Polemik Kemenag Hapus Materi Perang Dalam Kurikulum Madrasah

Polemik Kemenag Hapus Materi Perang Dalam Kurikulum Madrasah

Sejumlah kalangan ingin Kemenag tetap memasukkan materi perang didalam materi dan kurikulum madrasah.

Penghapusan Materi Perang Dalam Kurikulum Madrasah Dianggap Fitnah Terhadap Sejarah Islam

Konten.co.id – Kementerian Agama (Kemenag) berencana menghapus materi tentang perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah. Rencananya hal itu diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2020.

“Kita akan hapuskan materi tentang perang-perang di pelajaran SKI tahun depan. Berlaku untuk semua jenjang, mulai dari MI (madrasah ibtidaiyah) sampai MA (madrasah aliyah),” kata Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama Ahmad Umar

Untuk pengganti, jelas dia, dimasukkan materi terkait masa-masa kejayaan Islam, meliputi kejayaan Islam di Indonesia dan dunia. Menurut Ahmad, penghapusan materi perang ini dilakukan agar Islam tidak lagi dilabeli sebagai agama yang selalu dihubungkan dengan perang.

“Kami ingin menghapuskan pandangan-pandangan orang yang selalu saja mengaitkan Islam itu dengan perang. Kita juga ingin mendidik anak-anak kita sebagai orang-orang yang punya toleransi tinggi kepada penganut agama-agama lainnya,” jelasnya.

Ahmad menyatakan, saat ini buku-buku SKI dengan materi baru itu sudah selesai dibahas. Rencananya, akan diproduksi akhir 2019. “Setelah itu baru akan diuji kelayakan ke publik,” jelas dia

Sementara itu Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Kota Bekasi, Wildan Hasan mengaku menyesalkan hal tersebut.

“Baik buruknya peristiwa di masa lampau adalah bagian dari fakta sejarah. Sejarah itu tidak melulu soal kebaikan dan kejayaan tapi juga keburukan dan keterpurukan. Kita harus jujur terhadap sejarah. Sejarah terjadi bukan untuk ditutup tutupi tapi untuk dipelajari dan diambil ibrohnya agar kebaikan dan kejayaan masa lampau bisa terulang dan terus berlanjut atau keburukan masa lampau tidak terulang kembali di masa depan,” ungkap Wildan dalam siaran pers yang diterima, Sabtu (17/9/2019).

Ia mengatakan umat islam selalu dihubungkan dengan perang atau kekerasan sama sekali tidak ada korelasinya dengan materi ajar perang di mapel SKI.

Tidak pernah ada sampai sekarang orang menuduh Islam suka berperang dan kekerasan akibat mereka baca buku SKI.

“Tuduhan Islam disebarkan dengan perang (kekerasan) adalah tuduhan yang sudah lama sekali sejak masa para orientalis melakukan kerja-kerja ‘intelektual’nya untuk melemahkan umat Islam. Jadi semestinya Kementerian Agama tidak termakan oleh stigma yg dilakukan oleh pihak-pihak yang memang benci terhadap Islam,” sanggahnya.

Dikatakannya perang adalah sesuatu yang ‘jamak’ terjadi dalam kehidupan manusia. Seolah sudah menjadi keniscayaan salah satu bentuk konflik antar manusia adalah perang. Di semua peradaban bangsa dari zaman ke zaman dihiasi dengan adanya peperangan demi peperangan.

“Oleh karena itu yang harus dilakukan Kemenag bukan menghapus materi ajar soal perang karena itu fakta sejarah. Tapi tampilkan kisah perang itu dalam bentuk kisah hikmah. Kisahkan bagaimana adab berperang dalam Islam, apa motivasi perang dalam Islam, lalu apa saja hikmah yang bisa diambil dan lain sebagainya,” tegasnya.

Kemenag beranggapan bahwa perang dalam sejarah Islam itu buruk dan tidak beradab. Hal senada diungkapkan Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat, Anton Tabah.

“Itu berarti mempelajari sejarah tidak utuh, menyembunyikan sejarah nanti justru dituduh Islam tidak jujur, pembohong,” kata Anton dalam keterangan persnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (20/9/2019).

Padahal, lanjut Anton, perjanjian Islam dengan kaum kafir yang terkenal dengan Piagam Madinah ribuan tahun lalu kini dijadikan sebagai konsep HAM PBB dan sudah menjadi rujukan HAM dunia.

Karena itu, jika kini ada narasi Islam berkembang dengan perang itu fitnah kaum atheis liberalis sekuleris yang memiliki agenda merusak Islam. “Jadi tak perlu hapus sejarah perang Rosulullah dan peperangan dalam Islam lainnya. Justru sejarah perang Islam itu penting disosialisasikan agar umat manusia makin tahu tentang Islam yang terbuka toleransi dengan ikon Islam,” jelasnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *