Polemik Jatuhnya Bisnis Kue Kekinian Artis

Polemik Jatuhnya Bisnis Kue Kekinian Artis

Kue kekinian milik para artis banyak yang berguguran. Hal ini perlu diketahui karena banyak alasan yang mendalami. Mulai dari grup yang sama bahkan hanya ikut-ikutan.

Bisnis Kue Kekinian Para Artis Berguguran. Ini Alasannya

Konten.co.id – Artis sebagai publik figur kini banyak yang merambah di dunia kuliner. Bahkan tidak sedikit publik figur yang ikut membuka kue atau cake kekinian. Sebut saja Pisjo Cake milik Arzeti Bilbina, Surabaya Snow Cake Zaskia Sungkar atau Princess Cake-nya Syahrini.

Tapi banyak bisnis tersebut yang justru kini gulung tikar bak daun yang terbang saat musim gugur hanya dalam satu hingga dua tahun.

Chief Empowerment Officer (CEO) Accelerice Charlotte Kowara mengatakan untuk mencari tahu alasan kue artis tutup harus diketahui terlebih dahulu apa peran masing-masing individu artis dalam bisnis tersebut.

“Kebanyakan yang kita lihat artis-artis ini perannya adalah sebagai marketing. Kelebihan mereka bisa memberitahu produk-produk apa yang dijual tanpa susah payah karena sudah punya nama,” ujar Charlotte.

Dikatakannya, dibalik kue kekinian artis ada grup yang mengarahkan dan mengelola. Di Indonesia, ada sekitar 4-5 grup yang masing-masing mengelola sejumlah artis yang berbeda-beda.

“Yang harus diketahui dari grup-grup ini adalah apakah mereka untuk marketing barang atau memproduksi barangnya? Karena tidak mudah membicarakan bisnis Food and Beverage (F&B). Di dalamnya tidak hanya ada sisi marketing, tetapi juga ada sisi bisnis, distribusi, bahkan dari sisi rasa produknya sendiri. Inilah yang harus dicari tahu,” paparnya.

Dikatakannya, fenomena gulung tikar kue-kue kekinian para artis ini juga memiliki hal positif dan negatif. Positifnya mungkin penjualannya bagus, namun dapur utama tidak bisa produksi order yang begitu banyak, yang berimbas kepada supply chain dan operation-nya.

Sementara negatifnya, karena kuenya terlalu terhubung dengan nama si artis dan saat ini tingkat kepopuleran si artis menurun yang mengakibatkan penurunan sales.

Jika melihat dari sisi bisnis, kata dia, perlu dipertanyakan apakah para artis terjun langsung ke dapur guna membantu dari sisi kualitas produk, kemasan, dan supply chain serta operationnya.

“Sedangkan kita tahu kebanyakan kue-kue artis ini hanya menjual nama si artisnya saja, bukan produknya. Tapi ini enggak semua artis ya. Saya tahu ada beberapa artis yang langsung turun tangan ke dapur untuk produksinya,” imbuhnya.

Menurutnya, secara produksi, kualitas grup yang menaungi artis tersebut lumayan bagus. “Hanya soal rasa mungkin mereka tidak sebagus dengan produk yang memang dikembangkan dengan detail. Belum pasti apakah mereka survei soal varian rasa yang bisa diterima di masyarakat. Karena rasa berperan penting dalam hal ini,” ungkapnya.

Dikatakannya, jika dibandingkan dengan bergabung dengan grup yang memiliki kualitas kue biasa aja, seharusnya artis-artis bisa mencari partnership dengan perusahaan yang produknya sudah terbukti berkualitas.

“Mestinya artis-artis ini kerja sama dengan mereka dengan white labeling (memberi merek dari suatu produk atau jasa yang dibelinya dari perusahaan lain) atau mungkin di labeling. Misalnya keripik Syahrini, tapi keripiknya itu memang produksi dari perusahaan yang bagus dan berkualitas,” tambahnya.

Dikatakannya, kue kekinian artis juga menjadi salah satu korban bisnis latah di Indonesia. Sebelumnya ada Es Kepal Milo yang cepat menyebar dan cepat gulung tikar juga.

Kini Indonesia punya bisnis latah es kopi yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Menurut Charlotte, banyak sekali orang Indonesia yang takut ketinggalan kekinian atau Fear of Missing Out (FOMO). “Jadi mereka langsung lompat ke ranah yang mereka pikir sudah diedukasikan. Mereka ikut momentum yang sudah dibantu karena viral,” ujarnya.

Ia mengakui, jika membangun usaha dari awal dibutuhkan waktu yang cukup panjang dan harus menembus sasaran pasar produknya. Namun sekarang, banyak orang yang sudah ‘diedukasi’ dengan produk-produk kekinian dari perusahaan lain.

“Jadi yang harus dilihat oleh calon pengusaha itu sebenarnya, mereka harus melihat situasi, apakah produk itu memang sedang hype atau tidak, yang memang sesuatu yang bisa diedukasikan, juga secara rasa dan produk yang sama,” lanjutnya.

Dikatakannya, walau mengikuti bisnis latah karena adanya peluang, tidak serta-merta harus langsung diikuti seutuhnya. Perlu juga dilihat dari hype sisi secara produk, apakah produk tersebut hanya bisa dikonsumsi 1 kali seminggu atau setiap hari.

Selain itu dengan adanya aplikasi seperti dompet digital seperti OVO, GoPay, Dana dan lainnya akan sangat membantu pembelian produk. “Tapi dilihat juga, ini konsumen membeli karena memang senang dengan produknya atau hanya karena iming-iming cashback. Pada saat promosi selesai, secara pemilik toko akan baru tahu siapa konsumen sejati dan apakah produknya diterima dengan baik. Karena sekarang brand loyalty ini belum ada di Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Charlotte melihat jika banyak pebisnis yang ingin cepat mendapat keuntungan tanpa kehilangan momentum. Padahal kini banyak konsumen yang menginginkan sebuah produk yang dapat memberikan value kepada konsumen.

“Contohnya di luar negeri kebanyakan masyarakatnya sudah paham soal makanan yang akan mereka konsumsi. Misalnya menu ikan, ikannya berasal dari mana, cara masaknya gimana. Bernutrisi tidak. Mereka cenderung lebih perduli dengan apa yang mereka makan. Saya berharap di Indonesia juga bisa seperti ini, tidak asal untung,” tukasnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *