Pemuda di Kutai Kartanegara Ubah Tradisi Belimbur Jadi Kericuhan

Pemuda di Kutai Kartanegara Ubah Tradisi Belimbur Jadi Kericuhan

Sejumlah oknum pemuda melempari air dengan wadah plastik kepada pengendara motor yang melewati depan area masjid Sajid, Kampung baru Tenggarong, Kutai Kartanegara

Lempari Pengendara dengan Air, Tradisi Belimbur Berubah Jadi Kericuhan

Konten.co.id – Penutupan Festival Erau di depan masjid Sajid kampung baru Tenggarong Kutai Kartanegara, Minggu (15/9/2019) berubah jadi arena kericuhan.

Saat tradisi Belimbur atau tradisi membasahkan diri beberapa oknum pemuda justru melakukan tindakan anarkis dengan melempari pengendara motor dengan air didalam plastik.

Seperti dilihat Konten.co.id dalam akun instagram Yuni Rusmini, Senin (16/9/2019). “Minggu 15 September 2019, Acara penutupan adat Belimbur di nodai oknum aksi kekerasan di depan masjid Sajid kampung baru Tenggarong Kutai Kartanegara. noted tolong ditindak lanjut pak polisi ini sangat membahayakan keselamatan pengendara , aplgi di depan anak” ada arogansi seperti itu”

Pada tayangan video tersebut oknum tersebut melempar pengendara motor dengan air dalam plastik. Bahkan ada salah satu pengendara yang membonceng anaknya terlihat emosi dan terlibat perkelahian dengan salah satu pemuda.

Hal ini pun mendapat respon netizen. Seperti dari akun yahuuimam.

“Adat atau budaya atau acara, ya bs santuy, siram ya siram aja, bukan ngelempar kek org emosi. Itu mah ngajak berantem, pesta air di komplek biasa jg, ga gt2 amat ga bar bar, di Thailand jg ga lempar2 jg tp semprot, itu mah ngajak berantem”

“kumpulan orang gak punya otak.. adat budaya yg aneh” kata pemilik akun wandekthebastard.

Sementara Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah menyayangkan hal tersebut. Ia ingin seluruh masyarakat menjaga momen ini sebagai ajang penyucian diri sesuai makna inti dari prosesi belimbur.

“Mari sama-sama jaga tradisi turun temurun ini dengan melakukan siram-siraman yang baik dan jangan melukai secara fisik maupun batin,” kata Edi.

“Siram-siraman sewajarnya, gunakan air bersih, tidak boleh melempar dan mari maknai prosesi ini untuk menyucikan diri, jangan nodai adat budaya yang kita banggakan dan cintai ini,” tutup Edi.

Belimbur sendiri merupakan tradisi saling menyiramkan air kepada sesama anggota masyarakat yang merupakan bagian dari ritual penutup Festival Erau. Festival Erau diawali dengan rombongan Keraton yang mengantarkan Naga Bini dan Naga Laki ke Kutai Lama secara berbarengan, untuk diadakan serangkaian ritual lainnya di depan Keraton Kutai.

Rangkaian ritual ini dimulai dengan beumban, begorok, rangga titi, dan berakhir dengan belimbur yang tidak hanya menjadi ritual terakhir dari rangkaian ini, tetapi juga menjadi puncak rangkaian.

Dalam ritual ini, masyarakat Kutai larut dalam suka cita dan keceriaan sambil berbasah-basahan. Setiap sudut jalan di Kutai pada sore itu basah dengan siraman air dari berbagai lapisan masyarakat.

Tradisi tersebut dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas kelancaran pelaksanaan Erau, sekaligus belimbur juga memiliki maksud filosofis sebagai sarana pembersihan diri dari sifat buruk dan unsur kejahatan, di mana air yang menjadi sumber kehidupan dipercaya sebagai media untuk melunturkan sifat buruk manusia.

Belimbur dilakukan setelah upacara rangga titi berakhir yang dimulai dengan dipercikkannya air tuli (air yang diambil dari Kutai Lama) oleh Sultan kepada para hadirin.

Selanjutnya, masyarakat saling menyiramkan air kepada sesamanya. Ritual ini terbuka untuk masyarakat umum, kecuali orangtua yang membawa anak di bawah umur serta para lansia. (*)

Penulis : AIK

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *