan segala upaya untuk meloloskan standar kelulusan agar para mahasiswa itu bisa berangkat, namun usaha Akmal dalam membantu mereka tetap dipandang sebelah mata, ia kembali ditinggalkan, bahkan tak satupun ucapan terimakasih ia dapatkan, bahkan ia menyebutkan tak seorang pun ingin mengetahui bahwa dirinya lah yang memproses lulusnya para mahasiswa tersebut.

Saat itu ia masih berumur 24 tahun, ratusan juta uang tak tersisa demi mengurusi pemberangkatan ke Kairo. Bisnis Travelnya pun bangkrut dan ia sempat stress waktu itu.

Di tahun 2012 ia kembali mengalami hal pahit, kali ini ia harus mendekap dipenjara. Saat itu ia mengundang Artis terkenal, Maher Zein. Ia datangkan MZ ke Aceh, dalam perjalanan sponsor utama acara konser tersebut tiba-tiba membatalkan kerjasama. Alhasil semua beban pembiayaan Akmal tanggung sendiri, ia berhutang kemana-mana, sampai akhirnya ia harus dipenjara. Selepas ia keluar dari penjara, ayahanda Akmal meninggal dunia, ia pun cerai bersama istrinya.

Saat kejadian itu Akmal memilih mendinginkan diri, ia pulang ke kampung dan mengasingkan diri sembari berserah dan ia perlahan bangkit. Ia kembali ke medan bisnis, bisninya di bidang Travel mampu kembali bersaing dan melonjak dengan banyak keberhasilan.

2017 ia pun mencalonkan diri sebagai calon legislatif di pemilu 2019, ia berencana menyuarakan hak-hak rakyat di Senayan. Inilah awal mulai kebangkrutannya  yang ketiga. Ia kalah dan harus puas dengan sistem dan regulasi yang ada di partai.

Hingga saat ini Akmal masih menjalani proses persidangan internal di partai terkait haknya yang saat ini diisi oleh kader lain. Ia memang harus perjuangkan haknya, hak menuju parlemen di Senayan.

Usahanya  yang tidak  tergarap dengan baik, ia banyak menghabiskan energi pada proses pencalonan saya menuju senayan. Ia putuskan berhenti lebih awal dalam politik, meski proses mengambil haknya masih berlangsung di internal partai. Ia harus fokus pada penyelesaian urusan kepada banyak orang. Saat ini ia sudah tidak memiliki apa-apa, saya jatuh yang ketiga kali di dunia usaha.

Berikut adalah curhatan lengkap Akmal Hanief:

https://web.facebook.com/Abi.Akmal.Resmi/posts/10218755278305634?__xts__%5B0%5D=68.ARBfDPF5MjS4filXtOYE9rbdchSoUNlGhGTladSlJjstZVj1pLg8uBdJUlFLtV2dKZ3AZSH3aRNvtJCLI7EJkvzQl0RKEugZQWGO5rwYbY8Y1RGckR-KEIOwMq1V5XzbL1vkrRHJvyFd8veKAW2lTsua9Nszcwr-aa6U02rHr6EZS_mKdtienyu0bSxBWeJQoznOVtkRogSmBy_RsENQxjGSj5eWr3vlPl_nqjT3-h2UpIZHysyWM1yWkLHlrhhSJSM47g&__tn__=K-R

Usia 37 Tahun Bangkrut yang Ketiga
22 okt 1982 – 22 okt 2019

22 OKTOBER 1982 adalah hari lahir saya, di bulan ini tahun 2019 genap usia saya 37 tahun. Saat inilah saya sedang mendapatkan ujian besar , kebangkrutan usaha yang ketiga setelah tahun 2006 mengalami kegagalan perdana dalam perjalanan meniti karir bisnis.

Tahun 2006 sejumlah calon mahasiswa Aceh yang akan melanjutkan studi ke Mesir mengkhianati saya. Sejak awal mereka saya urus, mulai pembekalan bahasa, makan, hingga proses administrasi di Kementerian Agama. Namun, jelang keberangkatan mereka malah meninggalkan saya dan berangkat bersama tim lain yang juga mengurus mahasiswa Aceh yang akan ke Al Azhar, Kairo.

Saya masih ingat peristiwa itu, sebagian dari mereka yang saat ini sudah tamat dan berada di Aceh, ada yang sudah berkarir dan sebagainnya. Nama-nama mereka masih saya ingat dan ada dalam catatan buku harian saya. Di antara mereka ada yang tidak lulus, nilainya rendah tidak memenuhi standar kelulusan, namun saya komunikasikan dengan pihak-pihak di Jakarta sehingga dikeluarkan standar kelulusan bagi mereka.

Tapi mereka tidak pernah menghargai dan mau tahu bahwa semua itu saya yang proses, yang urus hingga mereka lulus ke Mesir. Saat itu saya masih berumur 24 tahun dan ini kegagalan pertama saya dalam bisnis travel. Sekitar 300 jutaan di tahun 2007 uang saya habis tak tersisa, saya stres waktu itu.

Tahun 2012 umur saya 30 tahun, saya alami kebangkrutan kedua. Saat itu kasus dengan manajemen Maher Zein. Saya bawa Maher Zein ke Aceh untuk konser, tetapi dalam perjalanan sponsor utama membatalkan kerjasama dan saya harus menanggung semua beban membawa Maher Zein ke Aceh. Saya berutang ke mana-mana, dan saya mendekam di penjara selama satu bulan.

Saya stress berat, dan di tahun itu pula saya harus merelakan rumah tangga yang saya bangun berantakan, saya cerai dengan istri saya.

Tidak sampai di situ, tiga bulan lepas saya keluar penjara, ayah saya meninggal dunia. Cukup berat beban yang saya tanggung pada fase kebangkrutan kedua ini. Keluar dari penjara, saya berbenah. Saya rampingkan manajemen usaha. Saya pulang kampung, menyepi, ke kebun dan urus kolam. Alhamdulillah saya perlahan bangkit, Di sini juga saya mulai berkembang, saya mulai membangun kembali aset dan membuka lebar cabang-cabang usaha di Aceh dan beberapa daerah di tanah air.

Di sinilah saya belajar tentang makna ikhtiar, saya di kampong saat itu menenangkan diri bertafakur sambil urus kebun, tetapi justru terbuk peluang baru di travel dan percetakan. Jadi kadang kita ikhtiar ingin yang lain, tapi Allah Swt kabulkan yang lebih baik bagi saya saat itu.

Tahun 2017 adalah awal saya melirik dunia politik, di masa-masa proses menuju Pemilu 2019 saya bulat mencalonkan diri sebagai caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Dapil Dua. Bukan sedikit biaya yang harus saya gelontorkan untuk mulus di jalan menuju senayan yg sebenarnya ditanggung oleh beberapa sponsor, dln perjalanan sponsor juga menarik diri, di sini juga saya belajar banyak bagaimana seharusnya jalan ditempuh menuju parlemen, semuanya terekam sempurna bahwa jalur ini adalah jalur yang bagi saya merupakan dunia yang sangat baru.

Allah Swt mentakdirkan saya tidak mulus menuju senayan, saya harus puas dengan sistem dan regulasi yang ada di partai. Saya harus bersabar, karena hingga saat ini saya masih menjalani proses persidangan internal di partai berkait hak saya yang saat ini diisi oleh kader lain di PPP. Saya memang harus perjuangkan ini, tetapi hasilanya saya tidak mengetahui seperti apa, yang di jelas di sana ada hak saya, hak menuju parlemen di senayan.

Jujur, di jalur inilah awal mulai kebangkrutan saya yang ketiga. Usaha saya agak kurang tergarap dengan baik, saya banyak menghabiskan energi pada proses pencalonan saya menuju senayan. Saya putuskan berhenti lebih awal di urusan politik, meski proses mengambil hak saya masih berlangsung di internal partai, tetapi saya hendak fokus pada penyelesaian urusan saya kepada banyak orang. Saat ini saya sudah tidak memiliki apa-apa, saya jatuh yang ketiga kali di dunia usaha.

Dalam kondisi seperti saat ini, saya komitmen terus mengurus memberikan layanan terbaik dari semua unit bisnis yang saya kelola dalam payung Elhanief Grup. Ini tanggungjawab saya dan saya komitmen untuk bangkit kembali dengan asset yang ada saat ini. Alhamdulillah pekan lalu kami juga kembali memberangkatkan jamaah umrah dari Banda Aceh langsung ke Madinah. Usaha konveksi sementara saya hentikan, sedang saya setting ulang untuk pengembangan di dayah Raudhatul Quran di Aceh Utara.

Saat ini utang saya lumayan banyak, namun saya punya asset dua kali lipat dari jumlah hutang yg ada pada orang2, Ya, meski harus bersabar karena menjual asset tak semudah yang saya bayangkan. Di saat seperti ini, para pembeli asset menawar dengan sangat rendah sekali dari harga yang saya buka, mungkin mereka tahu saya sedang susah dan perlu banyak uang. Saya tidak mungkin melepas semurah yang ditawar para pembeli asset, pada posisi ini saya harus benar-benar berhitung secara ekonomis agar semua utang bisa saya selesaikan tetapi asset tak sembarang dapat berpindah tangan.

Orang saat ini tidak percaya saya, di saat kesusahan menerpa, meminjam uang kepada orang lain sahabat menjadi perkara susah. Karena selain situasi ekonomi sepert ini, sebagian mungkin bisa saja tidak memercayai saya karena sudah game over. Di saat kondisi seperti ini, sebagian karyawan saya juga harus pilih jalan lain, mereka harus hidup dan menghidupi keluarganya, sebagian pamit karena tak mendapat kejelasan di perusahaan saya. Sebagian karyawan yang memahami keadaan menerima kondisi ini dan mereka rela gajinya saya cicil.

Sebagian orang bertanya, keman Akmal Hanif? Saya jawab saya ada, saya bertanggungjawab atas semua beban perusahaan saya kepada orang termasuk kepada jamaah umrah harus bersabar untuk ke tanah suci. Saat ini saya masih di Thailand dan kadang di Kuala Lumpur, semua saya lakukan demi memperbaiki keadaan. Saya sedang mencari investor, jual aset, belajar usaha, belajar pertanian, belajar bisnis lain agar segera kembali dapat mengelola bisnis dengan baik.

Di Thailand saat ini sedang menjajaki kerjasama, peluang-peluang usaha yang dapat dikerjasamakan bersama pengusaha muslim lainnya di Thailanda dan Malaysia. Saya masih bolak-balik di kedua negara ini untuk urusan membuka peluang terbaru dan menggaet investor baru untuk beberapa usaha yang sedang saya siapkan. Saya juga sedang mempelajari usaha-usaha pertanian di Thailand yang juga berpeluang dikembangkan di Aceh.

Akmal apakah kamu tidak malu membuka aib sendiri? Tidak. Saya tidak malu saya harus sampaikan ini, keadaan saya saat ini sedang terpuruk. Saya tidak sembunyikan kebangkrutan ini, saya tidak pura-pura. Saya memang sedang jatuh dan terhempas jauh. Saya tidak punya uang, meski ada asset yang bisa saya manfaatkan, saya lagi begini, nanti semua utang saya akan selesaikan. Teman-teman yang membantu saya selama ini, mohon bersabar. Saya tidak akan lari, saya akan selesaikan tanggungjawab saya kepada teman-teman semua.

Semua ini harus saya sampaikan agar orang tak negative terhadap saya, agar orang tahu saya masih ada dan segera akan tuntaskan persoalan yang membelit saya. Insya Allah di usia 37 tahun ini, saya bangkrut yang ketiga dan saya segera akan menikah lagi, mungkin inilah yang membuat arah bisnis saya kolaps. Saya perlu pendamping hidup yang setia memahami keadaan dan liku-liku kehidupan saya. Insya Allah saya sedang ikhtiar untuk kembali menikah agar keberkahan kembali saya rasakan.

Ada asset lahan di Aceh Utara yang dapat saya maksimalkan ke depan, insya Allah ini ikhtiar saya. Dalam keadaan seperti ini saya tetap komitmen mencetak kader hafiz di pesantren saya. Jika ada yang ingin jadi hafiz silakan datang dan kami akan didik anak-anak menjadi penghafal alquran, komitmen saya saat kampanye dulu tetap saya tunaikan, meski dengan keterbatasan di dayah saat ini.

Kawan-kawan yang memiliki kewajiban bayar utang sama saya, mohon dibantu. Kondisi saya sedang sangat membutuhkan, sehingga saya juga bisa membayar beban utang saya kepada orang lain yang selama ini juga membantu saya. Utang saya nilainya separuh dari asset yang saya miliki saat ini, tapi belum bisa saya selesaikan, karena posisi begini orang sesukanya menawar asset saya.

Kepada Allah Swt saya berlindung, saya berserah diri seraya memohon ampun, astaghfirullahaladhim…Ujian kebangkrutan ini insya Allah segera berakhir, mohon maaf jika kurang berkenan. Akmal masih ada dan bertanggungjawab atas semua urusan berkait orang lain, Insya Allah! []

Kuala Lumpur, 30 Oktober 2019
Akmal Hanif

Penulis : Sidqi Al Ghifari

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *