KPK Jadi Lapak Pertarungan Politik Kepentingan

KPK Jadi Lapak Pertarungan Politik Kepentingan

Cicak Vs Kodok mengingatkan kita tentang Cicak Vs Buaya antara KPK Vs Polri. Kini diperkirakan akan terjadi lagi, antara KPK Vs Kabinet. Hal ini karena KPK berada di jurang pertarungan politik kepentingan

Konflik Cicak Vs Kodok Karena KPK Jadi Lapak Pertarungan Politik Kepentingan

Konten.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini dinilai tidak bersih lagi. Bahkan KPK kini menjadi lahan pertarungan dan pertaruhan politik kepentingan di Indonesia.

Berawal dari adanya skenario presiden akan mengangkat Irjen (Pol) Firli Bahuri yang dipilih menjadi ketua KPK untuk menjadi Kapolri menggantikan Tito Karnavian. Setelah semua tugasnya di KPK selesai.

Rebutan dalam lapak pada KPK di indonesia, antara kolaborasi ICW dan TEMPO vs Polri. Dari soal buku merah hingga sprindik status tersangka seorang menteri yang bocor KPK memang sudah kotor dari awalnya menjadi pertarungan lapak kepentingan.

Soal bocornya sprindik status menteri jokowi memang sudah bocor sejak lama. Bahkan akun @doradong sudah mengetahui hal tersebut sejak 3 Juli 2019.

“Diluar kebobrokan soal bocornya data di KPK, juga terkait tebang pilih berdasarkan kepentingan dikasus RJ Lino dan anehnya diback up oleh ICW dan Tempo,” cuitnya.

“Anomali pemberantasan Korupsi di indonesia ketika para garong menjadi “bidan” KPK tentu akan dicaricara bagaimana pemberantasan korupsi menyesuaikan lingkar perut kepentingan para garong” cuitnya lagi.

Lalu kita pikirkan bagaimana kalau dewan pengawas KPK adalah manusia bermuka dua yang menjadi pihak yang diminta ijin penyadapan sekaligus dilain pihak menjadi pembocor rencana penyadapan.

Dulu ada cicak vs buaya untuk menggambarkan konflik KPK vs Polri, namun kini ada cicak vs kodok untuk KPK vs kabinet Jokowi. Percuma saja KPK disebut superbody kalau kalah dengan pemerintah.

Berebut kepentingan juga mulai dilakukan oleh para buzzer KPK.seperti ICW, Tempo dan yang lainnya. Tidak lupa ada buzzer koalisi pemerintah Jokowi.

Akibat KPK dijadikan lapak kepentingan membuat KPK bak monster superbody yang tidak boleh dikritik padahal tebang pilih.

Lalu jika melihat Cicak (kadal) vs Kodok (cebong) siapa yang akan menang? Politisi dari koalisi pemerintah Jokowi yang tersandera kasus korupsi tapi belum ditetapkan statusnya tidurnya mulai tidak tenang mencari akses untuk Jokowi mengkaji ulang dewan pengawas dan sebagainya.

Monster itu bernama KPK. Busuknya KPK adalah sprindik dua menteri sudah ditandatangi sejak lama baru dikeluarkan untuk jadi senjata pesan politik bersyarat kepada koalisi pmerintah Jokowi akibat lapak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan medianya terganggu.

“Pembenci KPK disebut pendukung koruptor” apa tidak melihat bagaimana situasi penanganan korupsi sendiri seperti apa? Contohnya yang melibatkan ipar jokowi, tebang pilih kasus E-KTP, pembiaran tersangka RJ Lino karena ada orang kuat. Justru KPK yang jadi pengkhianat pemberantasan korupsi

“Kami mendukung pemberantasan korupsi tanpa syarat (zero tolerance) Sekarang ketua KPK adalah dari korps yang sama yang mengusulkan korupsi kecil tidak dipidana KPK itu ibarat senjata, tinggal kini ditangan siapa senjata itu,”. (*)

Penulis : AIK

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *